Ponorogo, tvOnenews.com — Meski telah mendapatkan penanganan dan perawatan intensif di ruang ICU Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr. Harjono Ponorogo, Ahmad Fato'ani, warga Desa Morosari, Kecamatan Sukorejo, korban ledakan petasan maut yang terjadi di Desa Plosojenar, Kecamatan Kauman, Ponorogo, akhirnya meninggal dunia.
Upaya penyelamatan yang dilakukan tim medis RSUD dr. Harjono sudah maksimal, namun nyawa pemuda berusia 20 tahun ini tidak bisa diselamatkan. Dari hasil pemeriksaan medis, korban mengalami luka bakar hingga 36 persen, dengan luka paling parah terjadi di wajah dan leher. Bahkan pembuluh darah dan saluran pernapasan juga pecah akibat kerasnya tekanan dari ledakan petasan. Selama menjalani perawatan, korban sudah diberi alat pernapasan tambahan.
"Korban dirawat di ruang intensif di icu karena memang membutuhkan perawatan yang intensif sekali, karena sudah ada gangguan pernafasan di icu pun selama 4 hari ini pasien menggunakan alat bantu nafas, namun kondisi luka kemudian kondisi keadaan pasien pasca ledakan itu mengenai sekitar leher sehingga pembuluh darah juga jalan nafasnya terganggu," terang Sugianto, Humas RSUD dr. Harjono, saat dikonfirmasi sejumlah media.
Sementara menurut Samsi, Kepala Desa Morosari, Kecamatan Sukorejo, menjelaskan korban Ahmad Fato'ani memang selama ini diketahui beberapa kali membuat petasan. Hanya saja, tidak pernah meracik petasan di lingkungan tempat tinggalnya.
"Dari informasi anak-anak itu, korban memang sering membikin petasan, tapi lingkungan lain, kalau di Morosari malah tidak pernah sebenarnya karena teman-temannya banyak yang luar desa semua. infonya itu kan sebenarnya sudah jadi cuman mungkin bercandaan sambil merokok itu kok bilang dicoba dicoba ditunjukkan gitu," Samsi Kepala Desa Morosari.
Seperti diketahui, Minggu petang kemarin rumah milik Minten yang ada di Desa Plosojenar, Kecamatan Kauman, Ponorogo, hancur akibat petasan yang diracik Rifa Kurnia Putra (16), pemilik rumah, bersama Ahmad Fato'ani, meledak.
Rifa Kurnia Putra tewas di lokasi kejadian dengan kondisi tubuh luka parah. Sementara Ahmad Fato'ani akhirnya tewas setelah sempat mendapat perawatan intensif di RSUD dr. Harjono dengan luka di wajah, leher, dan dada mencapai 36 persen.




