Kandidat Kuat Pengganti Ali Khamenei, Mojtaba Khamenei Dipastikan Tidak Sesuai Selera Trump

wartaekonomi.co.id
3 jam lalu
Cover Berita
Warta Ekonomi, Jakarta -

Putra kedua mendiang pemimpin tertinggi Iran, Ali Khamenei, Mojtaba Khamenei, disebut-sebut menjadi kandidat terkuat untuk menggantikan ayahnya sebagai pemimpin tertinggi Republik Islam Iran.

The Guardian menyebut jika terpilih, langkah ini akan menempatkan figur garis keras di pucuk kekuasaan pada salah satu periode paling turbulen dalam 48 tahun sejarah Iran, sekaligus memberi sinyal kuat bahwa Teheran belum berniat mengubah arah kebijakannya, terutama terhadap Amerika Serikat (AS).

Meski demikian, hingga kini belum ada pengumuman resmi terkait suksesi tersebut. Pengumuman kemungkinan akan ditunda hingga setelah prosesi pemakaman Ali Khamenei.

Mojtaba diyakini menjadi pilihan utama Korps Garda Revolusi Islam Iran atau Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC). Sementara itu, Menteri Pertahanan Israel, Gideon Saar, dilaporkan telah memperingatkan bahwa Mojtaba akan menjadi target pembunuhan.

Anggota Majelis Ahli atau lembaga beranggotakan 88 ulama yang bertugas memilih pemimpin tertinggi mengatakan proses pemilihan hampir mencapai tahap akhir.

"Saat ini Majelis mempertimbangkan enam kandidat," kata anggota Majelis Ahli Ayatollah Seyed Khatani.

Mojtaba Dikenal Anti-Barat

Mojtaba Khamenei dikenal figur yang memiliki pandangan anti-Barat yang tegas. Jika terpilih, ia dinilai bukan figur yang diharapkan oleh Presiden AS Donald Trump.

Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio bahkan menyebut Iran dipimpin oleh "fanatik agama yang gila", dan pengangkatan Mojtaba diperkirakan tidak akan mengubah persepsi tersebut.

Trump sebelumnya menyatakan skenario terburuk adalah jika pengganti Khamenei sama buruknya dengan yang sebelumnya.

Spekulasi mengenai suksesi Mojtaba sebenarnya telah berlangsung lebih dari satu dekade. Isu ini semakin menguat setelah Presiden terpilih Iran yang juga sekutu dekat Khamenei, Ebrahim Raisi, tewas dalam kecelakaan helikopter.

Perjalanan Politik Mojtaba

Lahir pada 1969, Mojtaba Khamenei menempuh pendidikan teologi setelah lulus sekolah menengah. Pada usia 17 tahun, ia terlibat dalam perang Iran-Irak. Namun namanya baru mencuat sebagai figur publik pada akhir 1990-an.

Setelah kandidat pilihan ayahnya, Ali Akbar Nategh Nuri, kalah telak dalam pemilu presiden 1997, kelompok konservatif Iran mulai melakukan restrukturisasi internal, dan Mojtaba disebut berperan penting dalam proses tersebut.

Kaum reformis juga menudingnya terlibat dalam penindakan terhadap gelombang protes 2009 yang muncul setelah tuduhan kecurangan pemilu presiden. Namanya sempat diteriakkan dalam demonstrasi sebagai salah satu pihak yang dianggap bertanggung jawab.

Politikus reformis Mostafa Tajzadeh, yang dipenjara setelah pemilu itu, bahkan menuduh kasus hukumnya berada di bawah pengawasan langsung Mojtaba.

Pada 2022, Mojtaba memperoleh gelar ayatollah, sebuah prasyarat penting untuk menduduki posisi pemimpin tertinggi.

Sejak itu, ia kerap mendampingi ayahnya dalam pertemuan politik dan disebut memiliki pengaruh besar dalam lembaga penyiaran resmi pemerintah, Islamic Republic of Iran Broadcasting (IRIB).

Ia juga disebut berperan penting dalam pengelolaan jaringan keuangan besar milik keluarga Khamenei. Di antara sekutu politik terdekatnya adalah komandan baru IRGC Ahmad Vahidi, mantan kepala intelijen IRGC Hossein Taeb, serta Ketua Parlemen Mohammad Bagher Ghalibaf.

Isu suksesi yang bernuansa turun-temurun ini telah lama ditentang kelompok reformis. Mantan perdana menteri Mir Hossein Mousavi pada 2022 menyinggung rumor tersebut dengan mengatakan, “Kabar tentang konspirasi ini sudah terdengar selama 13 tahun. Jika memang tidak benar, mengapa tidak dibantah secara tegas?”

Menanggapi keraguan itu, Majelis Ahli menyatakan tudingan tersebut tidak berdasar dan menegaskan hanya akan memilih kandidat “yang paling memenuhi syarat dan paling tepat”.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
264 Jemaah Umrah Kabupaten Tangerang Dipastikan Pulang Sesuai Jadwal
• 14 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Raisa dan Bubah Alfian Nyaris Terjebak di Dubai, Pesawat yang Dinaiki Terbang 1 Jam Sebelum Bandara Dubai Ditutup hingga Diserang Iran
• 16 jam lalugrid.id
thumb
Mulai dari Nol Lagi, Jonathan Frizzy Buka Kedai Kopi dan Belajar Bisnis dari Raffi Ahmad
• 8 jam lalugrid.id
thumb
Pemerintah Siap Evakuasi Belasan WNI dari Teheran via Azerbaijan
• 21 jam lalusuarasurabaya.net
thumb
Wardatina Mawa Jadi Saksi Terkait Dugaan Akses Ilegal CCTV Rumah Inara Rusli
• 18 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.