Trump Ingin Ganti Rezim Iran Tanpa Kerahkan Pasukan Darat? Pakar: Itu Mustahil

wartaekonomi.co.id
10 jam lalu
Cover Berita
Warta Ekonomi, Jakarta -

Dalih Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyerang Iran adalah "ingin menghadirkan kebebasan bagi rakyat". Retorika politik itu diucapkan Trump beberapa jam setelah AS dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada Sabtu dini hari, akhir pekan lalu.

Peneliti Senior di Lembaga Think-thank Stimson Center Kelly Grieco mengendus maksud sebenarnya Trump sebenarnya hanya ingin meruntuhkan rezim kepemimpinan politik Iran saat ini, lain itu tidak.

Meski demikian, Kelly mengatakan bahwa perubahan politik secara total itu akan sulit diwujudkan bahkan nyaris mustahil dicapai jika Trump tidak mengerahkan pasukan militer darat.

"Tampaknya AS tidak bersedia membayar "biaya" tertentu untuk mencapai perubahan rezim. Jadi mungkin ada tujuan-tujuan sekunder yang dianggap cukup jika target utama tidak bisa dicapai hanya dengan kekuatan udara," ujar Grieco dikutip dari Al Jazeera.

Usai gelombang serangan awal AS-Israel, Trump menyampaikan pesan langsung kepada rakyat Iran bahwa "momen kebebasan" mereka telah tiba.

"Ketika kami selesai, ambil alih pemerintahan Anda (warga Iran-red). Itu akan menjadi milik Anda,” katanya, memberi kesan bahwa AS akan menjatuhkan rezim yang berkuasa di Teheran.

Peneliti Center for International Policy Matthew Duss menegaskan bahwa serangan udara semata tidak cukup untuk meruntuhkan sistem pemerintahan Iran.

"Anda bisa merusak gedung, Anda bisa melemahkan rezim, tetapi tidak ada contoh di mana kekuatan udara saja berhasil menghasilkan perubahan rezim,” kata Duss.

Ia mencontohkan kampanye udara NATO di Libya pada 2011 yang berhasil menggulingkan Muammar Gaddafi. Namun, menurutnya, keberhasilan itu terjadi karena adanya pemberontak Libya yang memimpin serangan darat.

AS Tidak Didukung Rakyatnya

Meski Trump dan pejabat AS lainnya menyerukan rakyat Iran untuk bangkit, hingga kini belum terlihat kekuatan signifikan di dalam negeri Iran yang mampu menumbangkan Republik Islam.

Opsi pengerahan pasukan darat memang belum sepenuhnya ditutup. Namun langkah tersebut berisiko tinggi bagi militer AS dan akan bertentangan dengan preferensi Trump yang selama ini menginginkan kampanye militer cepat dan terbatas.

"Perang ini sudah tidak populer, bahkan tanpa satu pun tentara AS yang dikerahkan ke Iran,” ujar Duss.

Survei Reuters terbaru menunjukkan hanya sekitar seperempat warga Amerika yang mendukung perang ini.

Ia membandingkannya dengan invasi Irak tahun 2003 yang kala itu mendapat dukungan lebih dari 55 persen publik AS.

"Saya membayangkan jika perang ini berlanjut, apalagi jika pasukan darat dikerahkan, dukungan akan semakin turun,” tambahnya.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Kapal Selam AS Tenggelamkan Kapal Iran, Serangan Torpedo Pertama sejak Perang Dunia II
• 16 jam laluokezone.com
thumb
Naik Tipis, Harga Emas Antam Hari Ini Jadi Rp3.049.000 per Gram
• 8 jam laluidxchannel.com
thumb
Indonesia Urges Meta Platforms to Increase Algorithm Transparency
• 2 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Dulu jadi Idola, Eks Kiper Andalan Timnas ini sekarang Fokus Membangun Generasi sampai Bangun Sekolah
• 13 jam lalutvonenews.com
thumb
AS Klaim Tenggelamkan Kapal Tempur Iran di Samudera Hindia
• 17 jam laluviva.co.id
Berhasil disimpan.