Balita Penerima Imunisasi Campak di RI Capai 63,52%, Paling Dikit di Aceh-Sumbar

kumparan.com
4 jam lalu
Cover Berita

Indonesia menempati peringkat kedua dengan kasus campak terbanyak versi World Health Organization (WHO) yang dirilis pada Januari 2026. Hal tersebut menjadi alarm bagi Indonesia untuk memberikan penanganan lebih lanjut terkait penyakit menular satu ini.

Berdasarkan data nasional yang dirilis Kemenkes, tercatat 8.224 kasus suspek campak, 572 kasus terkonfirmasi, dan 4 kematian (CFR 0,05 persen) per Februari 2026. Pada periode tersebut, terjadi 21 kejadian luar biasa (KLB) suspek campak dan 13 KLB campak terkonfirmasi laboratorium yang tersebar di 17 kabupaten/kota pada 11 provinsi.

Pentingnya Imunisasi Campak pada Anak

Meski masuk ke dalam kategori penyakit mematikan dan mudah menular, campak merupakan salah satu jenis penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi (PD3I). Imunisasi tersedia gratis di seluruh Puskesmas hingga Posyandu.

Berdasarkan data yang dirilis BPS, persentase anak umur 0-59 bulan (balita) yang pernah mendapat imunisasi campak di Indonesia tidak pernah 100 persen. Pada 2025, misalnya, persentase imuninasi campak pada balita di Indonesia cuma ada di angka 63,52 persen. Turun dari tahun sebelumnya yang berada di angka 72,45 persen.

Bila dibandingkan dengan data tahun 2016, cakupan imunisasi campak pada balita mengalami penurunan sekitar 9,23 persen.

Bila dirincikan imunisasi vaksin menurut provinsi, Aceh jadi provinsi dengan cakupan imunisasi vaksin terendah. Balita penerima imunisasi campak di provinsi itu cuma mencapai 27,79 persen pada 2025. Selain Aceh, Papua Pegunungan juga jadi provinsi dengan cakupan terendah yaitu 36,69 persen. Diikuti oleh Sumatera Barat yang ada di angka 43,5 persen.

Pada 2016, cakupan imunisasi campak pada balita di Aceh sebetulnya mencapai 59,09 persen. Penurunannya terjadi secara drastis. Sementara itu, cakupan imunisasi campak di Sumatera Barat pada 2016 mencapai 65,85 persen.

Sementara itu, ada beberapa provinsi dengan cakupan imunisasi campak tertinggi di Indonesia. Yogyakarta, misalnya, memiliki cakupan mencapai 83,42 persen. Diikuti Bali yang mencapai 79,62 persen dan Jakarta yang mencapai 73,61 persen.

Dalam dokumen berjudul Profil Statistik Kesehatan RI 20205 yang dirilis Kemenkes, terungkap alasan kenapa ada orang-orang yang tidak membawa anaknya untuk diimunisasi. Temuan tersebut berasal dari Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) Maret 2025. Imunisasi yang dimaksud mencakup campak hingga polio.

Data tersebut menunjukkan sebanyak 74,43 persen orang tua khawatir dengan efek samping vaksin. Selain itu, kekhawatiran akan kandungan dalam vaksin juga menjadi alasan balita tidak diimunisasi yang mencapai angka 41,37 persen.

Kendala biaya menjadi alasan terendah balita tidak diberi imunisasi, yaitu 6,28 persen. Kemudian, orang tua yang tidak tahu program imunisasi menempati peringkat terendah kedua yaitu 12,09 persen.

Di tingkat global, World Health Assembly (WHA) menggalakkan imunisasi penyakit mematikan sejak 1970-an, termasuk salah satunya campak. Upaya tersebut telah menjangkau lebih dari 90 juta anak di dunia pada tahun 2000-an.

Upaya tersebut bisa dirasakan di Indonesia. Dalam data yang dipublikasikan Our World in Data pada 2025, terungkap bahwa kematian akibat campak di Indonesia turun dari tahun ke tahun. Data yang disajikan Our World in Data berasal dari WHO dan UNICEF itu melakukan estimasti kematian akibat campak pada 1980 hingga 2023.

Perkiraan kasus kematian akibat campak di Indonesia pada 1980 mencapai 59.000, sedangkan data terbaru yaitu tahun 2023 mencatat kematian akibat campak berada di angka 1.690 kasus. Selisih keduanya mencapai 57.310 yang menunjukkan penurunan drastis, terlebih setelah Program Perluasan Imunisasi oleh WHA diluncurkan.

Di Indonesia, kasus suspek campak mencapai peringkat tertinggi pada 2025. Data tersebut dikumpulkan dari publikasi Kemenkes, yaitu Profil Kesehatan Indonesia yang dirilis setiap tahun dari 2017-2024. Data 2025 didapatkan dari rilis berita di situs Kemenkes karena Profil Kesehatan 2025 masih belum dirilis.

Selama 10 tahun terakhir, tahun 2025 mencapai angka tertinggi kasus suspek campak yang ada di Indonesia yaitu 63.769 kasus. Angka kasus suspek campak terendah terjadi pada 2024, yaitu 25.639 kasus.

Bila data 2024 dirincikan, Jawa Tengah menempati peringkat pertama sebagai provinsi yang mendapatkan kasus suspek campak dengan jumlah 5.210 kasus. Jawa Timur menempati peringkat kedua sebanyak 3.658 kasus.

Kemudian Jawa Barat dengan 3.073 kasus dan disusul DKI Jakarta yang berjumlah 1.651 kasus. Aceh sebagai provinsi dengan penerima imunisasi campak terendah menempati peringkat kelima dengan jumlah 1.537 kasus.

Adapun rincian 10 provinsi dengan kasus suspek campak terendah di Indonesia pada 2024. Papua Pegunungan menempati peringkat pertama dengan angka 1 kasus sepanjang 2024.

Kemudian, Papua Selatan berada di peringkat kedua dengan kasus sebanyak 19. Adapun Papua dengan banyak kasus suspek campak yang tercatat berjumlah 38.

Imunisasi campak memang bukan berarti bebas dari penyakit tersebut. Meskipun begitu, imunisasi tidak bisa disepelekan karena dapat membantu pencegahan hingga mengurangi risiko.

Penulis: Safina Azzahra Rona Imani


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Hoaks Foto dan Video Perang Iran - AS Banjiri Medsos: Dari Cuplikan Game dan AI
• 18 jam lalukatadata.co.id
thumb
Komisi XII DPR Bakal Panggil Bahlil Bahas Cadangan BBM RI Cukup 20 Harian
• 1 jam laludetik.com
thumb
Pelindo Antisipasi Peningkatan Arus Logistik di Pelabuhan Jelang Lebaran 2026
• 4 jam lalukumparan.com
thumb
Menlu Sugiono Kirim Surat ke Dubes Iran, Belasungkawa Meninggalnya Ali Khamenei
• 21 jam lalubisnis.com
thumb
Korlantas Polri Kerahkan Drone Presisi Dalam Operasi Ketupat 2026
• 22 jam lalurealita.co
Berhasil disimpan.