JAKARTA, KOMPAS.com - Peneliti senior LAB 45, Andi Widjajanto, menilai arah diplomasi Indonesia akan sangat menentukan di tengah konflik Amerika Serikat versus Iran yang kian memanas.
Dalam Podcast Gaspol!, Rabu (4/3/2026), Andi menilai langkah Prabowo Subianto yang menyatakan kesiapan menjadi mediator merupakan sinyal positif.
Namun, ia menekankan bahwa peran tersebut harus disertai strategi yang jelas.
“Prabowo sudah menyatakan akan bersedia menjadi juru damai disana kalau benar-benar akan melakukan itu dicari leverage-nya. Untuk mencari juru damai itu nggak butuh kok status negara besar,” kata Andi.
Baca juga: UII Keluarkan 6 Pernyataan Sikap, Desak Pemerintah Keluar dari BoP hingga Batalkan Perjanjian dengan AS
Menurut Andi, menjadi mediator tidak mensyaratkan status sebagai negara adidaya. Yang dibutuhkan adalah daya pengaruh atau leverage, modal diplomatik, posisi tawar, serta jaringan komunikasi yang efektif dengan para pihak yang berkonflik.
Ia kemudian mengaitkan peluang itu dengan posisi Indonesia dalam Board of Peace (BoP). Forum tersebut, menurutnya, dapat menjadi instrumen diplomasi tambahan untuk meredam eskalasi.
Sehingga BoP bisa dimanfaatkan sebagai kanal klarifikasi dan konsolidasi bersama, terutama jika terdapat langkah sepihak yang berpotensi memperkeruh situasi.
“Apakah kemudian Presiden Prabowo bisa meminta pada rapat Board of Peace khusus kepada dua negara pendiri BoP, Amerika Serikat dan Israel melakukan serangan pada negara berdaulat tanpa kemudian memberi tahukan anggota BoP yang lain, itu bisa dipergunakan ya minimal untuk meminta klarifikasi penjelasan,” katanya.
Baca juga: Menlu Ungkap Pembicaraan di BoP Dihentikan Sementara Usai AS-Israel Serang Iran
Di luar jalur diplomasi, Andi juga mengingatkan potensi konflik yang melebar. Ia khawatir eskalasi di Timur Tengah dapat menjalar hingga kawasan Asia Pasifik apabila kekuatan besar lain ikut terlibat.
Jika Cina dan Rusia masuk ke pusaran konflik Iran, risiko perang global menurutnya bukan lagi sekadar spekulasi.
“Wah itu saya berharap banget bahwa Cina dan Rusia gak bisa masuk ke masalah Iran, itu yang saya sebut sebagai circuit breaker sekring ya. Nah itu sekring yang harus putus kalau ini tidak putus dia akan perang dunia ketiga,” ujarnya.
Baca juga: Hikmahanto: Keanggotaan RI di BoP Perlu Ratifikasi DPR, Semoga Ditolak
Pernyataan tersebut menegaskan bahwa keterlibatan kekuatan besar bisa menjadi titik balik berbahaya.
Selama “sekring” itu tidak tersambung, eskalasi masih mungkin dibatasi.
Lalu sejauh mana Indonesia di bawah kepemimpinan Prabowo mampu memainkan peran sebagai mediator di tengah dunia yang kian panas?
Simak analisis lengkapnya dalam Podcast Gaspol yang tayang malam ini pukul 20.00 WIB hanya di YouTube Kompas.com.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang




