JAKARTA, KOMPAS.com – Pemerintah Kota (Pemkot) Jakarta Barat bersama Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM) DKI Jakarta menemukan jajanan takjil yang mengandung pewarna tekstil berbahaya dalam inspeksi mendadak (sidak) di sentra takjil Jalan Panjang, Kebon Jeruk, Jakarta Barat, Kamis (5/3/2026).
Temuan tersebut berasal dari dua sampel makanan yang positif mengandung Rhodamin B, zat pewarna tekstil yang dilarang digunakan pada pangan.
Wali Kota Jakarta Barat Iin Mutmainnah mengatakan, sidak dilakukan untuk memastikan keamanan pangan yang dijual kepada masyarakat selama bulan Ramadhan, terutama di kawasan yang menjadi pusat penjualan takjil.
Baca juga: Hati-hati Beli Takjil Warna Mencolok, Ini Ciri Bahaya yang Diingatkan BBPOM DKI
"Memang Jalan Panjang ini sangat ramai dan masyarakat juga tadi banyak membeli. Dan di sini terlihat pedagang-pedagang memang banyak. Kami fokus untuk melihat apakah makanan yang berupa takjil ini layak dikonsumsi oleh masyarakat," ujar Iin di lokasi, Kamis (5/3/2026).
Menurut Iin, konsumsi makanan selama Ramadhan meningkat signifikan sehingga pengawasan keamanan pangan perlu diperketat.
"Kami concern untuk memeriksa ini dalam rangka keamanan pangan, sehingga masyarakat bisa terjamin dalam memenuhi kebutuhan selama bulan Ramadan," ucapnya.
Kepala BBPOM Jakarta Sofiyani Chandrawati menjelaskan, tim gabungan melakukan pengambilan sampel makanan bersama petugas dari Puskesmas Kebon Jeruk. Dari total 65 sampel makanan yang diuji di lokasi, dua di antaranya terbukti mengandung Rhodamin B.
"Total dari 65 sampel total yang di-sampling dan diuji itu ada dua yang mengandung Rhodamin B," kata Sofie.
Sofiyani mengungkapkan, dua makanan yang positif mengandung zat berbahaya tersebut adalah jajanan tradisional berupakue mangkok dan bolu kukus.
Menurut dia, pedagang menggunakan pewarna tekstil untuk menghasilkan warna merah muda cerah yang dinilai lebih menarik bagi pembeli.
Baca juga: Dari Stan Takjil, Siswa SLB Bekasi Belajar Mandiri dan Hapus Stigma
Menindaklanjuti temuan tersebut, petugas langsung menyita makanan dari etalase pedagang untuk dimusnahkan agar tidak sampai dikonsumsi masyarakat.
"Jadi ini tadi sudah di-take out dari etalasenya untuk dimusnahkan. Dan kami tentu menelusuri lebih lanjut di mana penjual pedagang besarnya, tujuannya untuk memutus rantai distribusinya," ujarnya.
Imbauan kepada masyarakatSofiyani mengimbau masyarakat agar lebih teliti saat membeli takjil, terutama dengan memperhatikan warna makanan yang terlalu mencolok.
"Kadang-kadang kita memang melihat warna mencolok seperti itu tertarik ya. Pilih yang warnanya biasa saja, mudah-mudahan enggak aman tanpa pewarna tekstil," imbaunya.
Selain itu, ia juga mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai makanan yang diduga mengandung formalin, seperti mi.





