Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengeluhkan hubungan historis antara negaranya dan Inggris, yang disebutnya 'tak seperti dulu lagi'. Guru Besar Ilmu Hubungan Internasional FISIP Universitas Indonesia (UI), Fredy Buhama Lumban Tobing, menilai keluhan Trump mencerminkan pergeseran kepentingan nasional Inggris dan negara-negara Eropa lainnya.
"Negara-negara Uni Eropa termasuk Inggris sejak lama memang cenderung memperlihatkan sikapnya, kebijakan luar negerinya yang berbeda dengan AS," kata Fredy kepada wartawan, Kamis (5/3/2026).
Fredy menjelaskan, sejak lama Inggris dan negara-negara Uni Eropa lainnya memiliki kebijakan luar negeri yang tak selalu selaras dengan AS. Perbedaan ini, kata dia, terutama muncul karena latar belakang historis masing-masing negara dan kepentingan nasionalnya.
"Khususnya dalam menghadapi dinamika perkembangan isu-isu global di kawanan Timur Tengah dan Teluk Persia. Negara-negara Eropa seperti Inggris memiliki hubungan historis yang panjang dengan negara-negara di kawanan ini khususnya dalam pengelolaan konsesi tambang minyak," jelasnya.
Menurutnya, ambisi AS di kawasan Timur Tengah dan Teluk Persia sering kali mengganggu kepentingan nasional negara-negara Eropa. Hal ini terutama terkait kontrak-kontrak konsesi minyak yang selama ini dikuasai Inggris dan Prancis.
"Ambisi dan kebijakan AS di kawasan Timur Tengah dan Teluk Persia makin hari makin mengkhawatirkan kepentingan negara-negara Eropa terutama Inggris dan Prancis, karena harus kehilangan kontrak-kontrak konsesi minyak bumi yang selama ini mereka kuasai, karena keterikatannya dengan persekutuannya dengan AS," ungkapnya.
"Oleh karenanya lama-kelamaan ambisi AS di Timur Tengah dan Teluk Parsi makin memberatkan kepentingan nasional negara-negara Eropa. Tidak terlalu mengherankan kalau pihak Inggris dalam hal ini tidak lagi sepenuhnya mengikuti semua keinginan dan ambisi di Timur Tengah dan Teluk Persia," imbuh dia.
(amw/jbr)





