Emiten jasa migas PT Elnusa Tbk (ELSA) menilai kenaikan harga minyak dunia di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik, termasuk perang Israel dan Amerika Serikat dengan Iran, berpotensi membuka peluang baru bagi kegiatan hulu migas di Indonesia.
Direktur Keuangan Elnusa Nelwin Aldriansyah mengatakan kenaikan harga minyak membuat sejumlah lapangan minyak yang sebelumnya kurang ekonomis berpotensi menjadi lebih layak untuk dikembangkan. Peluang ini bisa meningkatkan bisnis utama Elnusa sebagai penyedia jasa kontraktor tambang migas.
“Dari beberapa aspek yang kami lihat, kenaikan harga minyak bagi sektor hulu migas ini bisa membuat beberapa lapangan minyak atau eksplorasi yang sebelumnya di bawah harga USD 60 per barel tidak visible untuk diekstraksi, sekarang menjadi cukup ekonomis untuk dilakukan lifting,” ujarnya.
Ia menjelaskan biaya produksi atau biaya lifting di Indonesia relatif lebih tinggi dibandingkan negara-negara di Timur Tengah. Namun dengan kenaikan harga minyak saat ini, sejumlah lapangan yang selama ini tergolong marginal berpotensi kembali dikembangkan apabila harga minyak dapat bertahan pada level tinggi.
“Lifting cost di Indonesia cukup tinggi dibandingkan Timur Tengah. Namun dengan kenaikan harga minyak sekarang dan apabila harga ini sustain, ini akan membuka peluang bagi lapangan-lapangan yang selama ini marginal,” kata Nelwin.
Menurutnya, jika aktivitas eksplorasi dan eksploitasi meningkat, maka kegiatan pengeboran atau drilling juga berpotensi meningkat. Hal ini pada akhirnya dapat memberikan dampak positif terhadap bisnis jasa migas yang dijalankan Elnusa.
“Harapan kami dengan meningkatnya kegiatan eksploitasi dan eksplorasi, aktivitas drilling bisa meningkat dan ini berimbas positif terhadap kegiatan usaha Elnusa,” ujarnya.
Dari sisi operasional, Elnusa saat ini memiliki portofolio layanan hulu migas yang cukup lengkap, mulai dari geoscience & reservoir services, drilling dan workover services, hingga well intervention services yang mendukung aktivitas eksplorasi dan produksi minyak dan gas.
Selain itu, perseroan juga memiliki berbagai fasilitas pendukung seperti unit coiled tubing, cementing units, wireline logging, hingga layanan pengujian sumur (well testing) yang menjadi bagian penting dalam kegiatan pengeboran dan produksi migas.
Dalam kinerja operasional 2025, Elnusa mencatat sejumlah aktivitas hulu migas seperti 1.298 pekerjaan wireline logging, pengujian lebih dari 16.000 sumur, serta kegiatan drilling pada sembilan sumur modular rig.
Sementara itu, dari sisi bisnis, Elnusa juga didukung portofolio kontrak yang cukup kuat. Perseroan membukukan carry forward kontrak ke 2026 sebesar Rp 11,9 triliun pada segmen hulu migas terintegrasi, mencerminkan permintaan layanan yang tetap solid di sektor tersebut.
Selain itu, Nelwin juga menyoroti dinamika geopolitik terbaru, termasuk blokade transportasi minyak di Selat Hormuz oleh Iran yang sempat memicu kekhawatiran terhadap pasokan energi global.
Ia menilai kondisi tersebut menjadi pengingat pentingnya penguatan ketahanan energi nasional, terlebih pemerintah sebelumnya menyebut cadangan bahan bakar minyak (BBM) Indonesia diperkirakan cukup untuk sekitar 20 hari.
“Ini tentu menjadi tantangan bagi ketahanan energi Indonesia. Harapan kami kondisi ini bisa mendorong adanya insentif yang lebih tinggi dari pemerintah untuk meningkatkan lifting minyak domestik,” kata dia.
Menurut Nelwin, peningkatan produksi minyak nasional juga sejalan dengan target pemerintah untuk mencapai lifting 1 juta barel per hari dalam beberapa tahun ke depan.
“Sehingga ketergantungan impor crude bisa dikurangi melalui peningkatan lifting domestik. Kegiatan tersebut tentunya juga berpotensi memberikan dampak positif bagi kegiatan usaha Elnusa,” ujarnya.





