Penulis: Redaksi TVRINews
TVRINews, Jakarta
Ekonom Universitas Indonesia (UI) Fithra Faisal Hastiadi menilai pertumbuhan kuat penerimaan pajak di awal tahun 2026 sebagai bukti nyata keberhasilan reformasi penerimaan negara. Menurutnya, capaian positif pada Januari dan Februari tersebut mencerminkan aktivitas ekonomi domestik yang tetap solid sekaligus memperlebar ruang fiskal pemerintah dalam menghadapi tantangan ekonomi global.
“Dalam hal ini kita bisa melihat adanya indikasi perbaikan dari sisi reformasi penerimaan di Indonesia. Selain itu, kinerja penerimaan perpajakan yang kuat di awal tahun juga mencerminkan bahwa konsumsi dan aktivitas ekonomi domestik tetap terjaga,” ujar Fithra Faisal Hastiadi, Kamis, 5 Maret 2026.
Data Kementerian Keuangan menunjukkan pendapatan negara tumbuh 9,5 persen pada Januari dan meningkat menjadi 12,8 persen pada Februari 2026. Fithra menegaskan bahwa konsistensi dalam menjalankan digitalisasi administrasi dan sistem Coretax sangat penting untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi di tengah fluktuasi harga minyak dunia.
"Karena itu, reformasi penerimaan harus terus dijaga konsistensinya. Dengan basis penerimaan yang lebih kuat, ruang fiskal pemerintah juga akan semakin besar untuk menjaga stabilitas dan mendukung pertumbuhan ekonomi,” kata Fithra.
Ia menambahkan, sinergi antara reformasi perpajakan, investasi melalui Danantara, serta hilirisasi komoditas akan menjadi kunci untuk mencapai target pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,4 persen tahun ini.
“Untuk mencapai target pertumbuhan 5,4 persen, seluruh sumber pendorong pertumbuhan perlu diaktifkan secara bersamaan. Tidak ada satu kebijakan yang dapat bekerja sendiri, sehingga berbagai instrumen kebijakan perlu berjalan secara terkoordinasi,” pungkasnya.
Editor: Redaktur TVRINews





