Aksi ratusan mahasiswa di Kabupaten Lebak sempat memicu spekulasi terkait absennya Bupati Lebak dalam unjuk rasa yang digelar pada Senin (2/3/2026). Isu tersebut berkembang di tengah ketegangan di lokasi aksi, sebelum akhirnya pemerintah daerah memberikan klarifikasi resmi.
Pemerintah Kabupaten Lebak menegaskan Bupati tidak pernah berniat mangkir dari aksi mahasiswa. Pelaksana Tugas Sekretaris Daerah (Plt Sekda) Lebak, Halson Nainggolan, menyatakan Bupati telah bersiap menerima massa aksi sesuai jadwal yang tercantum dalam surat pemberitahuan.
"Sebenarnya pada hari itu pak Bupati telah menunggu kehadiran aliansi mahasiswa sejak pukul 08.00 WIB, sebagaimana surat pemberitahuan mereka ke polres, bahwa aksi dilaksanakan Senin, 2 Maret 2026 pukul 08.00 WIB," ujar Halson, dalam keterangan tertulis, Rabu (4/3/2026).
Namun, hingga siang hari massa aksi belum juga hadir di lokasi. Karena memiliki agenda kedinasan lain yang bersifat mendesak, Bupati meninggalkan tempat setelah pukul 13.00 WIB untuk menjalankan tugas berikutnya. Sementara itu, massa aksi baru tiba di Pendopo Bupati sekitar pukul 13.30 WIB, saat Bupati sudah harus menghadiri agenda lain.
Sebagai bentuk itikad baik dan penghormatan terhadap nilai-nilai demokrasi, Bupati tetap menugaskan Wakil Bupati untuk menemui mahasiswa pada sore hari. Bahkan, terungkap bahwa sebelumnya Bupati telah menginstruksikan pemasangan tenda di lokasi aksi guna mengantisipasi hujan dan memberikan kenyamanan bagi mahasiswa.
Meski sempat terjadi ketegangan akibat miskomunikasi terkait jadwal, Bupati Lebak akhirnya menerima delegasi mahasiswa secara langsung pada malam hari sekitar pukul 20.30 WIB. Pertemuan tersebut berlangsung konstruktif dan menghasilkan sejumlah solusi konkret.
Kedua belah pihak sepakat membentuk Forum Kolektif untuk Solusi (Fokus). Forum ini akan menjadi wadah evaluasi berkala terhadap program pemerintah dan direncanakan digelar dua kali dalam tiga bulan.
Ketua Koordinator Kumala, Rohimin, yang turut hadir dalam pertemuan tersebut, mengapresiasi langkah Bupati. Ia menyampaikan bahwa meskipun sempat muncul kekecewaan di awal, penjelasan Bupati serta pembentukan Forum Fokus menjadi ruang dialog yang positif dan solutif.
"Yang penting, aksi ini tidak hanya simbolik, tapi membuka jalur solusi nyata bagi masyarakat," tegas Rohimin.
Dengan terbentuknya forum ini, diharapkan komunikasi antara elemen mahasiswa dan Pemerintah Kabupaten Lebak dapat berjalan lebih efektif, terbuka, dan terarah, sehingga ke depan tidak lagi terjadi sumbatan informasi maupun miskomunikasi dalam penyampaian aspirasi.
(akn/ega)





