KUPANG, KOMPAS — Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur ingin menjual dua kapal, yakni KMP Sirung dan KMP Pulau Sabu. Dua kapal itu kini rusak berat setelah diseret angin kencang dari Pulau Semau ke pesisir Kota Kupang. Aparatur penegak hukum didorong menyelidiki dugaan korupsi dalam pengelolaan kapal.
Dalam siaran pers Humas Pemprov NTT yang diterima Kompas pada Kamis (5/3/2026), Wakil Gubernur NTT Johni Asadoma sudah meninjau langsung ke lokasi terdamparnya kapal pada Rabu kemarin. Ikut mendampingi Johni adalah Kepala Dinas Perhubungan NTT Mahadin Sibarani dan Kepala Badan Pendapatan dan Aset Daerah NTT Alexon Lumba.
Dua kapal tersebut milik Pemprov NTT yang dibeli menggunakan anggaran pendapatan dan belanja daerah. Setelah dibeli, kapal tersebut diserahkan kepada perusahaan daerah, PT Flobamorata, untuk mengelolanya. Dalam perjalanannya terjadi kerugian sehingga kapal itu dikembalikan kepada Pemprov NTT.
Menurut Johni, kondisi kapal rusak parah sehingga memerlukan biaya besar dan waktu yang lama untuk memperbaikinya. ”Kondisi kapal sudah lumayan parah, dikarenakan ada banyak kerusakan juga kekurangan-kekurangan lainnya. Contohnya, lambung pada kapal sendiri sudah bocor,” kata Johni.
Johni menginginkan kapal tersebut disewakan atau dijual kepada pihak ketiga. Uang hasil sewa atau jual menjadi salah satu kontribusi bagi pendapatan daerah. Hasil penyewaan atau penjualan dapat menambah dan membiayai program-program Pemprov NTT.
Johni belum memastikan kapan kapal tersebut ditarik ke tempat yang aman untuk diperbaiki. Kondisi cuaca buruk menyulitkan proses evakuasi dua kapal yang memiliki bobot mati masing-masing lebih dari 1.000 gross tonnage itu.
KMP Pulau Sabu dan KMP Sirung, yang merupakan kapal angkut penumpang, barang, dan kendaraan, terdampar di pesisir Kelurahan Alak, Kota Kupang. Kapal kandas di atas pasir dengan dindingnya menghantam batu karang yang berada di pesisir pantai.
Dua kapal itu sebelumnya lego jangkar di Pelabuhan Hansisi, Pulau Semau, Kabupaten Kupang. Ketika angin kencang pada Senin, tali jangkar terlepas, membuat kapal hilang kendali. ”Padahal, Pelabuhan Hansisi berada di teluk yang relatif aman dari angin,” kata Naldo (40), saksi mata.
Setelah tali jangkar terlepas, dua kapal itu diseret angin dan arus dari arah barat menuju sisi timur laut. Penjaga yang berada di kapal tidak berdaya. Di kapal tidak ada petugas mesin ataupun juru mudi yang bisa mengarahkan kapal.
Kapal terus bergerak hingga kandas di pesisir Kota Kupang yang berjarak lebih kurang 3 mil laut atau 5,5 kilometer dari Pelabuhan Hansisi. Dua kapal itu menghantam batu karang dan tertanam di pesisir pantai. Beberapa sisi pada lambung kapal bocor.
Sejumlah warga menyoroti kerusakan pada dua kapal tersebut. ”Harga kapal puluhan miliar rupiah dan dibiarkan rusak. Kasihan, buang-buang uang, padahal di mana-mana pemerintah buang kekurangan anggaran,” kata Kristo Ndun (40), warga NTT.
Menurut dia, kejadian tersebut menguak buruknya pengelolaan aset daerah. Pemerintah didorong untuk menata semua aset daerah agar dapat dimanfaatkan untuk kemajuan daerah, terlebih kapal sangat dibutuhkan masyarakat NTT yang tinggal di pulau-pulau.
Ambros Mete (42), warga lainnya, mendorong aparat penegak hukum untuk menyelidiki pengelolaan kapal tersebut. Kuat dugaan, ada praktik korupsi dalam pengelolaan kapal sehingga menyebabkan kapal rusak dan tidak bisa beroperasi.
Masuknya aparat penegak hukum diharapkan membongkar borok pengelolaan aset daerah. Tak hanya kapal, masih banyak aset daerah yang sarat praktik korupsi, tetapi tidak terbongkar. ”Bongkar supaya ada efek jera,” ujarnya.
Sementara itu, Pelaksana Tugas Direkrut Utama PT Flobamora Yohanes Taka Dosi mengatakan, dua kapal tersebut sudah dikembalikan kepada Pemprov NTT pada November 2025. Kapal dikembalikan ketika dalam kondisi rusak.
Ketika dua kapal tersebut terseret arus pada Senin (2/3/2026), kapal menjadi tanggung jawab Dinas Perhubungan Provinsi NTT. PT Flobamora dan Dinas Perhubungan sama-sama berada di bawah Pemprov NTT.
Serial Artikel
Dua Feri Terseret dari Pulau Semau hingga Kota Kupang
KM Sirung dan KM Pulau Sabu terdampar di pesisir Kota Kupang, NTT. Tidak ada korban jiwa dalam kejadian tersebut.





