Bergesernya Budaya Sinematik

kumparan.com
12 jam lalu
Cover Berita

Pertengahan Januari 2026 kemarin, Matt Damon, salah satu aktor film terkenal Hollywood, menjadi bintang tamu acara podcast ternama, yaitu podcast The Joe Rogan Experience. Lalu, ada satu ucapan Matt yang menarik. Ia berkata, film sekarang harus mengulang plot cerita sebanyak tiga atau empat kali lewat dialog-dialog para tokoh.

Matt beralasan, orang-orang sekarang menonton film sambil bermain ponsel sehingga mereka harus diingatkan berulang kali mengenai plot film yang mereka tonton. Dari pernyataan ini, kita bisa melihat adanya pergeseran budaya sinematik.

Kita semua tahu, dulu untuk menonton film rilisan terbaru, kita harus pergi ke bioskop. Kemudian, ketika suatu film sudah tidak beredar di bioskop, film akan dijual dalam bentuk DVD, sehingga kita bisa membeli DVD tersebut dan memutar filmnya di rumah. Ada pula film yang dibeli hak tayangnya oleh stasiun televisi, sehingga film itu bisa ditonton di televisi.

Yang perlu diperhatikan di sini adalah, dulu, orang menonton film secara bersama-sama, baik itu bersama teman-teman atau keluarga. Jadi nuansa kebersamaannya terasa sangat erat. Orang-orang juga rela menonton film di bioskop berlama-lama sampai hitungan dua jam dengan tingkat konsentrasi tinggi. Dengan begitu, mereka bisa menikmati pengalaman sinematik mereka dengan penuh keseriusan.

Namun sekarang, budaya sinematik berubah mengikuti perkembangan zaman. Dengan serba canggihnya teknologi sekarang, kita sudah punya smartphone atau ponsel pintar, ponsel yang bisa melakukan banyak hal.

Salah satu fitur yang muncul dari smartphone adalah, fasilitas menonton, baik itu menonton video di Youtube, sampai menonton film di layanan streaming. Hebatnya lagi, layanan streaming ini juga bisa diakses di komputer, laptop, hingga tablet, asalkan perangkat-perangkat ini terhubung jaringan internet.

Kemajuan teknologi memberikan kita pilihan. Kita bisa menonton film melalui perangkat-perangkat yang kita miliki tanpa pergi ke bioskop lagi, bahkan kita bisa menontonnya sendiri tanpa ramai-ramai lagi. Namun, kondisi ini ada batasannya. Kita tidak bisa menonton film yang baru rilis (kecuali film itu diproduksi langsung layanan streaming seperti Netflix, Prime Video, hingga Apple TV).

Walaupun ada batasannya, kondisi ini mendorong kita untuk mengubah budaya sinematik. Dengan pilihan yang ada, kita tidak perlu pergi lagi menonton film di bioskop. Jika kita tetap ingin menonton film terbaru, kita hanya perlu menunggu beberapa saat, sampai film-film rilisan terbaru tersedia di layanan streaming. Bahkan lewat layanan streaming, kita bisa menonton film yang rilis bertahun-tahun yang lalu tanpa perlu membeli DVD atau menunggu filmnya tayang di televisi.

Jadi kondisinya terlihat jelas, perubahan budaya sinematik membuat kita bisa menonton film dari rumah. Namun, perubahan ini juga mengubah cara kita menikmati pengalaman sinematik. Di saat kita menonton film melalui perangkat pribadi seperti laptop, kita bisa menonton sambil bermain game hingga bermain media sosial di ponsel. Karena multi-tasking inilah, fokus para penonton menjadi terbagi-bagi. Akibatnya, mereka melewatkan beberapa adegan penting sehingga mereka sering rewind atau memutar adegan film/series yang mereka tonton.

Aksi rewind atau mengulang adegan menunjukkan attention span atau sumbu fokus penonton mulai pendek karena multi-tasking yang mereka kerjakan. Inilah alasan mengapa Matt mengatakan, film harus mengulang penjelasan plot sebanyak tiga atau empat kali lewat dialog-dialog tokoh. Jika plot tidak diulang, maka penonton akan kehilangan jalan ceritanya.

Dampak Perubahan Budaya Sinematik

Mau diakui atau tidak, pengulang plot cerita ini memaksa film berhenti menawarkan struktur cerita yang kompleks. Hal ini bisa dibuktikan oleh pembaca sendiri. Coba tonton ulang film Memento (2000) karya Christoper Nolan, atau film The Matrix (1999) yang dibintangi Keanu Reeves, lalu bandingkan kedua film ini dengan film-film yang rilis beberapa tahun terakhir.

Lewat perbandingan ini, kita akan melihat struktur film kontemporer jauh lebih sederhana dibandingkan dua contoh film di atas, karena film-film sekarang harus menyesuaikan attention span dari penonton yang semakin menurun.

Hal ini terjadi karena pihak pembuat film seperti production-house dan produser harus beradaptasi dengan perubahan budaya sinematik. Jika mereka tidak bisa beradaptasi, maka film yang mereka buat tidak akan laku dan sulit diterima penonton.

Di saat yang bersamaan, apakah perubahan budaya sinematik ini buruk bagi kita sebagai penonton? Jawabannya, tergantung pola pandang kita masing-masing. Namun, karena perubahan budaya, ada kecenderungan film-film yang dibuat sekarang tidak membawa cerita original (film dengan cerita yang dibuat dari nol).

Para produser lebih cenderung membuat film sequel, film remake, atau bahkan film adaptasi dari novel dan komik. Mungkin ini terjadi karena film original membutuhkan fokus berlebih dari penonton untuk mengikuti alur ceritanya. Sedangkan film-film sequel atau film remake tidak membuat penonton fokus berlebihan lagi (karena penonton sudah tahu tokoh, sifat tokoh, dan pola alur film sebelumnya).

Jadi silakan berikan penilaian masing-masing. Apakah berkurangnya film original karena perubahan budaya sinematik ini merugikan penonton?


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Meski Kalahkan Banyak Jawara UFC, Alex Pereira Masih Diremehkan Pendatang Baru: Dia Tidak Pernah
• 10 jam lalutvonenews.com
thumb
Canda AHY ke Sugiono: Demokrat Sering Turun, Jangan Artikan Manuver Politik
• 16 jam laludetik.com
thumb
Dewi Perssik Blak-blakan Tolak Inara Rusli Jadi Bintang Tamu, Ini Alasannya
• 17 jam lalutabloidbintang.com
thumb
AHY Ungkap Isi Pertemuan SBY dan Prabowo yang Bahas soal Konflik Timur Tengah
• 5 jam laluliputan6.com
thumb
Khofifah Rancang Program Madura Naik Kelas, Dorong Lulusan SMA/K Lanjut Kuliah
• 22 jam lalusuarasurabaya.net
Berhasil disimpan.