Intip Analisa IHSG di tengah Konflik AS-Iran dan Revisi Outlook Fitch Ratings

idxchannel.com
1 jam lalu
Cover Berita

IHSG mengalami koreksi tajam pada perdagangan hari ini. IHSG sempat menembus 7.500 dan berakhir di level 7.577 atau turun 4,57 persen.

Intip Analisa IHSG di tengah Konflik AS-Iran dan Revisi Outlook Fitch Ratings. (Foto: iNews Media Group)

IDXChannel – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami koreksi tajam pada perdagangan hari ini. IHSG sempat menembus 7.500 dan berakhir di level 7.577 atau turun 4,57 persen.

Melemahnya IHSG tak bisa dilepaskan dari akumulasi tekanan global dan domestik yang datang bersamaan. Mulai dari tensi konflik Amerika Serikat-Israel dan Iran yang berakibat inflasi harga minyak sampai sentimen pasar setelah adanya revisi outlook dari Fitch Ratings.

Baca Juga:
IHSG Ditutup Melemah 4,6 Persen, Tersengat Sentimen Perang Iran-Israel

Pengamat pasar modal sekaligus Founder Republik Investor, Hendra Wardana menekankan, setiap kenaikan harga minyak bukan hanya berdampak pada inflasi, tetapi juga berpotensi memperlebar beban subsidi dan tekanan terhadap APBN karema Indonesia sebagai negara importir minyak.

"Ketika pasar melihat risiko fiskal meningkat, sentimen menjadi cepat berubah ke arah defensif," kata Hendra kepada IDX Channel, Rabu (4/3/2026).

Baca Juga:
IHSG Melemah Bareng Bursa Asia, BEI Sebut Gara-Gara Gejolak di Timur Tengah

Hendra memproyeksi arah IHSG hingga akhir Maret sangat ditentukan oleh dua variabel utama, yaitu harga minyak dan stabilitas rupiah. Selama Brent bertahan di bawah USD90 per barel, tekanan kemungkinan masih sebatas volatilitas jangka pendek.

Seturut itu, Hendra mengatakan, jika harga minyak mendekati USD100 dan disertai gangguan distribusi fisik di Selat Hormuz, pasar bisa memasuki fase risk off yang lebih dalam. Secara teknikal, area 7.500–7.600 menjadi zona penopang psikologis penting.

Baca Juga:
IHSG Sesi I Anjlok 4,32 Persen ke 7.596, Sektor Bahan Baku Turun Tajam

"Jika ketegangan mereda dan rupiah stabil, IHSG berpeluang rebound bertahap ke kisaran 7.900–8.100 pada akhir Maret. Sebaliknya, jika eskalasi konflik meluas dan tekanan fiskal meningkat, indeks masih berisiko menguji kembali area 7.400," tutur Hendra.

Di sisi lain, tekanan pada bursa Indonesia semakin bertambah setelah lembaga pemeringkat global Fitch Ratings menurunkan outlook Indonesia dari stabil menjadi negatif, meskipun peringkat kredit tetap di level investment grade BBB. 

Hendra menilai soal perubahan outlook ini memang bukan penurunan rating, namun pasar membaca langkah tersebut sebagai sinyal meningkatnya risiko ke depan, terutama terkait ketahanan fiskal dan stabilitas kebijakan.

"Dalam kondisi global yang sudah diliputi ketegangan geopolitik dan kenaikan harga energi, perubahan outlook ini menjadi sentimen tambahan yang mempercepat aksi jual, khususnya dari investor asing yang sensitif terhadap risiko makro," ujarnya.

Dengan parameter di atas, Hendra menegaskan koreksi IHSG bukan hanya soal perang atau harga minyak semata. Sebab, ada faktor teknikal berupa aksi ambil untung setelah reli panjang sejak awal tahun, pelemahan rupiah akibat capital outflow jangka pendek, serta kekhawatiran bahwa lonjakan inflasi energi dapat membatasi ruang pelonggaran suku bunga. 

"Kombinasi sentimen eksternal dan domestik inilah yang membuat tekanan pasar terasa lebih dalam dan berlangsung cepat dalam waktu singkat," kata Hendra.

(Febrina Ratna Iskana)


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Pramono Akan Tindak ASN yang Langgar Naik Transportasi Umum Tiap Rabu
• 5 jam laluokezone.com
thumb
Gelombang Desakan agar Indonesia Hengkang dari Board of Peace Usai Serangan AS-Israel ke Iran
• 10 jam lalukompas.com
thumb
Hari Kelima Perang, Iran Luncurkan 40 Rudal ke AS-Israel
• 4 jam laludetik.com
thumb
Israel Ingin Perluas Perang ke Iran,100.000 Pasukan Cadangan Dikerahkan untuk Pertempuran Ofensif
• 15 jam laluviva.co.id
thumb
Perayaan Cap Go Meh di Solo Diharapkan Jadi Momen Perkuat Persatuan dan Kesatuan
• 10 jam lalumetrotvnews.com
Berhasil disimpan.