Siapa yang sering melihat label kemasan sebelum membeli camilan? Banyak orang mungkin pernah memperhatikan bahwa beberapa tulisan pada kolom komposisi dicetak tebal, sementara yang lain ditulis biasa.
Ternyata, perbedaan itu bukan sekadar untuk mempercantik tampilan kemasan saja, lho. Ada alasan penting di baliknya, terutama berkaitan dengan keamanan konsumen.
Head of Strategic Marketing Nutrifood, Susana, menjelaskan bahwa tulisan yang dicetak tebal pada daftar komposisi biasanya menandakan potensi kandungan alergen dalam produk tersebut.
“Kalau di komposisi ada tulisan yang bold atau ditebalin itu artinya potensi mengandung alergen. Misalnya telur, karena ada orang-orang yang alergi terhadap telur,” kata Susana kepada kumparanFOOD di acara Media Briefing bertema “Cermat Memilih Pangan Olahan untuk Mencegah Obesitas" yang digelar di Bunga Rampai Restaurant, Selasa (3/3).
Menurutnya, penandaan tersebut sangat membantu konsumen yang memiliki riwayat alergi makanan. Dengan adanya penanda yang jelas, konsumen bisa lebih mudah mengenali bahan yang berpotensi memicu reaksi alergi dan memilih produk yang lebih aman.
Penulisan ini juga bukan dilakukan secara sembarangan. Ada aturan yang mengaturnya. Susana mengatakan bahwa daftar bahan yang harus ditandai sebagai alergen sudah diatur oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).
“Jadi itu sudah ada list-nya dari BPOM, ingredient atau bahan pangan apa saja yang harus dicetak tebal, itu sudah ada regulasinya,” jelasnya.
Selain komposisi bahan, label kemasan juga memuat informasi nilai gizi yang penting untuk diperhatikan. Saat ini, semua produk yang terdaftar di BPOM wajib mencantumkan informasi tersebut, termasuk takaran saji.
Takaran saji menunjukkan berapa porsi yang dianjurkan untuk dikonsumsi dalam satu kali makan serta berapa banyak porsi yang terdapat dalam satu kemasan. Informasi nilai gizi biasanya dihitung berdasarkan satu takaran saji.
Dari tabel tersebut, konsumen dapat melihat jumlah kalori yang dikonsumsi jika menghabiskan satu porsi, termasuk kandungan karbohidrat, protein, lemak, hingga mikronutrisi seperti vitamin dan mineral. Dengan memahami informasi ini, seseorang bisa memperkirakan berapa banyak gula, lemak, atau kalori yang masuk ke tubuh.





