Deradikalisasi Eks Napi Teroris: Dulu Angkat Senjata, Kini Angkat Cangkul

kompas.com
2 jam lalu
Cover Berita

JAKARTA, KOMPAS.com - Setelah angkat senjata, kini mereka angkat cangkul dan sawit. Tapi bukan untuk tujuan yang sama, melainkan untuk tujuan kesejahteraan bersama.

Hal ini yang dirasakan sejumlah mantan narapidana terorisme di Subang, Jawa Barat.

Kisah ini diceritakan oleh Kasatgaswil Jabar Densus 88 Anti Teror, Kombes Poil Bogiek Sugiyarto kepada Kompas.com, Rabu (4/3/2026).

"Mereka merupakan individu masa lalu terlibat langsung dalam jaringan dan aksi terorisme, antara lain DS, mantan anggota kelompok Bom Thamrin yang berperan sebagai perakit bahan peledak; FRR," ujar Bogiek.

Baca juga: 5 Eks Napi Teroris Jamaah Islamiah Ikut Upacara HUT RI di Ponpes Ibnu Abbas Kota Malang

Tak hanya DS dan FRR, ada juga pelaku aksi bom mobil di Bandung berinisial RS, dan juga IM, seorang fasilitator penyeberangan warga negara Indonesia dalam kelompok Abu Sayyaf.

Menggandeng pihak swasta di Kabupaten Subang, para mantan teroris ini mulai beraktivitas sebagai petani, tak hanya sebagai individu, juga ikut terlibat alam komunitas masyarakat setempat.

Bogiek mengatakan, mereka tidak lagi dipandang sebagai sosok yang menimbulkan rasa takut, melainkan mulai hadir sebagai bagian dari komunitas yang berkontribusi nyata dalam menjaga ketahanan pangan dan stabilitas sosial.

"Kisah ini menunjukkan bahwa perubahan selalu mungkin terjadi ketika tersedia ruang pembinaan, pendampingan berkelanjutan, serta penerimaan sosial yang konstruktif," imbuhnya.

Baca juga: 4 Napi Teroris Lapas Pasir Putih Nusakambangan Ikrar Setia ke NKRI

Pembangunan identitas baru para eks teroris

Bogiek menjelaskan, melibatkan para mantan teroris langsung sebagai seorang petani ini merupakan salah satu resosialisasi dalam teori yang dikemukakan sosiolog Erving Goffman dalam karya terbitan 1961, "Asylums".

Terjun sebagai petani setelah menjalani deradikalisasi adalah sebuah proses membangun identitas baru melalui penglaman dan lingkungan sosial yang berbeda di masa lalu.

Namun, kata Bogiek, cara baru membangun identitas para eks napiter ini tidak banyak diterapkan di Indonesia.

"Dari 1.397 eks napiter di Indonesia, baru sebagian kecil yang telah dibina dan diberdayakan melalui sektor pertanian. Padahal, pertanian merupakan sektor inklusif yang mampu menyerap tenaga kerja dan memberikan nilai ekonomi berkelanjutan," ucapnya.

Baca juga: 2.285 Eks Napi Terorisme dan 8.140 Eks Jamaah Islamiyah Dilatih Bantu Program Swasembada Pangan

Dalam perspektif ekonomi, Bogiek juga mengutip pendapat Merton (1938) yang menyebut, akses terhadap peluang ekonomi yang legal seperti menjadi seorang petani akan mengurangi tekanan sosial ekonomi.

Hal ini akan berbanding terbalik dengan tindakan ekstrem yang muncul karena adanya himpitan ekonomi dalam pemenuhan kehidupan sehari-hari.

.ads-partner-wrap > div { background: transparent; } #div-gpt-ad-Zone_OSM { position: sticky; position: -webkit-sticky; width:100%; height:100%; display:-webkit-box; display:-ms-flexbox; display:flex; -webkit-box-align:center; -ms-flex-align:center; align-items:center; -webkit-box-pack:center; -ms-flex-pack:center; justify-content:center; top: 100px; }

Kemudian muncul cara deradikalisasi baru, dengan cara memberikan identitas sosial baru dan juga berfokus pada pemberdayaan ekonomi.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
IHSG Tertekan di Tengah Konflik Global, Pengamat Sebut Harga Minyak Jadi Risiko Baru
• 11 jam lalumediaindonesia.com
thumb
Eks Menlu Ungkap Pandangan Prabowo soal Posisi RI di BoP Usai Konflik Iran-AS
• 21 jam lalukumparan.com
thumb
5 Berita Populer: Kesalahan Insanul Fahmi; Febby Rastanty soal Timur Tengah
• 17 jam lalukumparan.com
thumb
Suspensi Dicabut, Saham TAMA Kembali Diperdagangkan
• 14 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
81 Kopdes Merah Putih Terbentuk di Dompu, Sebagian Masih Tahap Penguatan Kelembagaan
• 1 jam lalutvrinews.com
Berhasil disimpan.