Harga minyak dunia stagnan pada penutupan perdagangan Rabu (4/3), usai sempat bergejolak imbas meningkatnya ketegangan di Timur Tengah menyusul serangan AS dan Israel terhadap Iran. Gangguan tersebut pun akhirnya melumpuhkan pelayaran di Selat Hormuz dan menghambat arus vital minyak dan gas dari Timur Tengah.
Mengutip Reuters, minyak mentah Brent ditutup pada level USD 81,40 per barel, tidak berubah dibandingkan penutupan Selasa (3/3) dan menjadi yang tertinggi sejak Januari 2025. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat naik 10 sen atau 0,1 persen menjadi USD 74,66 per barel, mencatatkan penutupan tertinggi sejak Juni untuk hari kedua berturut-turut.
“Harga minyak tetap tinggi karena pasar menghadapi prospek perang berkepanjangan dan gangguan pasokan yang terus berlangsung,” ujar Analis Pasar Senior di Tradu.com, Nikos Tzabouras.
AS telah memberi sinyal kampanye militer selama empat hingga lima minggu, sementara Iran berupaya memperluas konflik ke tingkat regional dan jalur strategis Selat Hormuz praktis tertutup. Perkembangan tersebut dinilai dapat membalikkan dinamika pasokan-permintaan yang sebelumnya kurang menguntungkan, mendorong harga minyak lebih tinggi dan membuka peluang menuju level USD 100 per barel.
Pada perdagangan Rabu pagi (4/3), Brent sempat melonjak lebih dari US|3 hingga menyentuh USD 84,48 per barel, mendekati level tertinggi beberapa bulan terakhir. Namun, harga kemudian melemah setelah New York Times melaporkan sejumlah pejabat Kementerian Intelijen Iran mengindikasikan keterbukaan kepada Badan Intelijen Pusat AS (CIA) untuk melakukan pembicaraan guna mengakhiri perang.
Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth menyatakan AS berada di pihak yang unggul dalam perang melawan Iran dan militer AS siap bertempur selama diperlukan.
Pasukan Israel dan AS telah menyerang berbagai target di Iran, yang kemudian dibalas Iran dengan serangan terhadap infrastruktur energi di kawasan yang menyumbang hampir sepertiga produksi minyak global.
Irak, produsen minyak mentah terbesar kedua di Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC+), memangkas produksi hampir 1,5 juta barel per hari akibat keterbatasan kapasitas penyimpanan dan tidak adanya jalur ekspor, menurut pejabat kepada Reuters.
Mereka memperingatkan, produksi hingga hampir 3 juta barel per hari dapat dihentikan dalam beberapa hari jika ekspor tidak kembali berjalan. Lalu lintas melalui Selat Hormuz juga dilaporkan masih praktis tertutup.
Presiden AS Donald Trump pada Selasa (3/3) mengatakan Angkatan Laut AS dapat mulai mengawal kapal tanker minyak melalui selat tersebut jika diperlukan. Ia juga menyebut telah memerintahkan U.S. International Development Finance Corporation untuk menyediakan asuransi risiko politik dan jaminan keuangan bagi perdagangan maritim di kawasan Teluk.
Juru bicara Gedung Putih Karoline Leavitt mengatakan Pentagon dan Departemen Energi AS tengah menyusun rencana untuk mengamankan Selat Hormuz guna menjamin keselamatan kapal tanker minyak di tengah perang dengan Iran. Ia menambahkan, Trump dan para penasehatnya juga mendiskusikan peran apa yang mungkin diambil AS di Iran setelah kampanye militer berakhir.
Sementara itu, sejumlah negara dan perusahaan mulai mencari rute alternatif dan pasokan minyak mentah lain. India dan Indonesia menyatakan tengah mencari sumber pasokan alternatif, sementara beberapa kilang di China menghentikan operasi atau memajukan jadwal pemeliharaan.
Menurut data Administrasi Informasi Energi (EIA), persediaan minyak mentah naik 3,5 juta barel pekan lalu ke level tertinggi dalam tiga setengah tahun di AS. Kenaikan tersebut lebih tinggi dari ekspektasi analis dalam jajak pendapat Reuters yang memperkirakan kenaikan 2,3 juta barel. Stok bensin AS pun turun 1,7 juta barel, sedangkan persediaan distilat, yang mencakup solar dan minyak pemanas, naik 429.000 barel dalam sepekan.
“Pasokan global masih melimpah dengan tingkat penyimpanan tanker ‘di laut’ yang mendekati rekor. Namun hingga minyak tersebut dapat menemukan tujuan yang aman, volatilitas harga kemungkinan akan terus berlanjut,” ujar Senior Vice President of Trading di BOK Financial, Dennis Kissler.




