Penutupan Selat Hormuz Ancam Logistik Global, Harga Elektronik Berisiko Naik

bisnis.com
7 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, JAKARTA — Asosiasi Pengusaha Komoditi Elektronik (Apkonik) menilai eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran, serta potensi gangguan di Selat Hormuz, perlu dicermati serius oleh pelaku industri elektronik di Indonesia.

Ketua Umum Apkonik Deny Irawan mengatakan kondisi tersebut berpotensi mendorong kenaikan harga perangkat teknologi. Namun, dampaknya tidak terjadi secara serta-merta dan bergantung pada sejumlah faktor kunci, terutama kenaikan biaya logistik global.

“Selat Hormuz adalah jalur vital distribusi energi [khususnya minyak dan gas],” kata Deny kepada Bisnis, Rabu (4/3/2026).

Dia menjelaskan, apabila kapal harus memutar rute akibat penutupan Selat Hormuz, biaya bahan bakar akan meningkat, waktu pengiriman menjadi lebih lama, serta premi asuransi kapal naik.

Konsekuensinya, lanjut dia, biaya freight global ikut meningkat. Deny menambahkan, industri elektronik sangat sensitif terhadap kenaikan biaya logistik karena margin yang relatif tipis, volume impor besar, serta nilai produk yang tinggi.

“Jika biaya pengiriman naik signifikan dan berlangsung lama, importir berpotensi melakukan penyesuaian harga,” katanya.

Baca Juga

  • Iran Ancam Serang Setiap Kapal yang Lintasi Selat Hormuz
  • Donald Trump Beri Asuransi bagi Kapal-Kapal AS yang Lintasi Teluk Persia-Selat Hormuz
  • Selat Hormuz Tertutup, Aramco Jajaki Pengiriman Minyak via Laut Merah

Selain logistik, Deny menyebut gangguan di Selat Hormuz biasanya turut mendorong kenaikan harga minyak dunia. Kenaikan harga minyak akan berdampak pada meningkatnya ongkos produksi karena energi dan bahan baku berbasis petrokimia menjadi lebih mahal. Pada saat yang sama, ongkos distribusi domestik ikut naik sehingga menimbulkan efek ganda terhadap harga perangkat teknologi.

Deny menekankan sebagian besar perangkat teknologi yang masuk ke Indonesia dirakit di Asia Timur seperti Tiongkok, Korea Selatan, dan Vietnam, sementara komponennya berasal dari berbagai negara.

Meski konflik melibatkan Amerika Serikat dan Iran, dia menilai dampak terbesar justru berasal dari disrupsi rantai pasok global serta kenaikan harga energi, bukan semata-mata dari asal negara barang.

Dalam kondisi geopolitik yang memanas, lanjutnya, biasanya terjadi penguatan dolar AS yang memberi tekanan terhadap nilai tukar rupiah.

“Jika rupiah melemah, harga barang impor otomatis naik walaupun harga barang di negara asal tidak berubah,” katanya.

Secara keseluruhan, Deny menegaskan konflik antara Amerika Serikat dan Iran serta potensi gangguan di Selat Hormuz berpotensi mendorong kenaikan harga perangkat teknologi di Indonesia, terutama melalui kenaikan biaya logistik global, lonjakan harga energi, pelemahan rupiah, dan gangguan rantai pasok.

“Namun besarnya kenaikan sangat tergantung pada durasi dan eskalasi konflik,” ungkapnya.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Curhat Prabowo ke SBY, JK, sampai Jokowi soal Konflik AS-Israel dengan Iran
• 21 jam laluliputan6.com
thumb
BI Kepri gaungkan ekosistem keuangan syariah lewat Kurma 2026
• 41 menit laluantaranews.com
thumb
Kenali Yuk! Ini Bedanya Godin dan Mokel, Istilah Batal Puasa Diam-diam yang Masuk KBBI
• 19 jam lalumedcom.id
thumb
Hari Kelima Perang, Iran Luncurkan 40 Rudal ke AS-Israel
• 11 jam laludetik.com
thumb
Liverpool Sudah Bikin Keputusan Soal Alisson yang Digoda Juventus setelah Kembali Blunder saat Kalah dari Tim Juru Kunci
• 5 jam laluharianfajar
Berhasil disimpan.