China telah mengeluarkan perintah untuk menghentikan ekspor solar dan BBM imbas tersendatnya jalur distribusi akibat tutupnya Selat Hormuz akibat perang antara AS-Israel dengan Iran.
Dikutip dari Bloomberg pada Kamis (5/3), lembaga perencana ekonomi tertinggi di China, yakni National Development and Reform Commission (NDRC) telah bertemu para petinggi kilang di China untuk membahas hal itu. Nantinya, penghentian ekspor sementara bakal segera berlaku.
Lebih lanjut, NDRC meminta perusahaan kilang menghentikan penandatanganan kontrak baru terkait pengiriman solar dan bensin. Selain itu, perusahaan juga diminta untuk melakukan negosiasi terkait pembatalan pengiriman solar dan bensin yang sudah disepakati.
Meski demikian, terdapat pengecualian untuk bahan bakar jet yang sudah ada di gudang berikat serta pasokan bahan bakar untuk Hong Kong dan Makau.
Sebelumnya, beberapa perusahaan kilang seperti PetroChina, Sinopec, CNOOC Ltd., Sinochem Group, dan kilang swasta Zhejiang Petrochemical Co memang secara rutin mendapat kuota ekspor bahan bakar dari pemerintah China.
Saat ini, China memang memiliki industri sektor pengolahan minyak yang sangat besar. Namun demikian, sebagian besar produksinya digunakan untuk memenuhi kebutuhan domestik alih-alih menjadi pemasok di pasar global. Di Asia, China merupakan eksportir ketiga terkait ekspor bahan bakar lewat jalur laut setelah Korea Selatan dan Singapura.
Sejak adanya krisis pasokan dari Teluk Persia utamanya di Selat Hormuz pasca serangan AS-Israel terhadap Iran, beberapa kilang dari Jepang, Indonesia dan India memang mulai memangkas tingkat operasi serta membatasi ekspor.
Langkah pembatasan ekspor solar dan bensin yang dilakukan China juga dinilai sebagai cara negara-negara yang bergantung pada impor energi untuk memprioritaskan terlebih dahulu kebutuhan domestik seiring memburuknya krisis yang terjadi antara AS-Israel dengan Iran.





