Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menggelar Seminar Hasil Riset Dampak, Efektivitas dan Arah Kebijakan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Gedung BJ Habibie BRIN, Jakarta Pusat, Rabu (4/3).
BRIN memaparkan, hasil kajian yang menyebut program MBG memberikan dampak makroekonomi positif dengan peningkatan Produk Domestik Bruto (PDB) mencapai Rp 14,5 hingga Rp 26,8 triliun.
Ketua Tim Peneliti Program MBG BRIN, Iwan Hermawan, mengatakan simulasi yang dilakukan timnya menunjukkan dampak signifikan terhadap perekonomian nasional.
“Program MBG memberikan dampak makroekonomi yang positif dan terukur jadi simulasinya menunjukkan peningkatan tambahan PDB itu sebesar Rp 14,5 sampai Rp 26 triliun disertai dengan kenaikan konsumsi agregat hingga 0,9% dan investasi 0,24%,” papar Iwan.
Ia menjelaskan, kanal utama yang mendorong kenaikan PDB itu berasal dari sisi permintaan agregat, khususnya konsumsi.
"Kemudian yang kedua adalah temuan dari yang terlihat di depan ini adalah kanal utama yang mendorong PDB itu adalah sisi permintaan agregat," katanya.
Menurutnya, karena MBG menyasar kebutuhan konsumsi, maka ketika dikalkulasikan secara agregat akan berdampak pada konsumsi nasional dan berujung pada pertumbuhan ekonomi.
“Kita juga tahu permintaan agregat itu atau konsumsi agregat itu porsinya 50% lebih di komposisi PDB. Jadi kalau itu sedikit saja naik itu PDB kita akan naik lebih tinggi lagi,” katanya.
Meski demikian, Iwan mengakui ada efek lanjutan yang juga perlu diperhatikan, seperti inflasi dan peningkatan impor.
“Jadi ketika MBG itu mulai dijalankan kemudian permintaan bahan baku meningkat di daerah dan itu akan mendorong inflasi. Jadi demand-nya mendorong inflasi karena permintaan dari bahan bakunya meningkat,” jelasnya.
Namun, ia menegaskan, tekanan inflasi tersebut masih dalam batas wajar.
“Kalau kami diagnosa kurang lebih inflasinya masih di bawah 0,5% dan itu artinya variasi inflasinya masih di bawah variasi inflasi tahunan. Jadi memang meningkat tapi masih bisa ditoleransi begitu,” lanjutnya.
Selain PDB, riset BRIN juga mencatat dampak pada penyerapan tenaga kerja. MBG diproyeksikan menambah sekitar 0,19% tenaga kerja atau sekitar 183 ribu orang.
“Dampak ekonomi itu menjalar dari hulu ke hilir terutama di sektor pangan, pertanian dan juga ketenagakerjaan penyerapan tenaga kerja,” kata Iwan.





