MotoGP Qatar seharusnya berlangsung selama 10-12 April 2026. Akan tetapi, kondisi perang yang berkecamuk di Timur Tengah membuat gelaran di Sirkuit Internasional Lusail itu terancam.
Adapun AS dan Israel melancarkan serangan ke Iran sejak Sabtu (28/2), yang kemudian dibalas oleh Iran. Situasi masih memanas hingga kini. Dan masalahnya, serangan balasan Iran juga berimbas pada negara Timur Tengah lain, termasuk Qatar.
CEO MotoGP, Carmelo Ezpeleta, mengakui bahwa balapan di Qatar diragukan penyelenggaraannya karena konflik yang sedang berlangsung di Timur Tengah itu. Namun, ia mengaku punya rencana alternatif.
“Apakah mungkin untuk kembali [ke Qatar] pada tanggal lain? Jangan khawatir. Kami selalu punya rencana B,” kata Ezpeleta pada Rabu (4/3) waktu setempat saat acara Estrella Galicia 0.0 di Madrid.
“Kami harus menunggu, saya tidak bisa mengatakan sekarang bahwa kami tidak akan pergi. Kami telah berbicara dengan Qatar sejak hari Minggu, dan kami akan membuat keputusan. Kemungkinan kecil kita akan pergi ke Qatar pada 12 April, tapi saya tidak bisa mengatakan bahwa kita tidak akan pergi,” tambahnya.
Ezpeleta menepis kemungkinan menemukan tempat pengganti jika Qatar tidak jadi diadakan.
“Pergi ke tempat lain? Tentu tidak. Apakah itu akan sesuai dengan jadwal? Kami sangat pandai membuat jadwal. Kami akan segera tahu sesuatu, tentu saja. Kami menunggu mereka memberi tahu kami sesuatu. Masih ada waktu,” jelasnya.
MotoGP belum mau mengikuti langkah ajang balapan lain. Adapun World Endurance Championship (WEC) menjadi seri motorsport besar pertama yang menunda balapan sebagai respons terhadap peningkatan konflik militer di Timur Tengah. Balapan di Qatar yang harusnya menjadi pembuka musim 2026 dipindahkan ke akhir tahun.





