Bos Toyota Indonesia Sebut Perang AS-Iran Berpotensi Picu Krisis Semikonduktor

kumparan.com
15 jam lalu
Cover Berita

Presiden Direktur PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN), Nandi Julyanto menjelaskan situasi awal dampak dari pecahnya pertempuran Iran dengan Israel-Amerika Serikat (AS) yang terjadi baru-baru ini.

Sebagai salah satu pengekspor kendaraan bentuk utuh hingga komponen terurai dari Indonesia, pabrikan saat ini masih tengah melakukan pemantauan sembari menunggu kabar lebih lanjut perihal situasi panas yang sedang terjadi di kawasan Timur Tengah.

"Kami terus memantau perkembangan dari situasi ini, dampak yang akan terjadi dapat terbagi menjadi short term. Biasanya jalur perdagangan dan logistik internasional dapat terdampak mulai dari penyesuaian rute pelayaran hingga meningkatnya risiko distribusi," katanya kepada kumparan, Selasa (3/3/2026).

Lebih lanjut, kondisi tersebut tentu dapat berpengaruh terhadap aktivitas ekspor, yang berpotensi mengalami keterlambatan dibandingkan dengan kondisi normal. Selain itu masih ada potensi dampak mid term atau jangka menengah.

"Berpotensi muncul apabila konflik tersebut memicu kenaikan harga minyak dunia, sehingga mengganggu stabilitas perekonomian negara-negara pengimpor. Kondisi ini dinilai dapat menekan daya beli sekaligus memengaruhi permintaan kendaraan di pasar tujuan ekspor," papar Nandi.

Hal paling dikhawatirkan adalah dampak berkepanjangan (long term), terutama bila konflik terus meluas akan menyebabkan rantai pasok atau supply chain global. Belum lagi menyangkut bahan baku penting untuk kebutuhan pengadaan komponen inti.

"Konflik yang semakin luas juga berisiko mengganggu rantai pasok global, situasi tersebut berpotensi menimbulkan efek berantai terhadap berbagai sektor manufaktur dunia yang sangat bergantung pada komponen elektronik dan teknologi semikonduktor," kata Nandi.

Dijelaskan Nandi, Toyota Indonesia saat ini aktif mengirimkan kendaraan buatannya ke kawasan Timur Tengah dan menjadi salah satu pasar terpenting skala global. Di antaranya adalah Arab Saudi, Qatar, Uni Arab Emirates, dan beberapa negara lainnya.

Toyota rayakan pencapaian ekspor nyaris 300 ribu unit

Situasi ini tentunya mengkhawatirkan, mengingat Toyota Indonesia baru saja merayakan pencapaian penting selama 2025 kemarin. Kinerja ekspor perusahaan nyaris mencapai 300 ribu unit atau tepatnya 298.457 unit.

Hasil itu dikatakan meningkat sebesar 8 persen dibanding kinerja ekspor pada periode serupa 2024 yang catatkan 276.089 unit, berdasarkan data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo).

Ini mengukuhkan capaian Toyota Indonesia yang konsisten berkontribusi sekitar 60 persen dari total pengiriman kendaraan dalam bentuk utuh atau completely built up (CBU) sejak tahun 2020 hingga 2025.

Pertumbuhan ekspor ini juga sejalan dengan kinerja ekspor industri otomotif nasional yang terus mencatatkan tren positif selama lima tahun terakhir, dengan total ekspor kendaraan nasional pada tahun 2025 mencapai 518.212 unit.

Secara kumulatif, sejak tahun 1987 hingga akhir tahun 2025, Toyota Indonesia telah mengekspor 3.151.794 unit kendaraan karya anak bangsa ke lebih dari 100 negara di kawasan Asia, Amerika Selatan, Afrika, Timur Tengah, Australia, dan Oseania.

Nandi meyakini peningkatan ekspor produk otomotif sepanjang tahun 2025 dari kendaraan ICE maupun elektrifikasi, dapat memperkuat fondasi industri otomotif Indonesia serta menambah kontribusi bagi neraca dagang nasional.

“Prestasi ekspor Toyota Indonesia yang hampir menyentuh angka 300 ribu unit ini, dapat kami capai berkat dukungan pemerintah Indonesia, masyarakat, stakeholder, serta peran rantai pasok industri otomotif nasional yang kuat dari hulu dan hilir," ucapnya dikutip, Jumat (27/2).

Produk CBU yang diekspor Toyota Indonesia masih berupa ICE (Internal Combustion Engine) dan elektrifikasi berupa hibrida (Hybrid Electric Vehicle/HEV). Model yang paling sering dikapalkan ada Kijang Innova Zenix ICE dan HEV, Veloz, Fortuner, Yaris Cross HEV dan ICE.

Antusiasme konsumen pasar global akan kendaraan elektrifikasi buatan SDM Indonesia di tahun 2025 mencapai 22.868 unit atau naik hingga 23 persen dibandingkan dengan pencapaian di periode yang sama di tahun 2024 sebesar 18.553 unit.

Wakil Presiden Direktur PT TMMIN, Bob Azam menambahkan pencapaian tersebut tidak dapat diraih melalui proses singkat, tetapi membutuhkan kerja keras dan dedikasi panjang. Kinerja ekspor ini melengkapi performa industri otomotif nasional.

"Perjalanan membangun industri otomotif nasional dimulai dari aktivitas impor di tahun 1970-an, kemudian melakukan produksi dalam skala besar mulai dari mesin, komponen, alat bantu produksi, dan kendaraan utuh," timpal Bob dalam keterangan resmi Toyota.

Seiring peningkatan tingkat kandungan lokal yang telah mencapai 80 persen, Toyota turut mendukung penguatan industri otomotif nasional melalui produksi dan ekspor kendaraan bermesin pembakaran internal (ICE), serta sejumlah model elektrifikasi seperti Kijang Innova Zenix HEV dan Yaris Cross HEV.

Kinerja ekspor Toyota Indonesia untuk semua brand Januari-Desember 2025

ICE

  1. SUV: Fortuner, Rush, Raize, Yaris Cross (139.552 unit)

  2. MPV: Kijang Innova Zenix, Avanza, Veloz (81.905 unit)

  3. Hatchback: Agya (33.675 unit)

  4. Komersial: Town/Lite Ace (20.457 unit).

HEV

  1. Innova Zenix HEV (13.343 unit)

  2. Yaris Cross HEV (9.525 unit).


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Syahganda Sebut Soekarno dan Prabowo Pemimpin Paling Ideologis dalam Sejarah RI
• 2 jam laluokezone.com
thumb
China Targetkan Pertumbuhan Ekonomi 4,5-5 Persen pada 2026
• 17 jam laluidxchannel.com
thumb
Tata Cara Shalat Taubat di Bulan Ramadhan, Lengkap dengan Niat dan Dalilnya
• 22 jam laluviva.co.id
thumb
IHSG Berakhir Menguat 1,76 Persen ke 7.710
• 12 jam lalukumparan.com
thumb
Ahli Sebut Ada Kekeliruan KPK Saat Tetapkan Tersangka Yaqut pada Kasus Kuota Haji
• 9 jam lalubisnis.com
Berhasil disimpan.