JAKARTA, KOMPAS.com - Indonesia mengajukan diri menjadi mediator menyusul memanasnya konflik di Timur Tengah usai Israel dan Amerika Serikat (AS) menyerang Iran sejak akhir pekan lalu.
Tujuannya guna memulihkan kondisi keamanan yang kondusif.
Jika disetujui oleh kedua belah pihak, Presiden Indonesia siap untuk melakukan perjalanan ke Teheran, Iran, untuk melaksanakan mediasi.
Lantas, bagaimana peluangnya?
Belum ada keputusan tegas
Hingga kini, belum ada keputusan tegas dari dua kubu yang berkonflik, yakni Israel-Amerika Serikat dan Iran usai tawaran diberikan.
Baca juga: Gelombang Desakan agar Indonesia Hengkang dari Board of Peace Usai Serangan AS-Israel ke Iran
Menteri Luar Negeri (Menlu) Sugiono mengatakan, Iran dan AS masih ingin melihat situasi beberapa waktu ke depan.
Kepastian ini didapatnya setelah menjalin komunikasi dengan kedua belah pihak setelah Prabowo menyatakan bersedia menjadi mediator.
Oleh karenanya, Indonesia masih menunggu keputusan dua kubu yang berkonflik lebih lanjut.
"Kita tunggu, bagaimana nanti karena mereka mengatakan ya kita lihat dalam beberapa hari, beberapa minggu ke depan ini situasinya," kata Sugiono di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Selasa (3/3/2026) malam.
Sejatinya, Duta Besar Republik Islam Iran untuk Indonesia, Mohammad Boroujerdi, sebelumnya sudah menyatakan, Iran berpandangan bahwa sampai saat ini tidak ada mediasi atau perundingan yang berdampak secara signifikan.
Kendati demikian, ia tetap menghargai upaya Indonesia yang bersedia menjadi mediator.
Baca juga: Sederet Catatan Usai Indonesia Ingin Jadi Juru Damai Iran vs Israel-AS
Boroujerdi mengucapkan terima kasih dan mengapresiasi Pemerintah Indonesia yang telah bersedia memfasilitasi usai serangan tersebut.
“Kami meyakini bahwa saat ini tidak ada negosiasi dan perundingan apa pun dengan pemerintah Amerika yang akan berguna, karena mereka tidak terikat dan tidak patuh pada hasil apa pun,” kata Boroujerdi dalam jumpa pers di Menteng, Jakarta Pusat, Senin (2/3/2026) lalu.
Butuh diterima dua kubu
Sugiono tidak memungkiri, tawaran Prabowo untuk menjadi mediator itu perlu kesediaan Iran dan AS untuk dapat hadir bersama.