Pasar Tasik yang Tak Lagi Berisik Jelang Lebaran

kompas.id
2 jam lalu
Cover Berita

Suara tawar-menawar memecah keheningan pagi di kawasan Jalan Cideng Timur, Jakarta Pusat, atau lebih tepatnya di Pasar Tasik Cideng. Keriuhan itu biasanya semakin ramai saat mendekati Idul Fitri. Namun, pada tahun ini keriuhan itu sedikit berkurang dibarengi dengan penurunan omzet penjualan para pedagang.

Sejak pukul 03.00 WIB, Ade sudah mulai bersiap menjajakan dagangannya. Ia bersama kerabatnya berangkat sejak pukul 23.00 WIB dari kediamannya di Soreang, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Ade membawa sekitar 2.000 potong pakaian dengan berbagai jenis model. Ia berharap nasib baik bisa bersamanya hari itu.

Lalu-lalang pembeli dan pedagang mulai ramai sekitar pukul 06.00 WIB. Warga harus berbagi ruang dengan deretan mobil yang saling berdempet. Mobil-mobil itu diubah menjadi kios yang memajang berbagai rupa pakaian. Walau ruang gerak warga terbatas, setidaknya masih lebih leluasa dari tahun sebelumnya.

”Tahun ini tidak seramai tahun kemarin. Biasanya kalau belanja jelang Lebaran seperti ini mau bergerak pun sulit,” ujar Ade, Kamis (5/3/2026).

Penurunan jumlah pembeli pun berdampak pada penghasilannya. Tahun ini Ade mengaku omzetnya hanya sekitar Rp 50 juta per hari, turun dari tahun sebelumnya yang bisa mencapai Rp 100 juta per hari. Untuk mengurangi risiko, Ade pun memangkas produksi pakaiannya. Hasil produksinya itu hanya ia jual di Pasar Tasik Cideng.

Pada saat momen Ramadhan ini Ade menjelaskan ada dua periode ramainya pembeli, yakni saat sebelum Ramadhan dan sebelum Idul Fitri. Saat sebelum Ramadhan, para pembeli mayoritas berasal dari kota-kota di luar Pulau Jawa, seperti Gorontalo, Kendari, Aceh, dan Bengkulu. Para pembeli ini biasanya merupakan pedagang yang memanfaatkan momentum Lebaran.

Lalu saat menjelang Idul Fitri, para pembeli didominasi oleh warga yang berasal dari Jabodetabek. Pakaian yang dibeli biasanya untuk digunakan pribadi saat Lebaran atau dijual kembali dengan skala pasar yang lebih kecil.

Penurunan omzet juga dirasakan Bayu, pedagang asal Cilacap, Jawa Tengah. Sejak 2017 Bayu sudah berdagang di Pasar Tasik Cideng. Bayu sempat mengalami relokasi dari bekas lahan sengketa hingga saat ini di Jalan Cideng Timur. Dari semenjak ia berjualan di Pasar Tasik Cideng, menurut dia, tahun ini menjadi salah satu tahun yang menantang. Penjualannya yang bisa mencapai Rp 80 juta sampai Rp 100 juta per hari pada masa Ramadhan kini hanya mencapai Rp 30 juta per hari.

Bayu, penjual asal Cilacap, Jawa Tengah.

Ade, penjual asal Soreang, Kabupaten Bandung, Jawa Barat.

Gozali, Andi, dan Sayani (kiri ke kanan), pedagang asal Lebak, Banten.

Bayu menduga penurunan ini diakibatkan maraknya jual-beli melalui platform daring. Walaupun demikian, Bayu memilih tidak mendagangkan pakaiannya secara daring. Ia lebih nyaman berjualan dengan tatap muka dan tawar-menawar secara langsung.

”Tahun ini yang beli menurun, Mas. Penjualannya sekarang lebih banyak bergantung ke pelanggan lama saja. Kalau pembeli baru sudah sulit,” katanya.

Walau tidak seramai dulu, Pasar Tasik Cideng masih menjadi tempat primadona bagi para pencari pakaian berkualitas dengan harga murah. Pakaian yang dijual pun mengikuti tren saat ini. Jika ingin berkunjung, Pasar Tasik Cideng hanya buka pada Senin dan Kamis, mulai dari pukul 06.00 WIB hingga 11.00 WIB.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Makassar-Kemenhub Percepat Revitalisasi Terminal Daya
• 21 jam lalurepublika.co.id
thumb
Pemerintah Tingkatkan Kewaspadaan untuk Lindungi PMI di Timur Tengah
• 6 jam lalutvrinews.com
thumb
MKMK Sidangkan 3 Laporan soal Etik Adies Kadir, Semuanya Tak Diterima
• 8 jam lalukumparan.com
thumb
Geliat Ekosistem Digital, Konektivitas Bisnis Platform Lifestyle Domestik Kian Unjuk Gigi
• 9 jam laluintipseleb.com
thumb
5 Kebiasaan yang Tidak Akan Dilakukan Oleh Perempuan Berkelas Menurut Ahli
• 3 jam lalubeautynesia.id
Berhasil disimpan.