BANDUNG, KOMPAS- Sudah terjadi empat kali serangan Iran ke aset Amerika Serikat di Riyadh, ibu kota Arab Saudi selama beberapa hari terakhir. Dalam kondisi ini sekitar 2.000 jemaah dari Jawa Barat masih melaksanakan ibadah umrah di Tanah Suci.
Konflik dipicu serangan Amerika Serikat-Israel ke Teheran, ibu kota Iran sejak Sabtu (28/2/2026). Korban jiwa terus berjatuhan dalam enam hari terakhir.
Iran pun membalas dengan serangan rudal dan pesawat nirawak ke seluruh kantor dan aset milik Amerika Serikat di negara-negara kawasan Timur Tengah. Salah satunya Arab Saudi.
Total sudah terjadi empat kali serangan di Riyadh sejak Minggu hingga Selasa (3/3/2026). Setelah serangan tersebut, pemerintah AS segera menutup kantor kedutaannya di Arab Saudi.
Di tengah serangan Iran, masih ada warga Indonesia, termasuk asal Jawa Barat, di Tanah Suci. Mereka masih menjalankan ibadah umrah dengan durasi waktu 9-12 hari.
Kepala Kantor Wilayah Kementerian Haji dan Umrah Jawa Barat, Boy Hary Novian saat diwawancarai Kamis (5/3/2026) mengatakan, terdapat sekitar 2.000 jemaah asal Jawa Barat di Tanah Suci hingga kini. Mereka dalam kondisi baik dan sedang menjalankan ibadah umrah di Mekkah dan Madinah.
Ia menuturkan, jumlah jemaah terus bergerak dinamis setiap hari. Waktu kepulangan jamaah berjalan sesuai jadwal.
"Sampai saat ini kepulangan jamaah berjalan lancar. Masih ada penerbangan dari Arab Saudi ke Indonesia," kata Boy.
Meskipun kondisi ribuan jemaah di Tanah Suci masih aman, Boy meminta 649 biro perjalanan di Jawa Barat menunda perjalanan ibadah umrah di Tanah Suci untuk sementara.
Himbauan untuk jemaah menunda perjalanan umrah sampai situasi di Timur Tengah kembali kondusif. Boy tak menampik masih ada jasa perjalanan yang tetap memberangkatkan jamaah ke Tanah Suci hingga kini.
"Mereka tetap memberangkatkan jemaah karena terkait hotel dan akomodasi yang sudah disiapkan di Mekkah dan Madinah. Jika dibatalkan, tidak ada pengembalian uang," ujarnya.
Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi berharap masyarakat Jawa Barat yang berada di Timur Tengah dalam kondisi aman di tengah konflik antara Israel-Amerika Serikat dan Iran. Apabila membutuhkan bantuan, lanjutnya, masyarakat Jawa Barat bisa menghubungi nomor telepon 082126030038.
"Penyediaan nomor telepon tersebut untuk memastikan keamanan dan keselamatan warga Jabar di Timur Tengah, " kata Dedi.
Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Provinsi Jawa Barat memaparkan, 3.960 pekerja migran asal Jabar kini berada di sejumlah negara antara lain Arab Saudi, Turki, Uni Emirat Arab, Qatar, Kuwait, Oman, Bahrain, dan Yordania.
Sebanyak 58,3 persen dari 3.960 pekerja migran asal Jabar itu laki-laki dan 42,7 persen perempuan. Selain itu, sebanyak 97 persen dari 3.960 itu merupakan pekerja formal.
"Kami masih berupaya mendata dulu warga Jabar di Timur Tengah dan memastikan kondisi mereka saat ini. Kemungkinan juga ada mahasiswa asal Jabar yang menimba ilmu di kawasan tersebut, " tambahnya.





