Kantor Imigrasi Kelas I Non TPI Bogor, Jawa Barat (Jabar) menyulap ruang tunggu layanan hingga nampak seperti galeri. Produk seni karya warga binaan pemasyarakatan alias narapidana (napi) menghiasi tiap sudut galeri.
Menjadikan ruang tunggu layanan imigrasi sebagai etalase disebut sebagai langkah Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan (Imipas), dalam rangka mendorong pemasaran produk. Hal ini disampaikan Menteri Imipas Agus Andrianto, dengan harapan produk buatan napi semakin dikenal dan memperoleh pasarnya.
Rabu (4/3/2026), Menteri Agus mengecek pelayanan Kantor Imigrasi Kelas I Non TPI Bogor, sekaligus meresmikan Galeri Warga Binaan. Ia menegaskan balai latihan kerja (BLK) di lapas dan rutan adalah sarana pembinaan kemandirian, untuk membangun etos kerja dan keterampilan dan kedisiplinan para penghuninya. Sejurus dengan Asta Cita, kegiatan kemandirian di lapas dapat memperkuat pembangunan sumber daya manusia.
"Warga Binaan di semua Lapas dan Rutan itu ada BLK, Balai Latihan Kerja. Produknya macam-macam, hanya memang kelemahannya adalah pemasaran," ujar Menteri Imipas.
Diketahui produk buatan napi mulai dari kerajinan tangan, garmen dan sablon kaos, produk makanan dan minuman, bahkan hingga paving block dan batako. Menteri Imipas berharap Direktorat Jenderal Imigrasi dapat bersinergi dengan Direktorat Jenderal Pemasyarakatan untuk mengatasi hambatan kemajuan produk lapas tersebut.
"Memang sudah ada yang bisa ekspor, sebagian masih (untuk) kebutuhan lokal. Saya minta kepada teman-teman di seluruh kantor Imigrasi, menyiapkan lounge yang memasarkan produk yang dihasilkan oleh Warga Binaan, termasuk yang ada di bandara," imbuh Menteri Agus.
Ia berharap langkah yang diyakini strategis ini mampu memperluas akses pasar. Dalam konteks ini tentunya menyasar pengguna layanan keimigrasian. Menteri Agus menekankan umumnya kualitas produk buatan napi telah memenuhi standar pasar.
Pada kesempatan tersebut, dia turut menyampaikan soal penguatan BLK dan pemasaran produk ini termasuk dalam strategi pembinaan napi berbasis usaha produktif. "Mudah-mudahan nanti akan terus bisa dikembangkan, sehingga mereka memiliki kesempatan untuk etos kerja dan pada saat mereka kembali ke masyarakat, mereka tidak malas dan siap bekerja apapun," tutur Menteri Agus.
"Sekarang dapat premi saja, mereka mau kerja. Apalagi nanti kalau mereka sudah kerja di luar, yang tentunya disesuaikan dengan UMR (Upah Minimum Regional). Pasti mereka akan lebih rajin," harap Menteri Agus.
(aud/zap)





:strip_icc()/kly-media-production/medias/5521926/original/081985500_1772704215-IMG_0423.jpg)