Mengacu pada kitab Taisiru al-Aliyyul Qadir li Ikhtishari Tafsir Ibnu Katsir karya Muhammad Nasib Ar-Rifa'i, dijelaskan bahwa pada malam Lailatul Qadar, Allah SWT menurunkan Al-Qur'an secara utuh ke Baitul Izzah di langit dunia. Proses penurunan wahyu selanjutnya terjadi secara bertahap, menyesuaikan dengan berbagai peristiwa dan kondisi yang dihadapi oleh Rasulullah SAW. Ketentuan mengenai penurunan Al-Qur'an ini pun telah ditegaskan oleh Allah SWT dalam firman-Nya:
اِنَّآ اَنْزَلْنٰهُ فِيْ لَيْلَةٍ مُّبٰرَكَةٍ اِنَّا كُنَّا مُنْذِرِيْنَ
Artinya: "Sesungguhnya Kami (mulai) menurunkannya pada malam yang diberkahi (Lailatulqadar). Sesungguhnya Kamilah pemberi peringatan." (QS Ad-Dukhan: 3) Malam Turunnya Al-Qur'an (Nuzulul Qur'an) Peristiwa paling fundamental yang terjadi pada Lailatul Qadar adalah permulaan turunnya wahyu Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW. Sebagaimana firman Allah dalam Surah Al-Qadr, Al-Qur'an diturunkan secara sekaligus dari Lauhul Mahfuz ke Baitul Izzah (langit dunia) pada malam yang penuh berkah ini.
Rasulullah SAW mengalami peristiwa dahsyat saat Malaikat Jibril mendatangi beliau di Gua Hira untuk menyampaikan wahyu pertama, Surah Al-Alaq ayat 1-5. Peristiwa ini menandai titik balik peradaban manusia dari zaman kegelapan menuju cahaya Islam.
Baca Juga :
Amalan Perempuan Haid saat Malam Lailatul Qadar, Yuk Raih Keberkahannya!Salah satu ciri khas Lailatul Qadar yang dialami dan disaksikan secara spiritual oleh Rasulullah adalah turunnya malaikat dalam jumlah yang sangat banyak, termasuk Malaikat Jibril.
Para malaikat turun ke bumi untuk membawa rahmat, keberkahan, dan kedamaian bagi setiap hamba yang sedang beribadah. Kehadiran mereka menyelimuti bumi dengan ketenangan hingga terbit fajar, sebuah suasana yang sangat dirasakan oleh Rasulullah dan para sahabat saat melakukan i'tikaf di masjid. Penetapan Takdir Tahunan Dalam khazanah Islam, Lailatul Qadar juga dimaknai sebagai "Malam Penetapan". Pada malam ini, Allah SWT memerintahkan malaikat untuk mencatat rincian takdir makhluk-Nya untuk satu tahun ke depan, mulai dari urusan rezeki, ajal, hingga keberuntungan.
Rasulullah SAW mengajarkan umatnya untuk memperbanyak doa dan ibadah pada malam ini, agar ketika takdir kita sedang dicatat, kita berada dalam kondisi terbaik, sedang bersujud dan memohon ampunan kepada-Nya.
Mengingat hari ini sudah memasuki pertengahan Ramadan (16 Ramadan 1447 H), sepuluh malam terakhir sudah di depan mata. Mari kita teladani semangat Rasulullah SAW dalam beri'tikaf dan memperbanyak zikir. Jangan biarkan malam yang lebih baik dari seribu bulan ini berlalu tanpa bekas di hati kita.
(Fany Wirda Putri)
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(RUL)





