Warisan Wastra Melayu Dorong Perekonomian Masyarakat

bisnis.com
6 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, JAKARTA - Identitas budaya masyarakat Riau tidak terlepas dari warisan Melayu yang kaya nilai dan filosofi. Di antara warisan tersebut, wastra seperti batik dan tenun bukan hanya sekadar kain tradisional, melainkan juga cerminan ketekunan, peran perempuan, serta kekuatan komunitas dalam menjaga tradisi lintas generasi.

Di sejumlah wilayah di Kabupaten Pelalawan, Provinsi Riau, wastra Melayu kini tidak hanya dipertahankan sebagai identitas budaya, tetapi juga dikembangkan sebagai bagian dari penguatan ekonomi berbasis komunitas, terutama bagi perempuan.

Rumah Batik Andalan: Menguatkan Perempuan Lewat Karya

Sejak 2015, Rumah Batik Andalan di Pangkalan Kerinci menjadi ruang belajar dan berkarya bagi ibu rumah tangga. Program ini memberikan pelatihan teknis membatik, pendampingan usaha, serta akses untuk meningkatkan kualitas produk dan memperluas pasar.

Melalui proses tersebut, para perajin mulai menemukan dan semakin memperkuat identitas batik khas Pelalawan. Salah satu motif yang dikenal adalah Bono, terinspirasi dari fenomena Ombak Bono di Sungai Kampar. Pola gelombangnya menggambarkan semangat masyarakat Riau untuk terus bergerak maju dan beradaptasi terhadap perubahan, tanpa kehilangan akar budaya. Seperti halnya Rumah Batik Andalan yang terus berkembang, namun tetap berpijak pada nilai lokal dan kreativitas masyarakatnya.

Selain Bono, terdapat motif lain seperti Akasia, Eukaliptus, Timun Suri, dan Lakum yang merefleksikan kekayaan alam dan budaya setempat. Rumah Batik Andalan memproduksi batik cap, tulis, hingga batik dengan pewarna alami, dengan harga berkisar antara Rp200.000 hingga Rp500.000 tergantung tingkat kerumitan motifnya. Produk-produknya bahkan telah memenuhi Standar Nasional Indonesia (SNI), menunjukkan peningkatan kualitas dan daya saing perajin lokal.

Rumah Batik Andalan merupakan bagian dari program Community Development PT Riau Andalan Pulp and Paper (RAPP), unit operasional APRIL Group. Melalui pendekatan pendampingan yang berkelanjutan, program ini mendorong perempuan lokal untuk memiliki keterampilan dalam melestarikan budaya setempat, serta menjadikannya sebagai peluang pendapatan tambahan.

Rumah Tenun Pulau Payung: Menghidupkan Tradisi, Membuka Peluang

Upaya serupa juga terlihat di Pulau Payung, Kabupaten Pelalawan, melalui Rumah Tenun Pulau Payung yang berdiri pada 2024. Berawal dari perempuan perajin yang berinisiatif untuk kembali menghidupkan keterampilan menenun, kegiatan ini kian berkembang menjadi unit usaha berbasis komunitas.

Setiap perajin mampu menghasilkan sekitar tujuh hingga delapan lembar kain per bulan menggunakan Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM), mempertahankan teknik tradisional yang menghasilkan karya buatan tangan dengan karakter khas.

Motif yang diangkat antara lain Siku Awan, Siku Tunggal, dan Tampuk Manggis, yang sarat makna dan filosofi Melayu. Produk yang dihasilkan mencakup kain untuk atasan, kain samping bermotif penuh, serta selendang dengan harga berkisar antara Rp300.000 hingga Rp900.000.

Dalam proses produksinya, Rumah Tenun Pulau Payung juga mulai memanfaatkan benang viscose yang berasal dari serat terbarukan. Pendekatan ini menunjukkan bagaimana tradisi dapat beradaptasi dengan kebutuhan dan tren keberlanjutan tanpa meninggalkan teknik tradisionalnya.

Inisiatif ini didukung oleh Asia Pacific Rayon (APR), sister company APRIL Group, melalui program pendampingan yang mencakup pelatihan teknis, dukungan peralatan, serta penguatan kapasitas usaha dan pemasaran.

Mendorong Kemajuan Inklusif

Pemberdayaan perempuan melalui wastra Melayu merupakan bagian dari komitmen APRIL Group dalam mendorong kemajuan sosial dan ekonomi masyarakat di sekitar wilayah operasionalnya.

Komitmen ini tertuang dalam visi APRIL2030, khususnya pilar Kemajuan Inklusif, yang menargetkan penghapusan kemiskinan ekstrem dalam radius 50 km dari wilayah operasional perusahaan. Melalui berbagai intervensi, termasuk pengembangan UMKM dan penyediaan mata pencaharian alternatif, APRIL berupaya menciptakan kemandirian ekonomi yang berkelanjutan.

Perusahaan juga berkomitmen memberikan kesempatan yang setara bagi perempuan. Menurut Laporan Keberlanjutan 2024, sebanyak 69 persen penerima manfaat program pengembangan masyarakat APRIL adalah perempuan, melampaui target 50 persen pada 2030.

Adanya Rumah Batik Andalan dan Rumah Tenun Pulau Payung menjadi bukti nyata bahwa warisan budaya dapat menjadi jembatan menuju masa depan yang lebih inklusif, di mana tradisi, kreativitas, dan pemberdayaan berjalan beriringan.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Kerugian Bank Jambi Akibat Sistem Dibobol Ditaksir Capai Rp143 Miliar
• 5 jam lalutvrinews.com
thumb
Pendapatan OpenAI Tembus Rp420 Triliun Berkat Ekspansi Bisnis
• 9 jam laluidxchannel.com
thumb
Dunia Pendidikan Heboh Lagi! Mahasiswa Undip Diduga Dihajar 30 Teman Satu Jurusan, Disabet hingga Disundut Rokok
• 16 jam lalutvonenews.com
thumb
Zulhas Pastikan Ketersediaan dan Harga Pangan Aman di Tengah Konflik Timur Tengah
• 11 jam laluidxchannel.com
thumb
Resort Terbakar, 1 Karyawan Tewas 
• 22 jam lalurealita.co
Berhasil disimpan.