JAKARTA, KOMPAS.com — Langkah kaki menyusuri gang sempit di RT 13 RW 04 Kebon Pala, Kelurahan Kampung Melayu, Jakarta Timur, segera disambut pemandangan kontras antara aktivitas warga dan ancaman yang datang dari aliran Kali Ciliwung di dekat permukiman.
Di balik tembok rumah yang kusam oleh bekas rendaman air, aroma tanah basah dan sisa lumpur menjadi bagian dari keseharian warga. Banjir yang datang berulang kali membuat jejak air terlihat jelas di dinding rumah-rumah warga.
Sudah lebih dari tiga dekade, banjir bukan lagi sekadar tamu tak diundang, melainkan bagian dari siklus hidup yang memaksa warga terus beradaptasi di tengah ketidakpastian.
Baca juga: Kisah Warga Muara Angke: 40 Tahun Bertahan di Garis Bencana Banjir Rob Imbas Tekanan Ekonomi
Pemandangan mencolok tampak pada tiang listrik dan dinding rumah yang dipasangi angka pengukur ketinggian air. Garis merah di angka 200 sentimeter menjadi penanda betapa seringnya kawasan ini terendam banjir.
Strategi bertahan hidup warga juga terlihat dari bentuk bangunan rumah. Hampir setiap rumah di kawasan ini memiliki dua hingga tiga lantai.
Bagi warga, lantai dasar adalah ruang yang sudah direlakan untuk digenangi air ketika banjir datang. Sementara lantai atas menjadi tempat terakhir untuk menyelamatkan barang berharga dan anggota keluarga saat air kiriman dari hulu mulai meluap.
Di tengah keterbatasan penanganan banjir yang dirasakan warga, inisiatif lokal menjadi salah satu penopang keselamatan.
Anak-anak dengan tas sekolah berwarna cerah terlihat berlalu-lalang di gang sempit yang hanya cukup dilalui satu sepeda motor.
Mereka tetap bermain dan beraktivitas seperti biasa, meskipun kawasan tersebut bisa berubah menjadi aliran air dalam hitungan jam ketika hujan deras mengguyur wilayah hulu.
Namun di balik keceriaan itu, tersimpan trauma kolektif yang dialami warga selama bertahun-tahun menghadapi banjir.
Orang tua mereka harus terus memantau kondisi sungai melalui informasi di grup WhatsApp warga, terutama saat hujan deras mengguyur wilayah Bogor yang berada di hulu Sungai Ciliwung.
Baca juga: Jerit Hati Warga Muara Angke Hidup di Tengah Banjir Rob: Mau Tidur Juga Susah
Banjir besar sejak 1996Ketua RT 13 RW 04 Kebon Pala, Sanusi, mengatakan banjir di wilayah tersebut sudah terjadi sejak lama, tetapi intensitasnya meningkat sejak pertengahan 1990-an.
“Kalau banjir yang paling besar itu mulai tahun 1996, sudah hampir 30 tahun. Sebelum 1996 sebenarnya sudah ada banjir, tapi tidak sebesar itu. Setelah itu terjadi lagi tahun 2002, lalu 2007 yang paling parah,” kata Sanusi saat ditemui Kompas.com di rumahnya, Selasa (3/3/2026).
Banjir pada 2007 menjadi peristiwa yang paling membekas bagi warga.
“Iya, 2007 paling parah. Air sampai masuk ke lantai dua rumah saya. Bahkan di lantai dua itu sampai sepinggang. Setelah itu ada lagi banjir tahun 2013, tapi tidak separah 2007. Lalu tahun 2020 juga besar lagi,” ujar dia.
Dalam beberapa tahun terakhir, menurut Sanusi, frekuensi banjir justru semakin sering terjadi.
“Kalau sekarang malah lebih sering. Di sini kadang hampir setiap bulan bisa banjir kalau hujan lama di Bogor atau di sini juga hujannya terus. Air di jalan bisa sampai dua meter,” kata Sanusi.
Kondisi tersebut membuat warga memiliki ukuran tersendiri dalam menilai tinggi air.
“Iya, karena sudah sering. Kadang kalau air naik sedikit, warga sudah anggap biasa saja. Kalau cuma sepinggang orang dewasa, mereka bilang masih kecil,” tutur Sanusi.
Baca juga: Jakarta Harus Segera Selesaikan Banjir dan Sampah
Rumah bertingkat sebagai benteng terakhirDi RT 13 RW 04 Kebon Pala terdapat sekitar 96 kepala keluarga yang menempati 53 bangunan rumah. Banyak rumah yang sekarang sudah dibangun dengan dua atau tiga lantai.
Pembangunan rumah bertingkat tidak hanya dipengaruhi ancaman banjir, tetapi juga kepadatan penduduk.
“Salah satunya karena banjir, tapi juga karena kepadatan penduduk. Dalam satu rumah bisa dua sampai empat kepala keluarga, karena anak yang sudah menikah biasanya tetap tinggal di sini,” ujar Sanusi.
Ketika banjir datang, kerugian warga hampir selalu terjadi, terutama bagi mereka yang menggantungkan hidup dari usaha rumahan.
“Kerugian pasti ada. Banyak warga di sini pedagang rumahan. Kalau banjir, otomatis mereka tidak bisa jualan. Belum lagi barang-barang rumah tangga seperti kasur, pakaian, dan lemari sering rusak,” kata Sanusi.
Tak jarang warga kehilangan barang karena banjir datang secara tiba-tiba.
“Pernah. Kalau banjir datang tiba-tiba tanpa kabar, banyak lemari sampai terbalik. Barang-barang warga habis terendam,” tutur dia.
Baca juga: Hilangnya Situ-situ Pengendali Banjir di Jabodetabek, dari Ribuan Kini Tinggal 187
Warga hidup dengan sistem peringatan sendiriBagi Sanusi, menghadapi banjir tidak hanya soal menyelamatkan barang, tetapi juga kesiapsiagaan. Ia mengaku rutin memantau kondisi air dari wilayah hulu Sungai Ciliwung.
“Kalau ada informasi air naik di Depok dengan teman dan kenalan saya di sana, biasanya sekitar enam jam kemudian air sampai ke sini. Jadi saya sering cek informasi itu,” kata Sanusi.
Jika ada kabar kenaikan air, ia segera memberi tahu warga.
“Kalau sudah ada kabar, saya bangunkan warga supaya bersiap karena pasti jeda enam jam setelah informasi di wilayah kita akan banjir,” ujar dia.
Akibatnya, musim hujan menjadi periode yang penuh kewaspadaan bagi dirinya.





