Pantau - Wakil Ketua MPR RI Eddy Soeparno menegaskan pengembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) dan teknologi informasi di Indonesia harus didukung ketersediaan energi bersih, stabil, dan berkelanjutan agar mampu bersaing dalam ekonomi digital global.
Pernyataan tersebut disampaikan Eddy dalam keterangannya di Jakarta pada Kamis.
Ia menyampaikan hal itu saat menjadi pembicara kunci dalam agenda MPR Goes to Campus di Kampus Bina Nusantara (Binus) Bandung, Jawa Barat, pada Kamis, 4 Maret 2026.
Kebutuhan Energi Besar untuk Infrastruktur AIEddy menjelaskan transformasi digital yang mencakup artificial intelligence, big data, hingga cloud computing membutuhkan konsumsi listrik dalam jumlah besar.
Kebutuhan listrik tersebut terutama digunakan untuk operasional pusat data atau data center yang menjadi infrastruktur utama teknologi digital.
"Perkembangan teknologi seperti artificial intelligence, big data, dan cloud computing membutuhkan energi dalam jumlah sangat besar. Jika kita ingin Indonesia menjadi pemain penting dalam ekonomi digital global, maka kita harus memastikan pasokan energi yang cukup, stabil, dan semakin bersih.", ungkapnya.
Ia menilai tanpa dukungan pasokan energi yang memadai, ambisi Indonesia menjadi pemain utama dalam ekonomi digital akan sulit tercapai.
Eddy juga menyebut sejumlah negara yang menjadi pusat pengembangan AI global mulai memprioritaskan penggunaan energi terbarukan sebagai sumber utama operasional pusat data mereka.
"Perusahaan teknologi global seperti Google, Microsoft, hingga Amazon menempatkan energi terbarukan sebagai fondasi operasional data center mereka. Ini soal keberlanjutan lingkungan, sekaligus juga soal efisiensi, stabilitas energi, dan daya saing ekonomi.", ujarnya.
Potensi Energi Terbarukan IndonesiaEddy menilai Indonesia memiliki modal besar untuk mendukung pengembangan teknologi digital karena potensi energi terbarukan nasional sangat besar.
Ia menyebut potensi energi terbarukan Indonesia mencapai lebih dari 3.600 gigawatt yang berasal dari berbagai sumber seperti tenaga surya, hidro, panas bumi, dan angin.
"Indonesia memiliki potensi energi terbarukan lebih dari 3.600 gigawatt dari berbagai sumber. Ini adalah modal besar untuk menjadikan Indonesia sebagai hub ekonomi digital sekaligus pusat pengembangan teknologi di kawasan.", kata Eddy.
Ia mendorong percepatan investasi serta reformasi kebijakan di sektor energi terbarukan agar mampu menopang pertumbuhan industri digital dan AI secara berkelanjutan.
Peran Kampus dan Peluang Ekonomi BaruEddy juga menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, industri, dan perguruan tinggi dalam membangun ekosistem teknologi nasional.
Menurutnya kampus memiliki peran penting dalam menyiapkan talenta digital masa depan sekaligus mengembangkan riset teknologi dan energi.
"Kampus seperti Binus memiliki peran penting dalam menyiapkan talenta-talenta digital masa depan. Di saat yang sama, riset di bidang energi terbarukan dan teknologi informasi harus berjalan beriringan agar Indonesia tidak hanya menjadi pasar produk teknologi, tetapi juga pencipta inovasi.", tuturnya.
Ia menambahkan percepatan transisi energi juga membuka peluang ekonomi baru bagi Indonesia.
"Transisi energi bukan hanya agenda lingkungan, tetapi juga agenda ekonomi. Dengan mengembangkan energi terbarukan untuk menopang ekosistem teknologi digital, kita dapat menciptakan industri baru, lapangan kerja baru, dan meningkatkan daya saing Indonesia di masa depan.", pungkasnya.




