Bisnis.com, JAKARTA – Produsen otomotif asal Jepang, PT Honda Prospect Motor (HPM) masih terus memantau perkembangan terkini dari konflik di Timur Tengah dan potensi dampaknya terhadap penjualan mobil nasional pada 2026.
Sales & Marketing and After Sales Director PT Honda Prospect Motor, Yusak Billy mengatakan, sejauh ini konflik antara Iran dengan Israel dan sekutunya, Amerika Serikat (AS) belum terlalu berdampak signifikan terhadap pasar otomotif Indonesia.
"Soal konflik di Timur Tengah, kami masih terus memonitor perkembangannya seperti apa. Sehingga kami masih belum tahu, apakah akan berdampak kepada daya beli masyarakat atau tidak. Namun, saat ini belum ada dampak signifikan," ujar Billy di Jakarta, dikutip Rabu (4/3/2026).
Lebih lanjut, dia mengatakan, sejauh ini pasar otomotif masih menghadapi tantangan, di tengah kondisi melemahnya daya beli masyarakat kalangan kelas menengah (middle income class).
Kondisi tersebut membuat lembaga pembiayaan kian selektif dalam menyalurkan kredit kendaraan, seiring dengan tingginya rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL).
“Daya beli memang melemah, sehingga kami berkolaborasi dengan lembaga pembiayaan agar konsumen, terutama segmen LCGC dan menengah ke bawah, lebih mudah memiliki kendaraan,” jelasnya.
Baca Juga
- Rosan Sebut Perang Iran vs AS-Israel Bisa Jadi Bawa Peluang Investasi ke RI
- Biaya Produksi Tekstil Berisiko Terimbas Konflik Iran, Pengusaha Minta Stimulus
- Bahlil Antisipasi Konflik AS-Iran Tak Ganggu Pasokan Energi, Cadangan BBM Masih 23 Hari
Adapun, potensi gangguan akibat konflik di Timur Tengah tidak hanya terjadi pada aktivitas perdagangan di tingkat regional. Konflik yang semakin luas juga berisiko mengganggu rantai pasok global.
Selain risiko kenaikan harga minyak dunia dan terhambatnya jalur logistik, perang di Timur Tengah itu juga berisiko menimbulkan krisis pasokan chip semikonduktor yang memengaruhi industri otomotif global, termasuk Indonesia.
Terlebih, sepanjang tahun lalu, industri otomotif nasional mencatat penurunan kinerja. Data Gaikindo menunjukkan penjualan mobil wholesales Januari–Desember 2025 turun 7,2% secara tahunan menjadi 803.687 unit. Penjualan ritel juga melemah 6,3% menjadi 833.692 unit.
Di lain sisi, sebagai strategi untuk mendongkrak penjualan, Honda mengumumkan keseriusannya dalam menggarap pasar kendaraan elektrifikasi di Indonesia, seiring dengan rencana peluncuran mobil listrik murni (battery electric vehicle/BEV) dan penyegaran dua mobil hybrid pada 2026.
“Elektrifikasi dilakukan bertahap. Fokus sekarang masih di hybrid, dengan dua model hybrid yang akan dilakukan penyegaran [refreshment], dan satu battery electric vehicle pada 2026,” ujar Billy.
Honda pun memberi sinyal kehadiran mobil listrik berukuran kompak di pasar domestik pada tahun ini. Model tersebut diduga kuat merupakan Honda Super One, yang kerap disebut-sebut sebagai Brio versi listrik untuk Indonesia.
Sementara itu, dari sisi ekspansi dealer, perseroan memastikan 93% wilayah Indonesia sudah terjangkau oleh jaringan dealer Honda, seiring dengan penambahan 13 cabang baru sepanjang 2025-2026.





