Gamma Waswas Biaya Energi Naik Imbas Konflik Timteng, Pemerintah Diminta Mitigasi

bisnis.com
3 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, JAKARTA — Gabungan Industri Pengerjaan Logam dan Mesin Indonesia (Gamma) menilai konflik geopolitik Timur Tengah berpotensi memberi tekanan serius pada industri manufaktur nasional, khususnya sektor logam dan mesin.

Ketua Umum Gamma Dadang Asikin mengatakan, ketegangan yang melibatkan Amerika Serikat (AS) dan Iran dinilai dapat mengganggu pasokan energi global. Kawasan tersebut merupakan salah satu produsen utama minyak dan gas dunia yang menopang kebutuhan energi berbagai negara.

“Gamma memandang dampak konflik geopolitik Timur Tengah harus disikapi serius oleh pemerintah dan pelaku usaha manufaktur,” ujar Dadang kepada Bisnis, Kamis (5/3/2026). 

Dia menjelaskan, gangguan di Selat Hormuz berisiko memicu lonjakan harga minyak dunia. Terlebih, sejumlah negara seperti Jepang, Korea Selatan, India, China, dan Indonesia memiliki ketergantungan tinggi terhadap jalur tersebut.

Sekitar 20% perdagangan minyak melewati Selat Hormuz. Kondisi ini dinilai dapat memengaruhi harga BBM domestik jika distribusi terganggu.

“Kekhawatiran utama pelaku industri khawatir terhadap kenaikan biaya energi dan logistik, terganggunya suplai bahan baku yang impornya melalui jalur konflik, pergeseran permintaan di pasar ekspor yang bergejolak,” ujarnya.

Baca Juga

  • Timur Tengah Bergejolak, Industri Furnitur Bidik Pasar Alternatif India-Afrika
  • Industri Furnitur-Mamin Diminta Cari Alternatif Pasar Kala Timur Tengah Memanas
  • Industri Petrokimia Tangguhkan Penjualan Imbas Konflik Timur Tengah

Ketergantungan pada energi impor membuat biaya operasional industri berpotensi meningkat apabila konflik berkepanjangan. Industri logam dan mesin termasuk sektor yang sensitif terhadap fluktuasi harga energi.

Selain itu, ketidakpastian global juga dapat mendorong kenaikan biaya logistik. Tarif pengiriman dan waktu distribusi yang lebih panjang akan memengaruhi struktur biaya produksi dan ekspor.

Pelaku industri tetap diminta melakukan langkah antisipatif, seperti efisiensi energi dan penataan ulang rantai pasok menjadi strategi utama untuk meredam risiko.

“Pemerintah perlu memastikan ketahanan pasokan energi nasional, termasuk diversifikasi sumber energi, peningkatan cadangan strategis, dan percepatan transisi energi terbarukan guna mengurangi ketergantungan pada energi impor yang rentan terhadap gejolak,” jelasnya.

Pihaknya juga akan melakukan diversifikasi pasar ekspor serta dialog intensif dengan pemerintah. Sementara itu, penguatan hilirisasi, insentif bahan baku strategis, dan peningkatan penggunaan produk dalam negeri dinilai penting untuk menjaga daya tahan industri di tengah konflik global.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Remaja Diduga Tertembak Polisi di Makassar, Polri Pastikan Proses Hukum Berjalan
• 2 jam laluokezone.com
thumb
Perang di Iran Membuka Mata: Sistem Bencana Digital Indonesia Sudah Siap?
• 12 jam laludetik.com
thumb
Pemkab Situbondo buka pos pengaduan pekerja migran di TImur Tengah
• 43 menit laluantaranews.com
thumb
Donald Trump Tak Peduli Iran Tampil di Piala Dunia 2026
• 15 jam lalucelebesmedia.id
thumb
Korban Tewas Perang Akibat Serangan AS-Israel di Iran Meningkat Menjadi 926 Orang
• 16 jam laluviva.co.id
Berhasil disimpan.