Ketua Dewan Penasihat Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Jimly Asshiddiqie menyinggung posisi Indonesia dalam forum internasional BoP di tengah memanasnya situasi geopolitik global menyusul konflik antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel.
Ia menjelaskan Indonesia tidak perlu keluar dari forum tersebut, tapi menurutnya ada sejumlah langkah yang bisa dipertimbangkan pemerintah dalam menyikapi situasi global yang berkembang.
"Bukan mundur, tetap saja, kita tetap saja di situ. Ya kan? Lagi pula Donald Trump kan sudah senang sama kita ya alhamdulillah kan. Nah, cuma dari dua poin itu ya kita kurangi separuh gitu lho, ialah menunda itu," ujar Jimly kepada wartawan di Istana Kepresidenan Jakarta, Jakarta Pusat, Kamis (5/3).
Jimly juga menilai peran Indonesia sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia memiliki posisi strategis dalam meredam potensi konflik di dunia Islam, terutama yang dapat dipicu oleh perpecahan antar kelompok.
Menurutnya, Indonesia dapat mengambil peran sebagai jembatan dialog di tengah potensi konflik yang melibatkan berbagai negara dan kelompok di dunia Islam.
"Dan yang paling penting yang terakhir, kalau menurut saya ya, saya tidak tahu apa ada dialog, yang jelas Indonesia sebagai negeri muslim terbesar sekarang non-Arab, kita sudah saatnya berperan untuk bagaimana menjembatani potensi konflik adu domba dari Israel kepada dunia Islam," kata Jimly.
"Bangsa Arab dengan bangsa non-Arab, Turki, Persia atau Iran, Indonesia, dan Pakistan mudah-mudahan bisa merujukkan dunia Islam. Gitu lho, jangan nanti diadu domba, oh ini gara-gara Syiah, orang Suni harus begitu lho," katanya.
Sementara itu, Ketua Dewan Pembina Majelis Rasulullah Habib Nabil Al Musawwa menyampaikan pertemuan para tokoh agama dengan Presiden juga dimaksudkan untuk memberikan masukan terkait berbagai isu global yang sedang berkembang.
Menurutnya, Presiden ingin mendengar pandangan dari para ulama mengenai sejumlah isu internasional, termasuk terkait BoP serta dinamika konflik yang melibatkan Iran dan Amerika Serikat.
"Yang nomor satu. Tapi yang kedua mungkin beliau juga ingin mendengar dari para ulama masukan-masukan terkait perkembangan terkini, terkait BOP, mungkin juga terkait masalah Iran, dan juga apa namanya Amerika," ujarnya.
Saat ditanya mengenai pandangan pribadinya soal posisi Indonesia dalam BoP, Habib Nabil mengungkapkan bahwa dirinya cenderung menilai keanggotaan dalam forum tersebut tidak terlalu efektif sehingga perlu dipertimbangkan kembali oleh pemerintah.
"Kalau masukan dari saya, tadi kami berbeda pendapat dengan apa Ustaz Zaitun. Kalau kami cenderung kelihatannya keberadaan di BOP itu kurang efektif. Jadi mungkin perlu mungkin Bapak Presiden meninjau ulang. Mungkin kalau bisa mundur dari situ kelihatannya lebih bagus. Itu pendapat kami," terangnya.





