Kemendag & Eksportir Rumuskan Langkah Antisipatif Hadapi Gejolak Iran vs Israel-AS

bisnis.com
2 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, JAKARTA — Kementerian Perdagangan (Kemendag) akan menggelar pertemuan dengan para eksportir untuk merumuskan langkah antisipatif menghadapi potensi dampak eskalasi konflik geopolitik di Timur Tengah terhadap kinerja perdagangan, terutama bagi komoditas yang bergantung pada bahan baku impor.

Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso mengatakan pemerintah memilih merumuskan kebijakan berbasis masukan langsung dari pelaku usaha, sehingga pertemuan dengan eksportir dijadwalkan. Tujuannya untuk memetakan tantangan teknis di lapangan dan opsi solusi. 

“Saya ingin tau secara teknis kira-kira masalahnya di mana para eksportir itu. Para eksportir, dia juga impor bahan baku. Besok kita akan ketemu,” kata Budi saat ditemui di Kantor Kemendag, Jakarta, Kamis (5/3/2026).

Budi menyampaikan pemerintah belum dapat menghitung secara pasti potensi penurunan ekspor akibat konflik tersebut. “Kami juga belum bisa memastikan sebelum kami memang dapat masukan juga dari para pelaku usaha. Karena kan ini, ya mudah-mudahan harapan kita akan selesai, perang cepat selesai,” ujar Budi.

Budi menambahkan, komoditas yang menggunakan bahan baku impor berpotensi terdampak jika gangguan rantai pasok global terjadi akibat konflik geopolitik.

Oleh sebab itu, selain mengidentifikasi hambatan yang dihadapi para eksportir, pemerintah juga menyiapkan strategi diversifikasi pasar ekspor agar produk seperti minyak sawit mentah (CPO) tetap terserap, termasuk dengan membuka peluang pasar nontradisional.

Baca Juga

  • Kemendag Sebut Harga Kebutuhan Pokok Masih Aman di Tengah Gejolak Timur Tengah
  • AS Terapkan Tarif 143% ke Panel Surya RI, Kemendag Bakal Bela Kepentingan Industri
  • Impor Kedelai-Gandum dari AS, Kemendag Pastikan Industri Lokal Tetap Aman

“Itu yang besok juga akan saya bicarakan dengan para eksportir,” ujarnya.

Adapun pertemuan tersebut rencananya akan melibatkan sejumlah eksportir yang tergabung dalam asosiasi, termasuk Gabungan Perusahaan Ekspor Indonesia (GPEI) melalui sambungan telepon.

UMKM

Budi juga mengatakan di tengah ketegangan geopolitik yang memengaruhi rantan pasok global, indonesia berkesempatan memperkuat posisi dalam peta perdagangan internasional.

“Kalau krisis geopolitik itu biasanya nanti akan merubah peta perdagangan. Nah ketika global supply chain terganggu, ini secara global kan pasti ada yang ekspornya terhambat, termasuk juga impornya terhambat,” kata Budi.

Menurut Budi, gangguan rantai pasok global akibat krisis geopolitik berpotensi menimbulkan kekosongan pasokan di sejumlah pasar negara lain. Kondisi tersebut dapat menjadi peluang bagi Indonesia untuk memperluas pasar dan mengisi kebutuhan yang sebelumnya dipenuhi oleh negara pemasok lain.

Sebagai contoh, program business matching yang melibatkan UMKM telah membuahkan hasil. Saat ini program tersebut diarahkan untuk menembus negara-negara yang mengalami kekosongan pasokan akibat krisis global.

“Sekarang sudah mulai, Januari kemarin juga sudah transaksinya sudah 4 juta, sekarang yang Februari tadi kami dengan Bu Dirjen [Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional] sudah memetakan mana negara-negara seperti Asia Tenggara, kemudian Afrika kita masuki untuk mengisi kekosongan tadi,” kata Budi.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Kumpulkan Relawan PMI Makassar, Daeng Ical Canangkan Berbagai Program di 2026
• 10 jam laluharianfajar
thumb
Tak Tayang di TV, Ini Link Live Streaming Newcastle United vs Manchester United yang Sedang Berlangsung
• 16 jam laluviva.co.id
thumb
Prabowo Kirim Surat ke Presiden Iran, Sampaikan Duka Cita Atas Wafatnya Ayatollah Ali Khamenei
• 8 jam lalukompas.tv
thumb
Penyaluran Bantuan ke Gaza Ikut Terganggu Imbas Aksi Permusuhan di Timur Tengah
• 10 jam lalusuarasurabaya.net
thumb
Nggak Mau yang Bekas-bekas, Mawa Tak Segan Minta Insanul Fahmi dan Inara Rusli untuk Bersatu: Aku Ikhlas
• 10 jam lalugrid.id
Berhasil disimpan.