Honda Prospect Motor (HPM) memantapkan langkahnya dengan menaruh fokus pada optimalisasi jaringan diler, serta kualitas layanan sebagai strategi penguatan pasar tahun ini.
Alih-alih mengejar ekspansi agresif dari sisi jumlah outlet, pabrikan memilih membangun fondasi berkelanjutan dengan mengutamakan kepuasan pelanggan di seluruh Indonesia.
"Fokus utama kami itu memastikan konsumen puas, memastikan konsumen terjaga, kepuasan pelanggannya terjaga. Jadi bukan jumlah fisiknya ya tapi coverage areanya, memastikan fasilitas dan kapasitas yang memadai di setiap daerah," kata Sales & Marketing and After Sales Director PT HPM Yusak Billy di Jakarta, Selasa (3/3).
Menurut Billy, hingga saat ini jaringan Honda telah mencakup sekitar 93 persen wilayah dengan populasi pengguna aktif yang signifikan. Cakupan tersebut dibangun berdasarkan data kepemilikan kendaraan yang masih beroperasi di tiap daerah.
“Di mana ada unit in operation Honda, atau 10 tahun kepemilikan Honda di suatu daerah dengan volume tertentu, itu harus ada diler di sana. Sekarang sudah 93 persen area ter-cover. Jadi bukan semata-mata jumlah diler, tapi coverage-nya.” terangnya.
Meski demikian, masih terdapat sekitar 7 persen wilayah yang belum sepenuhnya terlayani. Area-area tersebut kini masuk dalam agenda pengembangan Honda, baik dalam tahap perencanaan maupun pembangunan jaringan baru.
“Di Kalimantan Utara di Tarakan masih tahap perencanaan. Di Bali ada Gianyar tahap perencanaan, Singaraja tahap pembangunan. Di Sumatera Selatan ada Prabumulih. Di Papua Barat Daya di Sorong. Di Jawa Barat juga ada Majalengka dan Purwakarta.” pungkasnya.
Honda, katanya, menargetkan perluasan jaringan ini dapat diselesaikan secara bertahap dalam beberapa tahun ke depan. Tujuannya agar konsumen di daerah tidak perlu lagi menempuh jarak jauh hanya untuk melakukan perawatan kendaraan.
“Rencananya satu sampai tiga tahun ke depan semua coverage Indonesia bisa tercapai. Jadi konsumen tidak perlu ke pusat kota jauh-jauh. Kita harus siapkan jaringan untuk melayani perawatan kendaraan.” sambungnya.
Pendekatan unit in operation menjadi dasar utama dalam menentukan lokasi ekspansi. Daerah dengan jumlah kendaraan Honda aktif yang tinggi otomatis menjadi prioritas untuk pengembangan layanan.
“Unit in operation itu artinya 10 tahun masa kepemilikan dalam jumlah tertentu. Kalau sudah cukup, kita harus hadir di sana. Seperti di Merauke, unit operation-nya besar, banyak BR-V, mobil-mobil lama Honda, jadi harus kita rawat.” terang Billy.
Sementara itu, di wilayah perkotaan besar, Honda menilai kapasitas jaringan masih relatif aman. Tingkat okupansi bengkel dinilai masih berada dalam batas ideal untuk menjaga kualitas layanan.
“Kalau di Jakarta, Tangerang, Bekasi, okupansinya sekitar 60 sampai 70 persen. Kapasitas yang tersedia masih lebih besar dibanding unit operation yang ada, jadi konsumen tidak perlu khawatir.” imbuh Billy.
Di luar ekspansi jaringan, Honda juga tetap menaruh perhatian besar pada performa penjualan. Terlebih sejak performa penjualan dan pangsa pasar perusahaan mengalami penyusutan drastis dalam tiga tahun terakhir.
Mengacu data ritel Gaikindo, pada 2023 Honda mencatat penjualan sebanyak 128.010 unit dengan market share 12,8 persen. Namun anjlok pada 2024 menjadi 103.023 atau sebesar 11,6 persen, dan puncaknya di 2025 menjadi 71.233 unit sebesar 8,5 persen. Terjun bebas 30,8 persen penjualannya 2024 ke 2025.
"Angka penjualan memang serius kami perhatikan. Tapi yang jauh lebih penting itu bagaimana mengontrol pertumbuhan secara keseluruhan yang sehat dan berkelanjutan. Kami mau memastikan konsumen mudah membeli, mudah membawa kendaraannya, mudah menjualnya. Kepuasan pelanggan itu nomor satu buat kami," tuntasnya.




