Dampak Konflik AS-Israel vs Iran, Indonesia Beralih ke Pasar Domestik

harianfajar
4 jam lalu
Cover Berita

MAKASSAR, FAJAR – – Situasi Timur Tengah terus memanas. Eskalasi konflik meningkat seiring aksi saling balas serangan antara Iran dengan Amerika Serikat (AS)- Israel.

Konflik ini menimbulkan kekhawatiran global. Pasalnya perekonomian dunia terguncang, apalagi Iran telah menutup Selat Hormuz. Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso menyebut pasar ekspor cukup terpengaruh dengan konflik yang mulai meluas.

“Kita berharap, sih, segera selesai. Pasti nanti kita lihat pasar-pasar ekspor kita terutama yang terdampak perang, tentu akan sedikit berpengaruh, tapi (kita) akan tetap terus monitor,” kata Budi Santoso usai menggelar peninjauan harga di Pasar Terong, Kota Makassar, Rabu, 4 Maret 2026.

Pemerintah menyiapkan mitigasi apabila gejolak global mulai berdampak signifikan terhadap kinerja ekspor nasional. Sejumlah pelaku usaha pun mulai mencermati potensi kenaikan biaya distribusi akibat ketidakpastian situasi global.

Meski demikian, pemerintah optimistis pasar ekspor Indonesia masih memiliki daya tahan. Apalagi ditopang diversifikasi negara tujuan ekspor. Apalagi, ekonomi Indonesia masih ditopang dengan belanja domestik.

“Kalau pertumbuhan ekonomi kita itu lebih banyak ditopang dengan belanja domestik. Jadi kita harus tingkatkan daya beli masyarakat, kita tingkatkan ekosistem ekonomi kita di dalam negeri. Jadi semua berjalan seperti biasa,” kata Budi Santoso.

Data dari Dinas Perdagangan dan Perindustrian Sulsel, komoditas unggulan dari Sulsel masih diekspor ke beberapa negara Timur Tengah. Pada 2025, ada sembilan negara tujuan di Timteng dengan beragam komoditas.

Di antaranya ke Arab Saudi ada buah kemiri, kakao mass, ikan segar, dan marmer, dengan volume total 2.306 ton dan nilai USD 11,549 juta. Lalu, ke Irak ada komoditas cengieh dan gagang cengkeh dengan volume 83 ton dan nilai USD 300 ribu.

Ke Yordania berupa komoditas mete kupas dengan volume 14,42 ton dan nilai USD 120 ribu. Lebanon pada 2024 masih ada 16,9 ton, hanya saja pada 2025 sudah tidak ada ekspor ke sana.

Berikutnya, ke Mesir ada kapulaga 13,5 ton dengan nilai USD 87 ribu. Ke Oman ada komoditas arang tempurung kelapa dengan volume 27 ton dengan nilai USD 10.800. Tujuan Qatar ada cengkih 12 ton (2024) dan nihil pada 2025.

Selanjutnya, ke Suriah ada buah pala dan minyak nilam dengan volume 15 ton dan nilai USD 44,8 ribu. Terakhir ke UEA ada komoditas arang tempurung kelapa, cengkih, gurita, dan ikan segar dengan volume 54 ton dan nilai USD 351 ribu.

Pengamat Ekonomi dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Muhammadiyah Makassar, Sutardjo Tui punya pandangan berbeda, atas dampak ekonomi dari konflik Amerika Serikat-Israel versus Iran.

Menurutnya, perang tidak selalu membawa dampak negatif bagi semua daerah. Sulsel justru berpotensi mendapat keuntungan dari sisi ekspor. (uca/zuk)


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Badak Kalimantan Tersisa 2 di Alam
• 23 jam lalubeautynesia.id
thumb
Pertemuan Lintas Generasi di Istana Merdeka, Presiden Prabowo dan Gibran Bahas Isu Strategis Bersama Para Tokoh Nasional
• 18 jam lalupantau.com
thumb
Tensi Timur Tengah Memanas, Menlu Sugiono Telepon Menlu UEA hingga Prabowo Siap Mediasi ke Teheran
• 3 jam lalusuara.com
thumb
Pesan Presiden Iran ke Negara-negara Teluk Tak Punya Pilihan Selain Membalas
• 12 jam laludetik.com
thumb
Serangan ke Iran: Menghitung Risiko Politik Luar Negeri Indonesia
• 5 jam lalukatadata.co.id
Berhasil disimpan.