Perubahan outlook peringkat utang Indonesia menjadi negatif oleh Fitch Ratings memicu kekhawatiran pasar terhadap ruang fiskal pemerintah. Ekonom menilai kondisi ini harus direspons dengan memperketat prioritas belanja negara agar kredibilitas fiskal tetap terjaga.
Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Institute for Development of Economics and Finance (Indef) M Rizal Taufikurahman mengatakan pemerintah perlu lebih selektif dalam menentukan program belanja setelah perubahan outlook tersebut.
“Perubahan outlook menjadi negatif pada dasarnya memberi sinyal bahwa ruang fiskal pemerintah akan semakin berada dalam pengawasan ketat pasar dan investor global,” ujar Rizal kepada Katadata, Kamis (5/3).
Ia menjelaskan, dampak utama dari perubahan outlook tidak selalu berupa pemotongan anggaran secara langsung, melainkan tekanan yang meningkat pada sisi pembiayaan negara.
Jika persepsi risiko investor meningkat, maka investor berpotensi meminta premi risiko yang lebih tinggi terhadap Surat Berharga Negara (SBN).
“Jika persepsi risiko meningkat dan investor meminta risk premium yang lebih tinggi terhadap SBN, maka yield obligasi berpotensi naik dan biaya bunga utang dalam APBN akan meningkat,” kata Rizal.
Menurutnya, kenaikan biaya pembiayaan tersebut dapat mempersempit ruang fiskal pemerintah. Oleh karena itu, pemerintah harus lebih disiplin dalam mengelola belanja agar tidak semakin menekan APBN.
Rizal menegaskan program prioritas pemerintah tidak harus dihentikan. Namun, belanja negara perlu difokuskan pada program yang benar-benar memiliki dampak besar terhadap produktivitas ekonomi.
“Program yang memiliki dampak produktivitas tinggi terhadap ekonomi tetap perlu dijaga, sementara belanja yang bersifat kurang produktif atau memiliki manfaat ekonomi yang terbatas seharusnya dievaluasi atau ditunda,” ujarnya.
Ia mengingatkan tanpa penajaman prioritas belanja, APBN berisiko terbebani oleh kombinasi belanja besar dan kenaikan biaya bunga utang, yang pada akhirnya dapat mempersempit ruang kebijakan fiskal pemerintah.
Untuk memulihkan kepercayaan investor, Rizal menilai pemerintah perlu memperkuat kredibilitas pengelolaan fiskal, bukan sekadar melakukan pemangkasan anggaran secara simbolik.
“Pemerintah perlu menunjukkan disiplin dalam menjaga defisit, meningkatkan kualitas penerimaan negara, serta memastikan berbagai program investasi memiliki tata kelola yang transparan dan tidak menimbulkan risiko fiskal tersembunyi,” katanya.
Sebelumnya, Fitch Ratings mengubah outlook peringkat utang Indonesia menjadi negatif dari stabil, meski tetap mempertahankan peringkat kredit jangka panjang valuta asing Indonesia di level BBB.
Dalam laporannya, Fitch menilai meningkatnya ketidakpastian kebijakan dan dorongan ekspansi belanja untuk mengejar target pertumbuhan ekonomi berpotensi menambah tekanan pada fiskal.
Lembaga pemeringkat itu juga memproyeksikan defisit anggaran Indonesia dapat mencapai 2,9% terhadap produk domestik bruto (PDB) pada 2026, sedikit di atas target pemerintah sebesar 2,7% PDB.



