Pekanbaru, (ANTARA) - Pemerintah tengah menyiapkan instruksi presiden (inpres) untuk penyelamatan populasi Gajah Sumatera yang habitatnya terus menyusut.
Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni menyatakan inpres tersebut dibuat mengingat kondisi habitat gajah mengalami fragmentasi yang luar biasa. Dari semula terdapat 44 kantong habitat gajah di Sumatra, kini jumlahnya terus berkurang.
“Dulu ada 44 kantong gajah di Sumatra. Minggu pertama saya bekerja sebagai menteri kehutanan, tercatat tinggal 12 kantong gajah, dan satu bulan kemudian tinggal 11,” kata Raja Juli Antoni di Pekanbaru, Kamis.
Menurutnya, penyusutan kantong habitat tersebut banyak dipicu praktik ilegal di kawasan hutan yang menyebabkan habitat gajah terpecah dan terisolasi. Sebagai langkah penanganan, Kementerian Kehutanan tengah mempersiapkan inpres penyelamatan gajah Sumatra.
Kebijakan ini nantinya akan difokuskan pada upaya menghubungkan kembali kantong-kantong habitat yang terpisah. “Kami akan menghubungkan antar kantong gajah yang tersisa dan juga memperkuat konektivitas di dalam kantong habitat tersebut,” ujarnya.
Ia menegaskan populasi Gajah Sumatra saat ini berada dalam kondisi terancam punah dengan jumlah sekitar 1.200 ekor yang tersebar dari Aceh hingga Lampung. Oleh karena itu, pemerintah juga menaruh perhatian serius terhadap praktik perburuan liar yang memburu gading gajah.
“Kita perlu menyampaikan kepada masyarakat bahwa gajah ini masuk kategori endangered. Perburuan liar yang mencari gading harus terus diantisipasi,” ujarnya.
Raja Juli Antoni juga mengapresiasi upaya penegakan hukum yang dilakukan aparat kepolisian dalam menangani kejahatan terhadap satwa liar.
“Kami mengapresiasi jerih payah jajaran Kepolisian Daerah Riau. Kami berharap ini menjadi kejadian terakhir dan tidak ada lagi masyarakat yang bermain dengan eksistensi satwa liar. Negara akan hadir menindak tegas para pelakunya,” kata dia.
Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni menyatakan inpres tersebut dibuat mengingat kondisi habitat gajah mengalami fragmentasi yang luar biasa. Dari semula terdapat 44 kantong habitat gajah di Sumatra, kini jumlahnya terus berkurang.
“Dulu ada 44 kantong gajah di Sumatra. Minggu pertama saya bekerja sebagai menteri kehutanan, tercatat tinggal 12 kantong gajah, dan satu bulan kemudian tinggal 11,” kata Raja Juli Antoni di Pekanbaru, Kamis.
Menurutnya, penyusutan kantong habitat tersebut banyak dipicu praktik ilegal di kawasan hutan yang menyebabkan habitat gajah terpecah dan terisolasi. Sebagai langkah penanganan, Kementerian Kehutanan tengah mempersiapkan inpres penyelamatan gajah Sumatra.
Kebijakan ini nantinya akan difokuskan pada upaya menghubungkan kembali kantong-kantong habitat yang terpisah. “Kami akan menghubungkan antar kantong gajah yang tersisa dan juga memperkuat konektivitas di dalam kantong habitat tersebut,” ujarnya.
Ia menegaskan populasi Gajah Sumatra saat ini berada dalam kondisi terancam punah dengan jumlah sekitar 1.200 ekor yang tersebar dari Aceh hingga Lampung. Oleh karena itu, pemerintah juga menaruh perhatian serius terhadap praktik perburuan liar yang memburu gading gajah.
“Kita perlu menyampaikan kepada masyarakat bahwa gajah ini masuk kategori endangered. Perburuan liar yang mencari gading harus terus diantisipasi,” ujarnya.
Raja Juli Antoni juga mengapresiasi upaya penegakan hukum yang dilakukan aparat kepolisian dalam menangani kejahatan terhadap satwa liar.
“Kami mengapresiasi jerih payah jajaran Kepolisian Daerah Riau. Kami berharap ini menjadi kejadian terakhir dan tidak ada lagi masyarakat yang bermain dengan eksistensi satwa liar. Negara akan hadir menindak tegas para pelakunya,” kata dia.





