PT Bank SMBC Indonesia Tbk (BTPN) mencatat penyaluran kredit Rp 185,4 triliun pada akhir 2025 atau tumbuh 3,3 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu (year on year/yoy). Pertumbuhan ini didorong oleh sejumlah segmen, utamanya korporasi dan komersial yang meningkat 6,5 persen yoy dan realisasi kredit Jenius di luar Digital Micro yang tumbuh 11,3 persen yoy.
Realisasi penyaluran kredit konsolidasi sepanjang 2025 juga ditopang oleh struktur pendanaan yang semakin efisien, dengan nilai pendanaan berbasis dana murah (CASA) yang naik 16,7 persen yoy menjadi Rp 53,2 triliun dan rasio CASA yang tumbuh menjadi 40,6 persen. Secara konsolidasi, total Dana Pihak Ketiga (DPK) SMBC Indonesia tumbuh 8,0 persen yoy menjadi Rp 131,0 triliun pada akhir tahun lalu untuk menopang kebutuhan pendanaan tahun 2025.
“Kinerja konsolidasi SMBC Indonesia periode 2025 mencerminkan strategi kami yang berfokus pada fundamental bisnis yang didasari oleh tata kelola yang baik,” ujar Direktur Utama SMBC Indonesia, Henoch Munandar, dalam keterbukaan informasi, Rabu (4/3).
Per akhir Desember 2025, total aset SMBC Indonesia secara konsolidasi mencapai Rp 245,9 triliun, tumbuh 2,0 persen yoy.
Adapun rasio likuiditas dan pendanaan di tingkat yang sehat, dengan liquidity coverage ratio (LCR) mencapai 229,4 persen dan net stable funding ratio (NSFR) 123,0 persen per 31 Desember 2025. Kedua rasio tersebut juga merefleksikan upaya SMBC Indonesia dalam menerapkan prinsip kehati-hatian untuk menjaga likuiditas dan permodalan tetap kuat.
Rasio kecukupan modal (capital adequacy ratio/CAR) konsolidasi tercatat di angka 29,3 persen pada akhir tahun 2025. Angka CAR tersebut di atas rata-rata industri 25,9 persen dan menunjukkan ruang untuk lebih mengembangkan bisnis dan melayani lebih banyak nasabah di berbagai segmen ke depannya.
Bank SMBC Indonesia mencatatkan gross non-performing loan ratio secara konsolidasi berada di level 2,6 persen pada akhir Desember 2025, sedikit membaik dibandingkan 2,8 persen pada akhir September 2025.
Pendapatan operasional konsolidasi SMBC Indonesia sebesar Rp 18,4 triliun, meningkat 5,8 persen yoy. Pendapatan bunga bersih tumbuh 4,6 persen yoy, dengan margin bunga bersih (net interest margin/NIM) terjaga di level 7,0 persen di tengah suku bunga kredit yang kompetitif, kenaikan biaya pendanaan, dan volatilitas pasar yang terus berjalan.
Secara konsolidasi, SMBC Indonesia memperkuat pencadangan kerugian penurunan nilai (CKPN), terutama di anak perusahaan, yaitu Grup OTO. SMBC Indonesia menilai pencadangan tersebut merupakan respons yang bijaksana terhadap dinamika ekonomi pada tahun 2025, serta upaya perusahaan induk konglomerasi keuangan (PIKK) dalam menerapkan prinsip kehati-hatian dan
“Kenaikan CKPN secara konsolidasi merupakan upaya kita sebagai PIKK untuk senantiasa meningkatkan standar penerapan tata kelola perusahaan yang baik, serta menjaga kualitas aset dan ketahanan bank. Dengan demikian, laba bersih konsolidasi SMBC Indonesia yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk yang tercatat sebesar Rp506 miliar untuk tahun 2025,” jelas Henoch.
“Selain itu, SMBC Indonesia sebagai bank saja membukukan laba bersih setelah pajak sebesar Rp 1,5 triliun sepanjang 2025. Sementara, anak usaha kami, yaitu BTPN Syariah (PT Bank BTPN Syariah Tbk), mencatatkan laba bersih konsolidasi sebesar Rp 1,20 triliun pada tahun 2025, tumbuh 13,2 persen yoy, dengan penyaluran pembiayaan mencapai Rp 10,3 triliun, tumbuh 2 persen yoy,” tambah Henoch.





