ExxonMobil Cepu Limited (EMCL) mencatat Perawatan Sumur (Well Services/WS) pada Sumur Banyu Urip A07 melalui program Water Shut-Off (WSO) berbuah hasil signifikan. Program itu merupakan upaya mengurangi aliran air yang tidak diinginkan di dalam sumur. Sehingga dapat memaksimalkan produksi minyak, sekaligus efisiensi waktu dan biaya operasional.
Produksi minyak Sumur Banyu Urip A07 melonjak dari 4.800 barel minyak per hari (BOPD) menjadi 12.300 BOPD atau meningkat sebesar 7.500 BOPD. Angka itu melampaui target awal sebesar 1.000 BOPD. Tambahan produksi ini berkontribusi langsung terhadap peningkatan lifting minyak nasional.
Kepala SKK Migas, Djoko Siswanto, mengatakan pencapaian ini menunjukkan kalau intervensi teknologi yang tepat dapat memberikan peningkatan produksi yang signifikan dalam waktu singkat. Ia menilai efisiensi juga menjadi nilai tambah penting dalam program tersebut.
“Selain meningkatkan produksi, kegiatan ini juga menunjukkan efisiensi biaya dan waktu. Praktik baik seperti ini perlu direplikasi di lapangan lain untuk mempercepat pencapaian target lifting nasional serta memperkuat ketersediaan energi,” kata Djoko melalui keterangan tertulis, dikutip pada Kamis (5/3).
Lapangan Banyu Urip selama ini menjadi tulang punggung produksi minyak nasional. Untuk itu, setiap tambahan barel yang dihasilkan dari lapangan ini berdampak strategis dalam menjaga stabilitas pasokan dan memperkuat ketahanan energi nasional.
Metode yang diterapkan dalam program WSO meliputi pemasangan bridge plug, re-perforation, serta stimulasi acidizing. Pendekatan teknologi ini terbukti efektif dalam mengoptimalkan potensi sumur eksisting tanpa perlu pengeboran baru, sehingga tambahan produksi dapat diperoleh lebih cepat dan lebih hemat biaya.
Secara operasional, seluruh pekerjaan dilakukan tanpa menggunakan rig (rigless operation) dengan memanfaatkan unit wireline, sehingga pelaksanaan menjadi lebih cepat dan ekonomis. Dari sisi anggaran, realisasi biaya tercatat sekitar 57 persen dari total anggaran yang telah disetujui, mencerminkan pengelolaan program yang efektif dan efisien.
SKK Migas menilai keberhasilan Well Services Sumur Banyu Urip A07 ini menegaskan kalau strategi optimalisasi sumur eksisting merupakan langkah konkret dan cost-effective dalam menjaga momentum peningkatan lifting minyak nasional. Praktik tersebut akan menjadi pembelajaran bagi Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) yang lain untuk dapat menerapkan teknologi dalam upaya peningkatan produksinya.





