JAKARTA, DISWAY.ID-- Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digagas Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah kian menunjukkan dampak nyata bagi kualitas belajar dan pembentukan karakter siswa.
Menteri Dikdasmen Abdul Mu'ti mengatakan MBG bukan sekadar bantuan pangan, tetapi bagian penting dari pendidikan karakter anak. Hal ini disampaikan dalam rapat koordinasi implementasi Perpres Nomor 115 Tahun 2025.
Abdul Mu'ti MBG terintegrasi dengan program Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat, mulai dari bangun pagi, beribadah, berolahraga, makan sehat, gemar belajar, bermasyarakat, hingga tidur cepat.
BACA JUGA:KSP Ungkap Program MBG Dongkrak Ekonomi Desa, 70 Persen Bahan Pangan dari Produk Lokal
Kebiasaan ini dibangun melalui kolaborasi sekolah, keluarga, dan masyarakat.
Berdasarkan data riset kolaboratif dari LabSosio UI menunjukkan MBG meningkatkan motivasi belajar dan memberi pengalaman makan bersama yang menyenangkan. Anak-anak dari keluarga prasejahtera juga mendapat akses gizi lebih baik,” ujar Abdul Mu’ti, di Jakarta, Rabu, 4 Maret 2026.
Secara nasional, program ini telah menjangkau 49,6 juta murid atau 93 persen dari total siswa Indonesia di lebih dari 288 ribu sekolah.
Pemerintah juga menyiapkan modul edukasi serta pedoman pelaksanaan, sekaligus memperkuat digitalisasi pembelajaran lewat papan interaktif di sekolah.
Sementara itu, Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan menekankan pentingnya kecukupan protein untuk meningkatkan kecerdasan anak.
BACA JUGA:Kemendikdasmen Ajukan ABT Rp181 Triliun, Abdul Mu’ti Tegaskan Bukan untuk Program MBG
Di samping itu, Menteri Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Arifah Fauzi menyebut MBG sebagai bentuk perlindungan anak sekaligus pemberdayaan perempuan melalui pelibatan UMKM dapur gizi.
Dari sisi pasokan pangan, Kementerian Kelautan dan Perikanan menghadirkan suplai protein ikan melalui UMKM binaan, sementara Badan Gizi Nasional mencatat ribuan satuan pelayanan gizi telah beroperasi dan menggerakkan ekonomi desa hingga triliunan rupiah.
Pemerintah menargetkan cakupan 100 persen agar seluruh anak Indonesia mendapatkan asupan gizi layak sekaligus pendidikan karakter yang kuat, demi mencetak generasi sehat, cerdas, dan berdaya saing.





