Sebuah fregat Iran ditorpedo oleh kapal selam Amerika Serikat di perairan internasional sepulang latihan bersama atas undangan India. Iran menyebut serangan AS itu sebagai “kekejaman di laut”.
Fregat adalah kapal perang ukuran menengah yang biasanya digunakan untuk pengawalan armada, patroli laut jauh, peperangan anti-kapal selam, dan pertahanan udara terbatas.
Kapal perang bernama IRIS Dena yang diduga tak membawa amunisi pertahanan itu ditenggelamkan torpedo kapal selam Amerika Serikat di Samudera Hindia dekat Sri Lanka pada 4 Maret 2026 pagi hari. Serangan pada kapal yang dalam perjalanan pulang setelah latihan militer itu membuat marah Iran.
“Amerika Serikat telah melakukan sebuah kekejaman di laut, sekitar 2.000 mil dari pantai Iran," kecam Menlu Abbas Araghchi di akun medsosnya, Kamis (5/3).
"Fregat Dena, yang menjadi tamu Angkatan Laut India dan membawa hampir 130 pelaut, diserang di perairan internasional tanpa peringatan,” lanjutnya.
“Ingat kata-kata saya: Amerika Serikat akan sangat menyesali preseden yang telah mereka ciptakan,” tegas Araghchi.
Kapal Pertama yang Ditorpedo AS Sejak PD IIMenhan AS Pete Hegseth mengakui pasukannya yang menenggelamkan kapal AL Iran itu.
“Di Samudera Hindia, sebuah kapal selam Amerika menenggelamkan kapal perang Iran yang mengira dirinya aman di perairan internasional. Sebaliknya, kapal itu ditenggelamkan oleh sebuah torpedo — ‘kematian senyap’. Ini adalah penenggelaman pertama kapal musuh oleh torpedo sejak Perang Dunia II,” kata Hegseth bangga.
Sri Lanka SelamatkanReuters melaporkan, otoritas Sri Lanka mengatakan 87 jenazah telah ditemukan dan dibawa ke rumah sakit Karapitiya di Galle oleh tim penyelamat militer yang merespons panggilan darurat dari kapal Dena pada Rabu pagi.
Sebanyak 32 pelaut berhasil diselamatkan dan saat ini dirawat di rumah sakit dengan luka ringan. Mereka diperkirakan bisa dipulangkan dalam waktu dekat, menurut pihak rumah sakit.
Operasi pencarian masih berlangsung untuk menemukan sekitar 10 orang yang masih hilang.
Kapal Sudah Tak TerlihatTim penyelamat Sri Lanka mengatakan ketika mereka tiba di lokasi, kapal sudah tidak terlihat lagi. Yang tampak hanya tumpahan minyak di permukaan laut dan rakit penyelamat. Mereka kemudian menemukan sejumlah orang terapung di laut dan menyelamatkannya.
Menurut pejabat Sri Lanka, kapal tersebut sebelumnya berpartisipasi dalam latihan angkatan laut yang diselenggarakan India di Teluk Benggala pada 18–25 Februari dan sedang dalam perjalanan pulang ketika diserang. Nama latihannya adalah Milan.
Pernah Mampir di IndonesiaPada November 2022, IRIS Dena pernah berlabuh di Tanjung Priok, Jakarta, dalam rangka memperkuat kerja sama keamanan dan pendidikan dengan otoritas Indonesia.
Kala itu diberitakan, IRIS Dena adalah kapal dengan tonase terbesar yang berhasil dibuat Iran. Kapal sepanjang 95 meter dan selebar 11 meter ini mampu melesat hingga 50 km/jam.
Kritik Muncul dari IndiaSerangan pada kapal perang Iran itu mendapat kritik dari analis dan tokoh di India. Antara lain mantan diplomat senior India, Kanwal Sibal.
Eks pejabat tinggi Kemlu India ini menyebut AS mengabaikan sensitivitas India sebagai pengundang fregat Dena dalam latihan multilateral bertajuk Milan.
Di akun X Sibal menulis:
Kapal Iran itu tidak akan berada di tempat tersebut jika kita tidak mengundangnya untuk berpartisipasi dalam latihan Milan. Kita adalah tuan rumahnya.
Saya diberi tahu bahwa sesuai protokol latihan ini, kapal-kapal tidak diperbolehkan membawa amunisi apa pun. Kapal itu tidak memiliki pertahanan.
Personel Angkatan Laut Iran bahkan telah berparade di hadapan presiden kita.
Serangan oleh kapal selam Amerika Serikat itu tampaknya telah direncanakan sebelumnya, karena AS mengetahui keberadaan kapal Iran dalam latihan tersebut, yang sebenarnya juga mengundang Angkatan Laut AS. Namun mereka menarik diri dari partisipasi pada menit terakhir—diduga karena telah merencanakan operasi ini sebelumnya.
Amerika Serikat telah mengabaikan sensitivitas India, karena kapal itu berada di perairan ini akibat undangan dari India.
Kita sama sekali tidak bertanggung jawab secara politik maupun militer atas serangan AS tersebut.
“Tanggung jawab” kita berada pada tataran moral dan kemanusiaan.
Sebuah pernyataan belasungkawa dari Angkatan Laut India (setelah mendapat persetujuan politik) atas jatuhnya korban jiwa dari para tamu kita yang pernah memberi hormat kepada presiden kita kiranya merupakan hal yang pantas dilakukan.




