Dua kapal kargo pengangkut minyak mentah milik Pertamina dilaporkan tertahan di kawasan konflik Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang menjadi salah satu arteri utama perdagangan energi dunia.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengonfirmasi, kedua kapal tersebut untuk sementara bersandar di lokasi yang lebih aman, guna memprioritaskan keselamatan awak kapal serta muatan energi yang akan dibawa ke Indonesia.
"Sekarang kapal itu lagi bersandar untuk cari tempat yang lebih aman, sambil kita melakukan negosiasi, komunikasi yang lebih baik agar kita cari solusinya," ujar Bahlil dalam acara buka bersama KAHMI di KESDM, Jakarta, Rabu (4/3/2026).
Pelaksana Tugas Corporate Secretary PT Pertamina International Shipping (PIS) Vega Pita menjelaskan, dua kapal yang dimaksud adalah Pertamina Pride (Ship Management NYK) dan Gamsunoro (Synergy Ship Management).
Keduanya dilaporkan masih berada di area teluk yang memiliki tingkat risiko tinggi, akibat meningkatnya ketegangan di kawasan tersebut.
Kedua kapal tersebut membawa kargo minyak mentah dari Timur Tengah, wilayah yang selama ini menyumbang sekitar 25% dari total impor crude oil Indonesia.
Situasi ini membuat pemerintah mulai menyiapkan langkah mitigasi, guna menjaga ketahanan pasokan energi domestik.
"Sambil kita memikirkan itu, maka kita mencari alternatifnya di Amerika untuk bisa menutupi apa yang ada pada dua kargo ini," ungkap Bahlil.
Vega memastikan sebanyak 30 pekerja dan keluarga di kantor cabang PIS Middle East (PIS ME) di Dubai, dalam kondisi aman dan terus mengikuti arahan Kedutaan Besar Republik Indonesia setempat.
“Sambil terus mengikuti perkembangan selama 24/7, kedua kapal kami upayakan bisa segera keluar dari area teluk."
"Saat ini, tim armada kami tengah menjalin komunikasi intens dengan pihak pengelola untuk koordinasi dan memastikan keselamatan para kru dan kapal,” ujar Vega.
Baca Juga: Bahlil: Storage Minyak 3 Bulan di Sumatra Bakal Dibangun Swasta
Secara keseluruhan, terdapat empat kapal PIS yang beroperasi di kawasan Timur Tengah, termasuk dua kapal yang masih berada di area teluk dan dipantau secara real time.
PIS juga berkoordinasi dengan ship management dan otoritas maritim setempat, serta mematuhi arahan Kementerian Luar Negeri dan perwakilan RI di wilayah tersebut. (*)





