Pendidikan di Tengah Gejolak Global

kumparan.com
1 jam lalu
Cover Berita

Perang antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel terjadi ribuan kilometer dari Indonesia. Namun, dalam dunia yang saling terhubung secara ekonomi, politik, dan digital, perang itu terasa dekat. Dampaknya merambat melalui harga energi, pasar keuangan, stabilitas geopolitik, hingga psikologi publik. Pertanyaannya: di mana posisi pendidikan dalam pusaran gejolak global semacam ini?

Sering kali pendidikan dipandang sebagai sektor yang relatif aman karena tidak terdampak langsung oleh dentuman senjata. Padahal, justru di masa krisis global, pendidikan menjadi sektor yang paling rentan sekaligus paling menentukan masa depan bangsa.

Tekanan Fiskal dan Risiko terhadap Anggaran Pendidikan

Konflik berskala besar di Timur Tengah hampir selalu berdampak pada kenaikan harga minyak dunia. Bagi Indonesia yang masih bergantung pada impor energi, kenaikan harga minyak berarti meningkatnya beban subsidi dan tekanan terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Dalam situasi seperti ini, pemerintah menghadapi dilema: menjaga stabilitas ekonomi jangka pendek atau mempertahankan investasi jangka panjang di sektor pendidikan.

Konstitusi Indonesia mengamanatkan alokasi minimal 20 persen APBN untuk pendidikan. Namun menjaga angka ini secara formal belum tentu menjamin kualitas dan efektivitas belanja pendidikan. Dalam kondisi fiskal tertekan, belanja pembangunan infrastruktur sekolah, peningkatan mutu guru, atau pendanaan riset bisa saja tertunda.

Karena itu, kebijakan pemerintah harus menempatkan pendidikan bukan sebagai pos yang fleksibel untuk dikurangi, melainkan sebagai sektor strategis yang justru diperkuat ketika ketidakpastian global meningkat. Krisis global seharusnya tidak menggerus komitmen terhadap pembangunan sumber daya manusia.

Stabilitas Biaya Pendidikan dan Akses Masyarakat

Kenaikan harga energi berdampak langsung pada biaya hidup masyarakat. Jika inflasi meningkat, keluarga kelas menengah dan bawah akan merasakan tekanan berat. Dalam situasi seperti itu, pendidikan sering menjadi korban tidak langsung: anak terancam putus sekolah, biaya sekolah swasta meningkat, atau mahasiswa kesulitan membayar uang kuliah.

Pemerintah perlu memastikan stabilitas biaya pendidikan melalui beberapa langkah konkret: menjaga kelangsungan Bantuan Operasional Sekolah (BOS), memperluas beasiswa bagi kelompok rentan, serta mengawasi agar tidak terjadi lonjakan biaya pendidikan yang tidak proporsional. Kebijakan afirmatif menjadi semakin penting ketika ekonomi global tidak stabil.

Pendidikan harus tetap menjadi ruang mobilitas sosial, bukan menjadi beban tambahan bagi keluarga yang sedang tertekan secara ekonomi.

Ketahanan Sistem melalui Digitalisasi

Konflik global juga berdampak pada mobilitas internasional dan rantai pasok global. Pengalaman pandemi Covid-19 telah menunjukkan bahwa sistem pendidikan yang tidak memiliki fondasi digital yang kuat akan terguncang ketika terjadi krisis.

Dalam konteks ini, percepatan digitalisasi pendidikan bukan sekadar agenda modernisasi, melainkan strategi ketahanan nasional. Pemerintah perlu memperkuat infrastruktur pembelajaran daring, sistem manajemen pembelajaran nasional, serta keamanan siber sektor pendidikan. Pelatihan guru dalam pedagogi digital juga harus menjadi prioritas.

Dengan sistem yang fleksibel dan adaptif, pendidikan Indonesia akan lebih siap menghadapi krisis apa pun—baik pandemi, konflik global, maupun bencana ekonomi.

Literasi Global dan Pendidikan Perdamaian

Konflik Iran–AS/Israel bukan hanya persoalan geopolitik; namun juga menjadi narasi global yang dikonsumsi melalui media sosial dan kanal digital. Siswa dan mahasiswa Indonesia terpapar berita, opini, bahkan propaganda dari berbagai sumber. Tanpa literasi yang memadai, informasi tersebut dapat memicu polarisasi, sentimen sektarian, atau sikap emosional yang tidak produktif.

Di sinilah pentingnya kebijakan penguatan literasi global dan pendidikan perdamaian. Kurikulum perlu memberi ruang bagi pembahasan isu-isu internasional secara kritis dan reflektif. Pendidikan kewargaan global, literasi media, dan dialog lintas budaya harus diperkuat.

Generasi muda perlu diajak memahami bahwa konflik internasional memiliki dimensi sejarah, politik, ekonomi, dan keagamaan yang kompleks. Sikap kritis dan empati harus dibangun secara bersamaan. Pendidikan tidak boleh menjadi ruang reproduksi kebencian, tetapi menjadi laboratorium dialog dan rekonsiliasi.

Dukungan Psikososial bagi Peserta Didik

Ketegangan global sering menimbulkan kecemasan kolektif, terutama pada generasi muda yang hidup dalam arus informasi tanpa henti. Paparan gambar kekerasan, ancaman perang, dan retorika permusuhan dapat memengaruhi kesehatan mental siswa dan mahasiswa.

Pemerintah perlu memperkuat layanan bimbingan dan konseling di sekolah serta kampus. Guru perlu dibekali kemampuan untuk mengelola diskusi kelas mengenai isu sensitif secara pedagogis dan konstruktif. Pendidikan karakter tidak hanya berbicara tentang disiplin dan prestasi, tetapi juga tentang kemampuan mengelola emosi dan membangun solidaritas.

Ketahanan bangsa tidak hanya diukur dari stabilitas ekonomi, tetapi juga dari kesehatan mental generasi mudanya.

Diversifikasi Kerja Sama dan Diplomasi Pendidikan

Konflik global juga dapat memengaruhi kerja sama pendidikan internasional. Mobilitas mahasiswa dan kolaborasi riset bisa terganggu jika situasi keamanan memburuk di kawasan tertentu. Oleh karena itu, pemerintah perlu meningkatkan para mitra pendidikan dan memperkuat kerja sama regional di Asia Tenggara dan Asia Timur.

Lebih jauh lagi, pendidikan dapat menjadi instrumen diplomasi yang efektif. Indonesia memiliki posisi strategis sebagai negara demokratis dengan masyarakat majemuk dan tradisi moderasi beragama. Melalui beasiswa, pertukaran mahasiswa, dan forum dialog akademik, Indonesia dapat memainkan peran sebagai jembatan peradaban.

Di tengah konflik global, diplomasi pendidikan menjadi bentuk soft power yang memperkuat citra Indonesia sebagai bangsa yang mengedepankan dialog dan perdamaian.

Pendidikan sebagai Investasi Jangka Panjang

Setiap krisis global menguji ketahanan suatu bangsa. Negara yang hanya fokus pada penanganan jangka pendek tanpa menjaga investasi jangka panjang akan tertinggal ketika situasi membaik. Pendidikan adalah investasi jangka Panjang yang paling strategis.

Konflik di Timur Tengah mungkin suatu saat mereda. Harga minyak akan stabil kembali. Pasar keuangan akan pulih. Namun kualitas generasi yang dibentuk hari ini akan menentukan posisi Indonesia dalam dekade mendatang.

Karena itu, kebijakan pemerintah perlu melihat pendidikan bukan sebagai sektor konsumtif, melainkan sebagai fondasi kedaulatan nasional. Ketahanan ekonomi, stabilitas politik, dan daya saing global semuanya berakar pada kualitas manusia yang dibentuk melalui pendidikan.

Penutup

Perang Iran–AS/Israel mengingatkan kita bahwa dunia tidak pernah sepenuhnya stabil. Ketidakpastian adalah keniscayaan dalam tatanan global. Dalam situasi seperti itu, bangsa yang kuat bukanlah yang bebas dari guncangan, melainkan yang mampu menjaga arah dan komitmennya.

Indonesia perlu memastikan bahwa pendidikan tetap menjadi prioritas utama, bahkan—atau justru terutama—ketika tekanan global meningkat. Melindungi anggaran pendidikan, menjaga akses masyarakat, memperkuat literasi global, mengembangkan sistem digital yang tangguh, serta memanfaatkan pendidikan sebagai diplomasi adalah langkah-langkah strategis yang harus diambil.

Di tengah dunia yang penuh konflik, pendidikan adalah ruang di mana harapan dirawat dan masa depan dirancang. Jika kebijakan publik mampu menjaga sektor ini tetap kokoh, maka gejolak global tidak akan melemahkan bangsa, melainkan justru mematangkannya.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Danantara: Konflik AS–Iran Buka Peluang Baru Bagi Indonesia
• 2 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
4 Pelabuhan di Banten Disiapkan Buat Mudik: Merak, Ciwandan, hingga BBJ
• 20 jam laludetik.com
thumb
Free and Open: Arah Strategis Hubungan Indonesia-Jepang
• 6 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Prabowo Ingatkan Risiko Perpecahan
• 20 jam lalumediaindonesia.com
thumb
Penerima PKH Jalani Ramadan dengan Tenang, Tak Khawatir Kebutuhan Keluarga
• 2 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.