Bangsa Swiss yang Gemar Berkata Baik

erabaru.net
2 jam lalu
Cover Berita

EtIndonesia. Kalau ada “Piala Dunia Berkata Baik” untuk melihat negara mana yang paling sering mengucapkan kata-kata baik dalam kehidupan sehari-hari, mungkin orang Swiss layak menjadi juaranya.

Saat pertama kali tiba di Swiss, saya pernah mengalami kejadian yang tak terlupakan. Suatu hari saya naik bus dalam keadaan flu berat—bersin terus-menerus dan tak henti mengusap hidung. Setiap kali saya bersin, penumpang di bus secara bergantian menoleh dan berkata, “Semoga sehat!”

Awalnya saya merasa canggung dengan perhatian seperti itu. Belum sampai tujuan, saya malah turun lebih dulu karena malu. Namun saat hendak turun, beberapa orang—termasuk sopir bus—bersamaan mengucapkan harapan agar saya cepat sembuh!

Di supermarket pun begitu. Kasir selalu menyapa pelanggan, dan sapaan itu berubah sesuai waktu. Setelah membayar, Anda mungkin akan mendengar, “Semoga harimu menyenangkan!” atau “Semoga malam yang indah!” atau “Selamat menikmati akhir pekan!”

Orang Swiss tak hanya berterima kasih, mereka juga tak pelit membalas dengan doa dan harapan baik. Saling mengucapkan hal baik seperti ini membuat aktivitas sederhana seperti belanja berubah menjadi sumber kebahagiaan kecil dalam keseharian.

Saat saya mendorong kereta bayi keluar rumah, hampir setiap kali ada orang yang mendekat dan memuji bayi saya—mengatakan matanya indah, kulitnya sehat, dan sebagainya. Sebagai seorang ibu, saya selalu merasa melayang, seakan bayi saya yang paling lucu di dunia.

Belakangan saya sadar, hampir semua bayi mendapat pujian serupa, dan setiap ibu pun merasakan kebahagiaan yang sama seperti saya.

Perlahan-lahan, saya tak lagi hanya memandang bayi saya sendiri. Ketika memperhatikan bayi orang lain, memang benar—mereka juga lucu! Tanpa terasa, saya mulai ikut memuji. Dari situlah saya mengenal banyak ibu muda lain, bertukar pengalaman mengasuh anak, dan mendapatkan banyak teman baru.

Namun yang paling menghangatkan hati selama bertahun-tahun ini justru adalah kebiasaan saling mengucapkan kata-kata baik dalam keluarga.

Suami saya orang Swiss. Setiap selesai makan, ia selalu berterima kasih dan mengatakan masakannya lezat, ia merasa puas. Sebelum berangkat kerja, ia mendoakan agar hari saya menyenangkan. Sebelum tidur, ia mengucapkan selamat beristirahat.

Lama-kelamaan, yang awalnya ucapan satu arah menjadi saling membalas doa. Dan hari-hari kami pun benar-benar terasa seperti kata-kata yang kami ucapkan setiap hari—penuh kegembiraan dan rasa cukup.

Saya juga memperhatikan keluarga besar suami. Mereka semua ahli dalam berkata baik, kapan pun dan di mana pun. Mungkin inilah salah satu kunci keharmonisan keluarga mereka.

Jika suatu hari Anda berkunjung ke Swiss dan membeli sandwich atau es krim untuk dimakan sambil berjalan, besar kemungkinan ada orang yang berkata, “Selamat menikmati!” atau “Semoga selera makanmu baik!”

Tak perlu terkejut atau merasa canggung. Cukup tersenyum dan berterima kasih. Jika orang itu juga sedang makan, balaslah dengan ucapan yang sama.

Ini seperti prinsip senyum:
Anda tersenyum, orang lain pun tersenyum.

Karena emosi itu menular—baik yang positif maupun yang negatif.

Hikmah Cerita

Berkata baik, berpikir baik, berbuat baik, dan berjalan di jalan yang baik—itulah nasihat yang sejak dahulu diajarkan para bijak kepada generasi muda.

Jika seseorang mampu menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari, hubungan sosialnya pasti baik. Dan orang yang memiliki relasi baik cenderung memiliki lebih banyak penolong dalam hidupnya. Dengan begitu, peluang untuk berhasil pun semakin besar.

Memang, budaya Asia—terutama masyarakat Tionghoa—cenderung lebih tertutup dan tidak terbiasa memuji atau menyapa orang asing dengan hangat seperti orang Barat. Jika terlalu ramah, mungkin justru dianggap aneh.

Namun perubahan karakter tidak harus terjadi dalam satu hari. Ia bisa dimulai sedikit demi sedikit—dari membiasakan senyum, menyapa, atau memberi perhatian kecil kepada orang sekitar.

Mungkin suatu hari, masyarakat kita pun bisa menjadi lebih hangat, lebih saling mendoakan, dan lebih mudah menyebarkan energi positif.

Karena satu kalimat baik yang sederhana, kadang mampu mengubah suasana hati seseorang sepanjang hari. (Jhon)


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Fadia Arafiq Punya Staf Tukang Ambil Uang, Anggota Grup WA Tahu Semua
• 9 jam lalujpnn.com
thumb
Pelaku Industri Hiburan Minta Dilibatkan Peraturan Teknis Perda KTR DKI Jakarta
• 20 jam lalutvonenews.com
thumb
Imigrasi Sulap Ruang Tunggu Layanan Jadi Galeri, Pamerkan Produk Karya Napi
• 2 jam laludetik.com
thumb
Akses Air Bersih dan Pengurangan Food Waste Didorong Selama Ramadan
• 10 jam lalumetrotvnews.com
thumb
38 Warga Ponorogo yang Masih Berada di Tanah Suci, Dijadwalkan Pulang 10 Maret Mendatang
• 7 jam lalusuarasurabaya.net
Berhasil disimpan.