FAJAR, MAKASSAR — Banyak orang mengeluhkan jerawat yang tak kunjung membaik meski menggunakan berbagai produk skincare. Kondisi ini kerap menimbulkan frustrasi dan menurunkan kepercayaan diri.
Padahal, jerawat tidak selalu bisa diatasi hanya dengan perawatan dari luar. Banyak kasus, jerawat dipengaruhi oleh faktor internal yang membutuhkan penanganan medis berbeda, termasuk terapi hormon hingga penggunaan antibiotik.
Dokter spesialis kulit dan kelamin Fajar Medical Center, dr Syafruddin Amin menjelaskan,jerawat memiliki proses terbentuk yang kompleks. Istilah medisnya, patogenesis terjadinya jerawat itu ada empat faktor utama.
Faktor pertama adalah produksi sebum atau minyak berlebih dari kelenjar minyak. Faktor kedua adalah berkembangnya bakteri Propionibacterium acnes di dalam pori-pori kulit. Bakteri ini memicu peradangan sehingga jerawat menjadi merah, nyeri, hingga bernanah.
Faktor ketiga yakni penyumbatan saluran kelenjar sebum akibat penebalan dinding saluran. Sementara faktor keempat adalah pengaruh hormon, terutama hormon androgen. Kelebihan hormon ini dapat merangsang produksi minyak berlebih dan memperparah jerawat, khususnya pada remaja dan dewasa muda.
Penanganan jerawat harus disesuaikan dengan faktor penyebabnya. Jika jerawat dipicu produksi minyak berlebih, terapi difokuskan pada penghambatan sekresi kelenjar minyak.
“Kalau ada infeksi, maka diberikan antibiotik. Kalau ada penyumbatan, komedonya harus dikeluarkan. Sedangkan bila faktor hormon yang dominan, terapinya menggunakan obat anti hormon,” kata dr Syafruddin, Senin, 12 Januari.
Dokter kulit di Erha Ultimate Klinik, dr Destiana Setyosunu menambahkan,jerawat atau acne vulgaris merupakan penyakit peradangan kronis pada kelenjar pilosebasea. Jerawat ditandai dengan munculnya komedo, papul, pustul, hingga kista yang berpotensi meninggalkan bekas permanen jika tidak ditangani secara tepat.
“Jerawat dipicu oleh berbagai faktor, baik dari dalam tubuh maupun lingkungan luar. Faktor genetik, hormon, serta gaya hidup sangat memengaruhi kondisi kulit seseorang,” akunya.
Pada laki-laki, jerawat kerap dipicu kebiasaan merokok, konsumsi alkohol, kurang tidur, dan stres. Sementara pada perempuan, penggunaan kosmetik yang tidak sesuai jenis kulit serta perubahan hormonal menjelang menstruasi berperan besar dalam munculnya jerawat.
“Selain perawatan luar, jerawat akibat faktor genetik dan hormonal sering kali memerlukan terapi. Ini bawah pengawasan dokter agar aman dan efektif,” ucapnya.
Eksfoliasi 28 Hari
Eksfoliasi membantu menjaga kesehatan dan kecerahan kulit dengan mengangkat sel kulit mati. Perawatan ini ideal dilakukan rutin sesuai siklus alami kulit.
Secara ideal, eksfoliasi dilakukan setiap 28 hari sekali. Rentang waktu tersebut sejalan dengan siklus regenerasi kulit manusia, di mana sel kulit mati akan digantikan oleh sel kulit baru.
Dokter Kulit di Erha Ultimate Klinik, dr Destiana Setyosunu, menjelaskan, regenerasi kulit merupakan proses alami tubuh. Hal ini yang sangat penting dalam menjaga kondisi kulit tetap sehat.
Menurutnya, proses regenerasi berfungsi mempertahankan kulit agar tetap halus, cerah, dan terawat. Namun, kemampuan regenerasi kulit tidak selalu berjalan optimal seiring pertambahan usia.
“Seiring bertambahnya usia, proses regenerasi kulit akan melambat. Akibatnya, sel-sel kulit mati dapat menumpuk di permukaan kulit,” ujar dr Destiana.
Penumpukan sel kulit mati tersebut, lanjutnya, dapat membuat kulit tampak kusam dan terasa kasar. Serta lebih rentan mengalami berbagai permasalahan kulit.
Untuk membantu proses regenerasi, salah satu metode yang dinilai efektif adalah perawatan eksfoliasi atau chemical peeling. Prosedur ini dilakukan untuk mengangkat lapisan sel kulit mati di bagian terluar kulit.
“Chemical peeling bertujuan memberi ruang bagi pertumbuhan sel kulit baru sehingga kulit tampak lebih segar dan bersih,” akunya.
Dokter spesialis kulit dan kelamin Fajar Medical Center, dr Syafruddin Amin menuturkan, eksfoliasi merupakan langkah penting dalam perawatan kulit bila dilakukan sesuai anjuran medis. Eksfoliasi atau chemical peeling tidak hanya berfungsi memperbaiki tampilan kulit, tetapi juga membantu menyamarkan garis halus, mengatasi jerawat, serta membuat kulit terasa lebih kencang dan halus.
“Eksfoliasi tidak dilakukan secara berlebihan. Frekuensi perawatan perlu disesuaikan dengan kondisi kulit masing-masing individu dan sebaiknya dikonsultasikan terlebih dahulu dengan dokter kulit,” ulasnya. (wis/edo)
FAJAR, MAKASSAR –– Banyak orang mengeluhkan jerawat yang tak kunjung membaik meski menggunakan berbagai produk skincare. Tidak ada salahnya mencoba dengan cara eksfolisasi.
Jerawat tidak selalu bisa diatasi hanya dengan perawatan dari luar. Banyak kasus, jerawat dipengaruhi oleh faktor internal yang membutuhkan penanganan medis berbeda, termasuk terapi hormon hingga penggunaan antibiotik.
Dokter spesialis kulit dan kelamin Fajar Medical Center, dr Syafruddin Amin menjelaskan,jerawat memiliki proses terbentuk yang kompleks. Istilah medisnya, patogenesis terjadinya jerawat itu ada empat faktor utama.
Faktor pertama adalah produksi sebum atau minyak berlebih dari kelenjar minyak. Faktor kedua adalah berkembangnya bakteri Propionibacterium acnes di dalam pori-pori kulit. Bakteri ini memicu peradangan sehingga jerawat menjadi merah, nyeri, hingga bernanah.
Faktor ketiga yakni penyumbatan saluran kelenjar sebum akibat penebalan dinding saluran. Sementara faktor keempat adalah pengaruh hormon, terutama hormon androgen. Kelebihan hormon ini dapat merangsang produksi minyak berlebih dan memperparah jerawat, khususnya pada remaja dan dewasa muda.
Penanganan jerawat harus disesuaikan dengan faktor penyebabnya. Jika jerawat dipicu produksi minyak berlebih, terapi difokuskan pada penghambatan sekresi kelenjar minyak.
“Kalau ada infeksi, maka diberikan antibiotik. Kalau ada penyumbatan, komedonya harus dikeluarkan. Sedangkan bila faktor hormon yang dominan, terapinya menggunakan obat anti hormon,” kata dr Syafruddin, Senin, 12 Januari.
Dokter kulit di Erha Ultimate Klinik, dr Destiana Setyosunu menambahkan,jerawat atau acne vulgaris merupakan penyakit peradangan kronis pada kelenjar pilosebasea. Jerawat ditandai dengan munculnya komedo, papul, pustul, hingga kista yang berpotensi meninggalkan bekas permanen jika tidak ditangani secara tepat.
“Jerawat dipicu oleh berbagai faktor, baik dari dalam tubuh maupun lingkungan luar. Faktor genetik, hormon, serta gaya hidup sangat memengaruhi kondisi kulit seseorang,” akunya.
Pada laki-laki, jerawat kerap dipicu kebiasaan merokok, konsumsi alkohol, kurang tidur, dan stres. Sementara pada perempuan, penggunaan kosmetik yang tidak sesuai jenis kulit serta perubahan hormonal menjelang menstruasi berperan besar dalam munculnya jerawat.
“Selain perawatan luar, jerawat akibat faktor genetik dan hormonal sering kali memerlukan terapi. Ini bawah pengawasan dokter agar aman dan efektif,” ucapnya.
Eksfoliasi 28 Hari
Eksfoliasi membantu menjaga kesehatan dan kecerahan kulit dengan mengangkat sel kulit mati. Perawatan ini ideal dilakukan rutin sesuai siklus alami kulit.
Secara ideal, eksfoliasi dilakukan setiap 28 hari sekali. Rentang waktu tersebut sejalan dengan siklus regenerasi kulit manusia, di mana sel kulit mati akan digantikan oleh sel kulit baru.
Dokter Kulit di Erha Ultimate Klinik, dr Destiana Setyosunu, menjelaskan, regenerasi kulit merupakan proses alami tubuh. Hal ini yang sangat penting dalam menjaga kondisi kulit tetap sehat.
Menurutnya, proses regenerasi berfungsi mempertahankan kulit agar tetap halus, cerah, dan terawat. Namun, kemampuan regenerasi kulit tidak selalu berjalan optimal seiring pertambahan usia.
“Seiring bertambahnya usia, proses regenerasi kulit akan melambat. Akibatnya, sel-sel kulit mati dapat menumpuk di permukaan kulit,” ujar dr Destiana.
Penumpukan sel kulit mati tersebut, lanjutnya, dapat membuat kulit tampak kusam dan terasa kasar. Serta lebih rentan mengalami berbagai permasalahan kulit.
Untuk membantu proses regenerasi, salah satu metode yang dinilai efektif adalah perawatan eksfoliasi atau chemical peeling. Prosedur ini dilakukan untuk mengangkat lapisan sel kulit mati di bagian terluar kulit.
“Chemical peeling bertujuan memberi ruang bagi pertumbuhan sel kulit baru sehingga kulit tampak lebih segar dan bersih,” akunya.
Dokter spesialis kulit dan kelamin Fajar Medical Center, dr Syafruddin Amin menuturkan, eksfoliasi merupakan langkah penting dalam perawatan kulit bila dilakukan sesuai anjuran medis. Eksfoliasi atau chemical peeling tidak hanya berfungsi memperbaiki tampilan kulit, tetapi juga membantu menyamarkan garis halus, mengatasi jerawat, serta membuat kulit terasa lebih kencang dan halus.
“Eksfoliasi tidak dilakukan secara berlebihan. Frekuensi perawatan perlu disesuaikan dengan kondisi kulit masing-masing individu dan sebaiknya dikonsultasikan terlebih dahulu dengan dokter kulit,” ulasnya. (wis/edo)





