JAKARTA, KOMPAS.com – Memutuskan diri untuk mengabdi pada masjid atau rumah ibadah lainnya tentu bukan perkara mudah, karena membutuhkan konsistensi dan banyak pengorbanan.
Namun, hal tersebut bukan menjadi masalah untuk sekelompok Generasi Z atau lebih akrab disapa Gen Z di RW 07, Manggarai, Jakarta Selatan, yang tergabung dalam Ikatan Remaja Masjid Al-Falaah (IRMA).
Puluhan Gen Z yang tergabung dalam IRMA memutuskan untuk mengabdi pada masjid di lingkungan tempat tinggalnya sejak tahun 2016 silam.
Baca juga: Keterbatasan Modal dan Fasilitas Jadi Tantangan Gen Z Mengabdi di Masjid Manggarai
Bukan hanya fokus mengaji dan membantu berbagai kegiatan di masjid, IRMA juga memiliki berbagai program unggulan yang bermanfaat untuk lingkungan sekitar.
Salah satunya, dengan mendirikan Taman Baca Al-Qur’an (TPA) untuk anak-anak di Manggarai.
Untuk mendirikan TPA ini, Gen Z dari IRMA harus mengorbankan tenaga, finansial, dan juga waktunya, karena turun langsung menjadi pengajar anak-anak tanpa ada bayaran satu peser pun.
Di sisi lain, mereka juga tak ragu mengeluarkan uang untuk membantu memenuhi fasilitas belajar dan mengajar seperti buku, alat tulis, bahan bacaan, dan lainnya, yang dapat menunjang kegiatan belajar dan mengajar di TPA tersebut.
Tepis stigma individualisSosiolog dari Universitas Negeri Jakarta (UNJ) Rakhmat Hidayat, mengatakan selama ini Gen Z dikenal sebagai generasi yang fokus terhadap digital dan kepentingan pribadinya saja atau individualisme.
Namun, adanya sekelompok Gen Z yang rela mengabdikan dirinya untuk masjid seperti di Manggarai mematahkan stigma bahwa pemuda cenderung bersifat individualis.
“Ketika ada anak-anak Gen Z yang aktif di masjid, merupakan bentuk kontradiksi dari narasi individualisme,” tutur Rakhmat ketika dihubungi Kompas.com, Selasa (3/3/2026).
Baca juga: Jatuh Bangun Gen Z di Manggarai, Mengabdi di Masjid Meski Dicap Sok Alim
Ia mengatakan, Gen Z yang memilih aktif di masjid menunjukkan bahwa mereka ingin tergabung dalam komunitas dan mencari makna mendalam dari hidup yang dijalani.
Di sisi lain, keterlibatan pemuda di masjid juga bisa dikaitkan dengan konsep solidaritas sosial, meski mereka hidup dalam era yang individualistik, tetapi tetap membutuhkan terkoneksi dengan nilai-nilai kolektif dan spiritual.
Rakhmat juga menilai, keputusan Gen Z terlibat dalam berbagai kegiatan keagamaan merupakan salah satu cara mereka mencari identitas.
“Gen Z ini kan sering dipahami sebagai masa pencarian identitas, mereka mencari cara, mencari proses, usaha, untuk mendefinisikan diri mereka dalam dunia kompleks yang serba terbuka, serba cepat,” ujar Rakhmat.
Jadi, keterlibatan mereka di masjid bisa dilihat sebagai proses konstruksi sosial yang mengintegrasikan nilai-nilai agama dan sosial dalam hidup.





