Bisnis.com, JAKARTA — Bank sentral Malaysia (Bank Negara Malaysia) mempertahankan suku bunga acuan dalam rapat kebijakan sembari memperingatkan risiko penurunan ekonomi akibat konflik di Timur Tengah.
Bank Negara Malaysia mempertahankan overnight policy rate (OPR) pada level 2,75% pada Kamis (5/3/2026). Keputusan moneter ini sesuai dengan ekspektasi 24 ekonom yang disurvei Bloomberg.
Adapun, dalam dua tahun terakhir ini Bank Negara Malaysia terpantau hanya sekali menyesuaikan biaya pinjamannya, yaitu dengan pemangkasan sebesar 0,25 poin persentase pada Juli 2025 untuk menopang perekonomian menghadapi kenaikan tarif dari Amerika Serikat.
Usai pengumuman itu, mata uang ringgit Malaysia relatif stabil di level 3,9432 ringgit per dolar AS. Sepanjang tahun berjalan, ringgit menjadi mata uang dengan kinerja terbaik di Asia dengan kenaikan 2,9% terhadap dolar AS.
Sementara itu, swap suku bunga ringgit hampir tidak berubah setelah keputusan tersebut. Adapun, pasar memperkirakan lebih dari 20% peluang kenaikan suku bunga sebesar 0,25 poin dalam horizon 12 bulan.
Bank Negara Malaysia tampak mengambil sikap hati-hati karena prospek perang berkepanjangan di Iran berisiko memicu kenaikan harga energi dan volatilitas mata uang. Kedua risiko itu dapat menjadi batu sandungan untuk inflasi dan pertumbuhan ekonomi Malaysia.
Tak hanya itu, negara yang sangat bergantung pada perdagangan ini juga masih menghadapi ancaman tarif lanjutan dari Presiden AS Donald Trump.
Bank Negara Malaysia menyebutkan dalam pernyataan bahwa risiko penurunan ekonomi telah meningkat, yang berasal dari eskalasi lebih lanjut dalam ketegangan geopolitik serta meningkatnya volatilitas di pasar keuangan global.
Dana Moneter Internasional, International Monetary Fund, sebelumnya juga menyatakan bahwa perang di Timur Tengah dapat menguji ketahanan ekonomi dunia dan berpotensi memicu guncangan baru.
Namun, Bank Negara Malaysia menyebutkan bahwa terdapat sejumlah faktor positif bagi ekonomi global, termasuk belanja teknologi yang lebih kuat serta kebijakan pro-pertumbuhan di beberapa ekonomi utama.
Lloyd Chan, ahli strategi mata uang di MUFG Bank Ltd., menilai bank sentral Malaysia itu menyampaikan nada yang berhati-hati namun seimbang.
"Kami memperkirakan BNM akan mempertahankan suku bunga dalam waktu lama, dan kami menilai sikap kebijakan saat ini bersifat netral hingga mendukung bagi ringgit," kata Chan, dikutip Bloomberg pada Kamis (5/3/2026).
Bank sentral Malaysia menegaskan bahwa mereka menilai sikap kebijakan moneter saat ini sudah tepat dan tetap mendukung perekonomian sambil menjaga stabilitas harga.





