REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – PT Pertamina (Persero) memastikan kapal perusahaan yang melintasi Selat Hormuz dalam kondisi aman di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan tersebut. Perusahaan terus memantau situasi sambil memprioritaskan keselamatan awak kapal.
Vice President Corporate Communication Pertamina Muhammad Baron mengatakan, saat ini terdapat dua kapal Pertamina yang berada di kawasan Selat Hormuz. Secara keseluruhan terdapat empat kapal Pertamina yang beroperasi di luar negeri, sementara dua kapal lainnya menggunakan jalur pelayaran berbeda.
- Selain Naiknya Harga Energi, Dampak Penutupan Selat Hormuz Pengaruhi Pangan Dunia
- Trump akan Kerahkan Armada ke Selat Hormuz, IRGC: Datanglah dan Kawal Mereka
- Antisipasi Dampak Penutupan Selat Hormuz, Diversifikasi Impor Minyak Jadi Kunci
“Sampai dengan saat ini kondisi masih aman. Kami berkoordinasi dan berterima kasih kepada seluruh stakeholder, baik dari Kementerian Luar Negeri maupun pihak-pihak terkait yang membantu mengamankan aset kami dan para awak kapal yang berada di sana,” kata Baron di Jakarta, dikutip pada Kamis (5/3/2026).
Pertamina terus memantau perkembangan situasi di kawasan tersebut. Perusahaan menempatkan keselamatan awak kapal sebagai prioritas utama sebelum mempertimbangkan aspek operasional lainnya.
.rec-desc {padding: 7px !important;}Ketegangan di Selat Hormuz meningkat setelah Iran memutuskan menutup jalur pelayaran strategis tersebut menyusul konflik dengan Amerika Serikat dan Israel. Penutupan jalur ini memicu kekhawatiran terhadap rantai pasok energi global karena kapal-kapal komersial tidak dapat melintasi perairan tersebut.
Sebelumnya, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia mengatakan pemerintah tengah mengupayakan jalur diplomasi terkait dua kapal Pertamina yang berada di kawasan Selat Hormuz. Pemerintah berupaya memastikan kapal tersebut dapat keluar dari wilayah tersebut dengan aman.
“Yang pertama adalah menyangkut dua kapal dari Selat Hormuz yang sekarang sedang kembali. Tadi juga sudah dibahas oleh Pertamina, kita lagi upaya diplomasi agar ada cara yang lebih baik untuk mereka bisa dikeluarkan,” kata Bahlil dalam konferensi pers di Kementerian ESDM.
Pernyataan itu disampaikan setelah Bahlil memimpin rapat Dewan Energi Nasional (DEN) atas arahan Presiden Prabowo Subianto di Jakarta, Selasa (3/3/2026). Rapat tersebut membahas dampak dinamika global terhadap stabilitas energi nasional.




