D-8 atau Developing-8 merupakan organisasi kerja sama ekonomi yang beranggotakan delapan negara berkembang, yakni Azerbaijan, Bangladesh, Mesir, Indonesia, Iran, Malaysia, Nigeria, Pakistan, dan Turki. Azerbaijan resmi bergabung pada 2025, memperluas cakupan organisasi ini. Sejarah pembentukan D-8 Merangkum dari laman resminya, Organisasi Kerja Sama Ekonomi D-8 secara resmi diumumkan melalui Deklarasi Istanbul pada KTT Kepala Negara/Pemerintahan yang digelar 15 Juni 1997.
Gagasan pembentukannya pertama kali dicetuskan oleh Necmettin Erbakan, Perdana Menteri Turki saat itu. Ide tersebut muncul dalam Seminar tentang “Kerja Sama dalam Pembangunan” di Istanbul pada Oktober 1996.
Seminar tersebut dihadiri perwakilan Bangladesh, Mesir, Indonesia, Iran, Malaysia, Nigeria, dan Pakistan. Setelah melalui serangkaian pertemuan persiapan, D-8 resmi dibentuk dan mulai beroperasi sejak Deklarasi Istanbul diterbitkan. Tujuan dan fokus kerja sama D-8 dibentuk dengan sejumlah tujuan strategis, antara lain:
- Meningkatkan posisi negara anggota dalam perekonomian global.
- Menciptakan dan mendiversifikasi peluang perdagangan.
- Mendorong partisipasi lebih besar dalam pengambilan keputusan internasional.
- Meningkatkan standar hidup masyarakat di negara anggota.
Organisasi ini bersifat global, bukan regional. Hal tersebut tercermin dari sebaran anggotanya yang membentang dari Asia Tenggara hingga Afrika.
D-8 juga dirancang sebagai forum yang tidak mengganggu komitmen bilateral maupun multilateral negara anggotanya di organisasi internasional atau regional lainnya.
Baca juga: Diplomasi Digital Pemuda, 25 Negara Pecahkan Krisis Iklim, AI dan Keamanan Struktur dan kepemimpinan Saat ini, Sekretariat D-8 berbasis di Istanbul, Turki. Jabatan Sekretaris Jenderal dipegang oleh Duta Besar Sohail Mahmood dari Pakistan.
Sebagai organisasi antarpemerintah, D-8 berfungsi sebagai wadah dialog dan koordinasi kebijakan ekonomi antarnegara anggota.
KTT D-8 menjadi forum strategis bagi para pemimpin negara anggota untuk menyepakati arah kerja sama ekonomi ke depan. Pertemuan tingkat tinggi ini juga menjadi ajang memperkuat kolaborasi di bidang perdagangan, investasi, dan pembangunan.
Dengan digelarnya KTT D-8 di Jakarta, Indonesia memiliki peluang memperkuat peran diplomasi ekonomi sekaligus mendorong kerja sama konkret antarnegara berkembang. Persiapan Pemerintah Indonesia Pemerintah Indonesia terus mematangkan persiapan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Developing-8 (D-8) yang dijadwalkan berlangsung pada 12-15 April 2026. Juru Bicara Kementerian Luar Negeri RI, Vahd Nabyl Achmad Mulachela, mengatakan berbagai persiapan dilakukan secara internal maupun melalui koordinasi intensif dengan negara-negara anggota.
“Terkait dengan persiapan D-8 yang summitnya akan dilaksanakan pada bulan April, kita terus melakukan berbagai persiapan secara internal dan juga dengan negara-negara anggota,” ujar Nabyl dalam press briefing di Jakarta, Jumat, 27 Februari 2026.
Menurut dia, fokus utama Indonesia sebagai ketua adalah memastikan lima prioritas yang telah ditetapkan dapat terlaksana secara efektif.
Salah satu prioritas yang dinilai krusial adalah penguatan reformasi internal organisasi. Nabyl menegaskan reformasi tersebut penting sebagai fondasi bagi implementasi empat prioritas lainnya.
“Kita ketahui bahwa salah satu dari lima prioritas tersebut adalah mengenai penguatan dari segi reformasi internal organisasi. Itu penting untuk memastikan empat prioritas lainnya dapat terlaksana,” jelasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(ANN)





