JAKARTA, KOMPAS.com - Pada jam pulang kerja, kereta rel listrik (KRL) menjadi ruang yang sesak, penuh tubuh yang berdiri berimpitan.
Di ruang sempit itulah, rasa lelah sepulang kerja sering kali bercampur dengan waswas, terutama bagi penumpang perempuan. Pasalnya, pelecehan seksual di KRL terjadi bukan sekali dua kali saja.
Bagi Aisyah (25), pekerja kantoran yang setiap hari pulang-pergi ke Sudirman menggunakan KRL, perjalanan sore bukan sekadar rutinitas. Ia mengaku selalu siaga.
“Saya sebenarnya sudah sering dengar kabar pelecehan di KRL, dan rasanya memang kasusnya cukup banyak. Kadang di jam pulang kerja, kereta penuh banget, dan itu bikin kita sebagai penumpang perempuan merasa nggak nyaman,” ujar Aisyah kepada Kompas.com saat ditemui di Stasiun Sudirman, Selasa (3/3/3036).
Selama lima hari dalam sepekan, Aisyah memilih gerbong khusus perempuan. Namun pilihan itu tak selalu tersedia. Saat gerbong tersebut penuh, ia terpaksa masuk ke gerbong campuran.
“Kalau gerbong khusus perempuan penuh, kadang terpaksa masuk ke gerbong biasa. Teman saya pernah mengalami situasi tidak menyenangkan di gerbong umum. Sejak itu kami jadi lebih berhati-hati,” kata dia.
Aisyah mengaku kini lebih sering menghindari jam ramai jika memungkinkan. Ia juga berusaha tidak berdiri terlalu dekat dengan orang yang tidak dikenal.
“Tapi kan nggak selamanya kita bisa menghindar. Kita butuh rasa aman, bukan cuma perlindungan pasif,” ujar Aisyah.
“Ruang aman itu bukan cuma soal tempat duduk, tapi soal rasa hormat,” lanjutnya.
Kemarahan serupa juga disuarakan Fadilla (29). Ia mengaku geram setiap mendengar kabar pelecehan di KRL.
“Saya marah banget kalau dengar ada yang melakukan pelecehan di KRL. Kenapa harus di kereta, di tempat umum, melakukan hal yang nggak senonoh? Kayak nggak ada tempat lain aja buat pelaku itu,” kata Fadilla saat ditemui di Stasiun Manggarai.
Menurutnya, korban sering kali adalah perempuan yang baru saja menjalani hari panjang dan melelahkan.
“Bayangin, korban itu kadang pulang kerja capek banget. Hidup mereka penuh tekanan, tapi malah harus menghadapi kelakuan kurang ajar pelaku yang cuma mikirin kepuasan diri sendiri,” ujar dia.
Padahal, ketika terjadi pelecehan, perempuan biasanya dianjurkan pindah ke gerbong khusus, menghindari jam sibuk, atau lebih waspada.
“Saya setuju kalau gerbong khusus perempuan ditambah, tapi seharusnya ruang aman bagi perempuan nggak harus berarti kita yang selalu mengalah," tutur Fadilla.
"Kenapa laki-laki nggak bisa menahan diri dan menghormati ruang orang lain? Rasanya nggak adil kalau perempuan yang harus ekstra hati-hati, padahal yang salah itu pelakunya,” lanjutnya.
Baginya, ruang aman bukan hanya soal tempat duduk atau sekat fisik, melainkan soal rasa hormat dan kesadaran seluruh penumpang.
TraumaTrauma nyata dirasakan Ani (bukan nama sebenarnya) (27). Pada Desember 2025, sekitar pukul 18.40 WIB, ia menaiki KRL dari arah Gondangdia menuju Bogor. Gerbong khusus perempuan saat itu penuh.
“Saya udah lima tahun hampir tiap hari naik KRL, jadi biasa desek-desekan. Waktu itu ya sudah naik saja, yang penting cepat sampai rumah,” tutur Ani saat dihubungi melalui telepon.




